• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
  • Home
  • Politik
    • Kabupaten Kuansing
    • Kabupaten Rokan Hilir
    • Kabupaten Rokan Hulu
    • Kota Pekanbaru
    • Kota Dumai
    • Kabupaten Siak
    • Kabupaten Pelalawan
    • Kabupaten Kampar
    • Kabupaten Indragiri Hulu
    • Kabupaten Indragiri Hilir
    • Kabupaten Bengkalis
    • Kabupaten Kepulauan Meranti
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Parlemen
  • Olahraga
  • Nasional
  • Riau
    • fokus riau
  • More
    • Hukrim
    • Life Style
    • Dakwatuna
    • Opini
    • Video
    • Pilihan Editor
    • Terpopuler
    • Galeri
    • Indeks
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
  • Politik
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Parlemen
  • Olahraga
  • Nasional
  • Riau
  • Hukrim
  • Life Style
  • Dakwatuna
  • Opini
  • Video
  • Kabupaten Kepulauan Meranti
  • Kabupaten Bengkalis
  • Kabupaten Indragiri Hilir
  • Kabupaten Indragiri Hulu
  • Kabupaten Kampar
  • Kabupaten Pelalawan
  • Kabupaten Siak
  • Kota Dumai
  • Kota Pekanbaru
  • Kabupaten Rokan Hulu
  • Kabupaten Rokan Hilir
  • Kabupaten Kuansing
  • fokus riau
  • Pilihan Editor
  • Terpopuler
  • Indeks
Masukkan Kata Kunci atau ESC Untuk Keluar
PILIHAN +INDEKS
Darmilis Dorong Transformasi Zakat Riau, BAZNAS Diharapkan Jadi Penggerak Kemandirian Umat
Dibaca : 1811 Kali
Tirta Meyrizka Lubis Bikin Bangga Riau, Bersinar di Ajang Duta Muslimah Preneur Indonesia 2026
Dibaca : 4142 Kali
Tingkatkan Mutu Pendidikan, SMKN 1 Tapung Hulu Siapkan Lulusan Siap Kerja dan Siap Membuka Lapangan Pekerjaan
Dibaca : 4142 Kali
SMAS Adven Pasir Putih Mulai Buka PPDB 2026/2027, Perkuat Pendidikan Karakter dan Akademik
Dibaca : 4105 Kali
PPDB 2026/2027 Dibuka, SMAN 6 Tapung Fokus Tingkatkan Mutu Pendidikan dan Prestasi Siswa
Dibaca : 4210 Kali

  • Home
  • Dakwatuna

Benarkah Para Khalifah Bani Umayyah Perintahkan Melaknat Ali Bin Abi Thalib dan Ahlul Bait?

Redaksi Radarpku

Sabtu, 19 September 2026 08:59:30 WIB
Cetak
Benarkah Para Khalifah Bani Umayyah Perintahkan Melaknat Ali Bin Abi Thalib dan Ahlul Bait?

RADARPEKANBARU.COM - Setiap kali terjadi suatu peristiwa, atau sebuah topik dan perdebatan mengenai persoalan fikih, masalah sejarah, maupun sosok penting yang memiliki pengaruh besar ramai diperbincangkan di media sosial, pendapat yang muncul biasanya beragam.

Perbedaan itu antara lain terjadi karena orang-orang mengemukakan kisah berdasarkan beragam sumber sejarah Islam, sementara para penulisnya memiliki latar belakang, tujuan, kecenderungan, pemikiran, dan afiliasi yang berbeda-beda.

Akibatnya, sering kali muncul generalisasi dan pandangan yang bersifat stereotip. Hal ini juga terjadi ketika membahas sebuah peristiwa sejarah pada masa lalu maupun persoalan yang berkembang saat ini.

Salah satu contohnya adalah pembicaraan mengenai tuduhan bahwa para khalifah Bani Umayyah mencela Ahlul Bait dan Ali bin Abi Thalib RA hingga masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz, yang kemudian disebut-sebut menghentikan praktik tersebut. Benarkah demikian?

Sekjen Persatuan Ulama Islam se-Dunia, Syekh Ali Muhammad ash-Shallabi, memaparkan hal ini dalam penjelasan panjang lebar, yang dikutip dari laman resminya, Kamis (17/9/2026).

Ia mengatakan dalam sejumlah kitab sejarah disebutkan bahwa para khalifah dan gubernur dari Bani Umayyah sebelum Umar bin Abdul Aziz biasa mencela Ali RA.

Namun, riwayat yang disebutkan Ibnu Sa'ad mengenai hal ini tidak sahih.

