Dosa kepada Sesama Manusia Cenderung Lebih Rumit, Begini Kata Imam Al Ghazali
RADARPEKANBARU.COM - Dosa menjadi perbuatan yang kerap dilakukan manusia. Pelanggaran terhadap aturan Allah SWT ini dilakukan dari tingkat paling ringan hingga berat. Imam Al-Ghazali menjelaskan, secara umum dosa terbagi menjadi tiga jenis, yakni dosa karena meninggalkan kewajiban kepada Allah, dosa antara hamba dengan Allah, dan dosa yang berkaitan dengan sesama manusia.
Dalam kitab Minhajul Abidin, Imam Al-Ghazali menegaskan dosa yang menyangkut hak manusia merupakan yang paling rumit penyelesaiannya karena tidak cukup hanya dengan bertobat kepada Allah, tetapi juga menuntut pengembalian hak atau permohonan maaf kepada pihak yang telah dizalimi apabila memungkinkan.
mam Al-Ghazali menjelaskan, secara garis besar ada tiga jenis dosa. Dosa yang paling rumit adalah dosa di antara manusia. Jenis dosa pertama, meninggalkan segala apa yang diwajibkan oleh Allah SWT, seperti sholat, puasa, zakat, membayar kafarat (tebusan dan denda), dan lain yang lainnya. Maka hendaknya manusia membayar atau mengqadha apa yang kamu tinggalkan itu sebisa mungkin sesuai kemampuan.
Kedua, dosa antara kamu dengan Allah, seperti dosa meminum minuman keras, terlena dalam belaian syahwat, memakan riba, dan yang semacamnya. Untuk dosa seperti ini hendaknya manusia menyesali perbuatan itu dan menetapkan hati untuk tidak mengulangi lagi perbuatan yang sama selama-lamanya.
Ketiga, dosa dengan sesama manusia, ini lebih rumit dan lebih sulit. Ada beberapa tingkatan dosa ini. Terkadang terjadi pada harta, jiwa, harga diri, kehormatan dan agama.
Pada dosa yang menyangkut harta benda dan kekayaan, maka wajib bagi manusia untuk mengembalikan kepada pemiliknya, jika itu memungkinkan. Jika tidak sanggup untuk melakukannya karena tidak punya dan fakir, maka dia harus meminta dihalalkan kepada pemiliknya. Jika tidak sanggup melakukannya karena orangnya telah menghilang atau meninggal dunia, jika memungkinkan bersedekah untuknya, maka lakukanlah.
Jika sedekah untuknya juga tidak memungkinkan, maka perbanyaklah berbuat baik dan kembalikanlah urusan itu kepada Allah, dan meminta belas kasihan serta merendahkan diri di hadapan Allah agar Allah membuat pemilik harta yang telah diambil itu mau merelakannya pada hari kiamat kelak.
Dosa yang berkaitan dengan jiwa, yaitu membunuh manusia lain, maka dia dapat menebusnya dengan hukuman balasan (qisas) atau menyerahkan diri kepada walinya agar mereka melakukan hukuman qisas atau memaafkan dia. Jika dia tidak sanggup melakukannya maka kembalikanlah kepada Allah dan memohon dengan memelas agar Allah membuat orang yang telah dia bunuh itu merelakan pada hari kiamat kelak.
Dosa jika seseorang melukai harga diri orang lain seperti menceritakan keburukannya atau berdusta dan mencercanya, maka (si pendosa) wajib untuk menyatakan kebohongan itu di hadapan orang yang telah dilukai perasaannya. Dia meminta agar orang itu mau menghalalkan perbuatan yang telah kamu lakukan.
Ini dilakukan jika dia tidak takut bahwa ia akan bertambah marah atau akan terjadi gejolak fitrah, karena mengungkapkan itu atau menyatakan kembali. Jika takut hal itu akan terjadi maka kembalikan kepada Allah agar Allah membuat orang itu merelakan dan memberikan kebaikan yang banyak baginya sebagai gantinya, juga hendaknya kamu memperbanyak mohon ampun kepada Allah untuknya.
Bagi seorang hamba yang telah menyerang atau menodai kehormatan orang lain, misalnya melanggar kepercayaan orang lain dengan berbuat jahat pada anak atau istri orang tersebut. Maka tidak disarankan untuk mengungkapkan dosa semacam itu pada wali atau suami orang itu. Ini untuk menghindari kemungkinan terjadinya permusuhan yang lebih besar.
Dalam situasi seperti ini seorang pendosa harus berdoa kepada Allah bagi korban perbuatannya. Namun jika dirasa akan aman dari kebencian amukan, si pendosa bisa saja mengungkapkan kasusnya dan meminta kepada wali atau suami orang itu untuk memaafkan perbuatan jahatnya. Ini guna mencegah terjadinya kegemparan yang lebih besar dan balas dendam.
Sedangkan dosa terkait urusan agama seperti mengkafirkan seseorang, menudingnya berbuat bid'ah atau sesat, maka itu adalah perkara yang paling sulit. Dalam hal ini, dia harus mengungkapkan terus terang kebohongan tuduhan itu di depan orang yang bersangkutan dan meminta orang itu untuk memaafkan jika itu memungkinkan. Namun jika tidak mampu melakukannya karena suatu alasan maka hendaknya si pendosa memohon belas kasihan kepada Allah dan menyesali semua perbuatan itu agar dia membuat korban tuduhan kamu bisa memaafkan kamu.
Dari berbagai penjelasan di atas bisa disimpulkan bahwa jika memungkinkan untuk meminta kerelaan atau maaf dari orang yang telah kamu zalimi, maka lakukanlah. Namun jika hal itu tidak memungkinkan hendaknya kamu kembali kepada Allah dengan memohon belas kasih-Nya. Juga berdoa dengan penuh penyesalan, diiringi sedekah memohon keridhoan dari-Nya agar Dia membuat orang yang telah kamu zalimi itu mau memaafkan kamu. Selebihnya hal itu bergantung kepada kehendak Allah pada hari kiamat nanti.
Imam Al-Ghazali mengingatkan agar berharaplah kepada Allah sebab dengan rahmat dan kasih-Nya yang tidak terbatas Allah akan membuat orang yang menuntut kamu menjadi puas dan senang kepada kamu, ketika dia menemukan kejujuran dalam hati kamu (sebagai orang yang berdosa) serta keinginan tulus kamu untuk meminta maaf.(rep)
Begini Islam Mengajarkan Umat Mencintai Lingkungan dan Seluruh Makhluk
RADARPEKANBARU.COM - Islam tidak hanya mengajarkan m.
Islam Memandang Pelestarian Alam sebagai Upaya Menyelamatkan Nyawa Manusia
RADARPEKANBARU.COM - Menjaga.
Pelajaran dari Kekeringan Tujuh Tahun pada Masa Nabi Yusuf dalam Alquran
RADARPEKANBARU.COM - Jauh sebelum ilmu pengetahuan m.
Dosa Mengeraskan Hati Hingga Hitam Pekat, Hilang Sudah Kenikmatan Beribadah
RADARPEKANBARU.COM - Dosa yang terus-menerus dilakuk.
Rasulullah Tegaskan Safar Bukan Bulan Sial, Ini Penjelasan Hadits dan Pandangan Ulama
RADARPEKANBARU.COM - Anggapan bahwa bulan.