Ibnu Sa'ad berkata:

Ali bin Muhammad meriwayatkan dari Luth bin Yahya, dia berkata, “Para pemimpin Dinasti Bani Umayyah sebelum masa Umar bin Abdul Aziz mencela-cela seorang pria (Ali bin Abi Thali) RA, lalu saat tiba masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz, dia menghentikannya.

Al-Khaza’i berkata:

“Ketika engkau menjadi pemimpin, engkau tidak mencela Ali,

tidak menebar ketakutan kepada orang yang tak bersalah,

dan tidak mengikuti perkataan orang-orang yang durhaka.

Engkau menyampaikan kebenaran yang nyata,

sebab tanda-tanda petunjuk akan semakin jelas

ketika kebenaran itu disampaikan.

Engkau membuktikan kebaikan dari apa yang engkau ucapkan

melalui apa yang engkau lakukan,

hingga seluruh kaum Muslimin pun merasa ridha.

Riwayat tersebut lemah. Ali bin Muhammad yang menjadi perawi dalam sanadnya adalah al-Mada'ini, yang dinilai lemah. Gurunya, Luth bin Yahya, bahkan sangat lemah.

Yahya bin Ma'in mengatakan tentangnya, “Tidak terpercaya.”

Abu Hatim menilainya “matruk al-hadits” atau ditinggalkan hadisnya.

Ad-Daraquthni mengatakan, “Seorang ahli sejarah yang lemah.”

Dalam Al-Mizan, ia disebut sebagai seorang ahli sejarah yang rusak riwayatnya dan tidak dapat dipercaya. Sebagian besar riwayatnya berasal dari perawi-perawi yang lemah, binasa, dan majhul.

Tuduhan terhadap Muawiyah RA

Muawiyah RA disebut memerintahkan masyarakat untuk mencela dan melaknat Ali RA di atas mimbar-mimbar masjid.

Namun, klaim tersebut tidak memiliki dasar yang kuat.

Yang lebih memprihatinkan, sebagian peneliti justru mengambil tuduhan tersebut tanpa mengujinya melalui kritik dan analisis.

Akibatnya, tuduhan itu kemudian berkembang menjadi sesuatu yang dianggap sebagai fakta yang tidak lagi boleh diperdebatkan oleh sebagian kalangan.

Padahal, tidak pernah terbukti melalui riwayat yang sahih bahwa Muawiyah RA memerintahkan hal tersebut.

Karena itu, riwayat-riwayat yang terdapat dalam karya ad-Damiri, al-Ya'qubi, dan Abu al-Faraj al-Ashfahani tidak dapat dijadikan sandaran.

Sejarah yang lebih kuat justru menunjukkan hal yang berbeda, yakni penghormatan dan penghargaan Muawiyah RA kepada Amirul Mukminin Ali RA dan Ahlul Bait yang suci.

Kisah tentang Ali RA dilaknat di atas mimbar-mimbar Bani Umayyah juga tidak sesuai dengan logika rangkaian peristiwa maupun karakter pihak-pihak yang terlibat dalam konflik tersebut.

Jika kita kembali kepada kitab-kitab sejarah yang ditulis pada masa yang dekat dengan pemerintahan Bani Umayyah, kita tidak menemukan keterangan mengenai hal tersebut.

Kisah itu justru ditemukan dalam karya-karya sejarah yang ditulis pada masa yang lebih kemudian, khususnya ketika Bani Abbasiyah berkuasa.

Menurut penulis, sebagian riwayat tersebut dimaksudkan untuk merusak citra Bani Umayyah di mata masyarakat Muslim.

Al-Mas'udi dalam Muruj adz-Dzahab dan sejumlah penulis lainnya turut memuat kisah tersebut. Riwayat itu kemudian masuk ke dalam sebagian kitab sejarah Ahlusunah.

Namun, tidak terdapat riwayat sahih dan tegas yang dapat menjadi dasar untuk membenarkan klaim tersebut.

Sebuah klaim sejarah harus memenuhi syarat validitas periwayatan, sanad yang terbebas dari cacat, serta matan yang tidak bermasalah.

Para peneliti dan sejarawan tentu memahami bobot sebuah riwayat berdasarkan standar tersebut.

Muawiyah RA juga jauh dari tuduhan semacam itu berdasarkan berbagai riwayat yang menunjukkan keutamaannya dalam agama. Ia dikenal memiliki perjalanan hidup yang baik di tengah umat. Sejumlah sahabat memujinya, demikian pula para tabi'in terbaik.

Mereka memberikan kesaksian mengenai agama, ilmu, keadilan, kesantunan, serta berbagai sifat baik yang dimilikinya.

Sifat santun Muawiyah RA

Hal tersebut telah terbukti dalam diri Muawiyah RA. Karena itu, sangat sulit dibayangkan seseorang dengan karakter dan perjalanan hidup seperti itu memerintahkan masyarakat untuk melaknat Ali RA dari atas mimbar.

Siapa pun yang mempelajari perjalanan Muawiyah RA dalam memimpin pemerintahan, serta mengetahui sifat santun, pemaaf, dan kecakapannya dalam mengatur rakyat, akan melihat bahwa tuduhan tersebut merupakan kebohongan besar terhadap dirinya.

Muawiyah RA bahkan dikenal memiliki kesantunan yang telah menjadi perumpamaan dan teladan bagi generasi setelahnya.

Saya telah menjelaskan secara lebih rinci mengenai sifat santun dalam kepribadian Muawiyah pada pembahasan sebelumnya.

Hadis dalam Shahih Muslim

Adapun hadis dalam Shahih Muslim yang dijadikan dasar untuk mendukung tuduhan tersebut, sebenarnya tidak menunjukkan apa yang mereka klaim.

Diriwayatkan dari Amir bin Sa'ad bin Abi Waqqash, dari ayahnya, ia berkata, “Muawiyah bin Abi Sufyan bertanya kepada Sa'ad, “Apa yang menghalangimu untuk mencela Abu Turab?”

Sa'ad menjawab, “Selama aku mengingat tiga perkara yang pernah disampaikan Rasulullah SAW kepadanya, aku tidak akan pernah mencelanya. Karena memiliki salah satu dari tiga keutamaan tersebut lebih aku cintai daripada unta merah.”

Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa perkataan Muawiyah tersebut tidak secara tegas menunjukkan bahwa ia memerintahkan Sa'ad untuk mencela Ali RA.

Menurut an-Nawawi, Muawiyah hanya menanyakan alasan yang membuat Sa'ad tidak mencelanya. Seakan-akan ia berkata, “Apakah engkau menahan diri karena sikap wara', karena rasa hormat kepadanya, atau karena alasan lainnya?”

Jika Sa'ad menahan diri karena sikap wara' dan penghormatannya kepada Ali RA, maka menurut an-Nawawi, Sa'ad telah melakukan tindakan yang benar dan baik.

Ada kemungkinan pula bahwa saat itu Sa'ad berada di tengah kelompok orang yang mencela Ali RA, tetapi ia sendiri tidak ikut mencela. Ia tidak mampu mengingkari mereka secara terbuka. Karena itu, Muawiyah menanyakan alasan Sa'ad tidak melakukan hal yang sama.

Para ulama juga memberikan kemungkinan penafsiran lain. Maksud pertanyaan tersebut bisa saja: “Apa yang menghalangimu untuk menyalahkannya dalam persoalan pandangan dan ijtihadnya, serta menjelaskan kepada masyarakat bahwa pandangan dan ijtihad kami lebih tepat, sedangkan ia keliru?”

Abu al-Abbas al-Qurthubi, penulis kitab Al-Mufhim, memberikan komentar mengenai kisah Dhirar ash-Shuda'i yang menggambarkan kepribadian Ali RA dan memujinya di hadapan Muawiyah. Saat mendengar pujian tersebut, Muawiyah menangis dan membenarkan apa yang disampaikan Dhirar. Al-Qurthubi berkata:

“Hadis ini menunjukkan bahwa Muawiyah mengetahui keutamaan Ali RA, kedudukannya, serta besarnya hak dan kemuliaannya. Dengan demikian, sangat jauh kemungkinan Muawiyah secara terang-terangan melaknat dan mencelanya, mengingat Muawiyah dikenal memiliki akal, agama, kesantunan, dan kemuliaan akhlak. Adapun riwayat yang menyebutkan hal tersebut, sebagian besarnya adalah kebohongan dan tidak sahih.

Riwayat yang paling sahih dalam persoalan ini adalah perkataan Muawiyah kepada Sa'ad bin Abi Waqqash: ‘Apa yang menghalangimu untuk mencela Abu Turab?’

Perkataan ini tidak secara tegas menunjukkan perintah untuk mencela. Itu hanyalah pertanyaan mengenai alasan Sa'ad menahan diri, untuk mengetahui apa yang ada dalam pikirannya, baik berupa alasan yang mendukung maupun sebaliknya, sebagaimana tampak dari jawabannya.

Ketika Muawiyah mendengar jawaban tersebut, ia pun tenang dan menerima penjelasan itu. Ia mengakui kebenaran dan memberikan hak kepada orang yang memang berhak menerimanya.”

Dr ar-Ruhaili dalam bukunya Ash-Shahb wal-Al mengatakan:

“Menurut pandangan saya—dan Allah lebih mengetahui kebenarannya—Muawiyah sebenarnya mengucapkan hal tersebut sebagai bentuk gurauan kepada Sa'ad. Ia bermaksud menggali sebagian keutamaan Ali RA.

Muawiyah adalah seorang yang cerdas dan tajam pemikirannya. Ia senang berdiskusi dengan orang-orang dan menggali apa yang mereka ketahui. Karena itu, ia ingin mengetahui pandangan Sa'ad mengenai Ali RA, lalu mengajukan pertanyaan dengan cara yang dapat memancing jawaban.(rep)

 

 


BERITA LAINNYA +INDEKS
Dakwatuna

Doa Pilihan untuk Atasi Kegelisahan dan Kesusahan yang Diajarkan Rasulullah SAW

Jumat, 18 September 2026 - 08:36:53 WIB

RADARPEKANBARU.COM - Allah Ta’ala menjadikan dunia.

Dakwatuna

Yang Kita Kira Baik Belum Tentu Baik di Sisi Allah

Kamis, 17 September 2026 - 08:25:03 WIB

RADARPEKANBARU.COM - Banyak orang yang menganggap di.

Dakwatuna

Dialog Rasulullah SAW dan Para Sahabat Pemisah Kuat Antara yang Hak dan Batil Setelah Perang Uhud

Rabu, 16 September 2026 - 11:33:15 WIB

RADARPEKANBARU.COM - Dialog Abu Sufyan dengan.

Dakwatuna

Sikap Muslim yang Membuka Lebar Pintu Rezeki

Selasa, 15 September 2026 - 09:21:02 WIB

RADARPEKANBARU.COM - Rezeki dalam perspektif Islam t.

Dakwatuna

Musibah Juga Menguji Mereka yang tak Terkena Bencana

Senin, 14 September 2026 - 12:25:23 WIB

RADARPEKANBARU.COM - Ulama muda asal Surakarta, KH A.

Dakwatuna

Benarkah Ali Bin Abi Thalib Terlambat atau Menolak Membaiat Abu Bakar?

Sabtu, 12 September 2026 - 08:32:29 WIB

RADARPEKANBARU.COM - Salah satu isu krusial yang mun.

TULIS KOMENTAR +INDEKS


Terkini +INDEKS
Pekanbaru Targetkan Piala Adipura 2026
19 September 2026
Pemprov Riau Perkuat Sinergi, Dorong Infrastruktur Jalan Berkelanjutan dan Adaptif
19 September 2026
Solar Langka, DPRD Pekanbaru Minta Pemerintah Ajukan Penambahan Kuota
19 September 2026
Benarkah Para Khalifah Bani Umayyah Perintahkan Melaknat Ali Bin Abi Thalib dan Ahlul Bait?
19 September 2026
PT 5 Persen Upaya Menyederhanakan Kompromi Politik di DPR
19 September 2026
Presiden Prabowo dan Wakil PM Malaysia Bahas Penanganan Karhutla di Hambalang
19 September 2026
Dishub Kota Pekanbaru Tangkap Pencuri Panel Lampu Jalan
18 September 2026
Polda Riau Siapkan Riau Ceria Presisi Tangani Karhutla
18 September 2026
Ketua TP PKK Kota Pekanbaru Raih Penghargaan Nasional Pendidikan dan Literasi
18 September 2026
Doa Pilihan untuk Atasi Kegelisahan dan Kesusahan yang Diajarkan Rasulullah SAW
18 September 2026
TERPOPULER +INDEKS
  • 1 Pekanbaru Targetkan Piala Adipura 2026
  • 2 Pemprov Riau Perkuat Sinergi, Dorong Infrastruktur Jalan Berkelanjutan dan Adaptif
  • 3 Solar Langka, DPRD Pekanbaru Minta Pemerintah Ajukan Penambahan Kuota
  • 4 Benarkah Para Khalifah Bani Umayyah Perintahkan Melaknat Ali Bin Abi Thalib dan Ahlul Bait?
  • 5 PT 5 Persen Upaya Menyederhanakan Kompromi Politik di DPR
  • 6 Presiden Prabowo dan Wakil PM Malaysia Bahas Penanganan Karhutla di Hambalang
  • 7 Dishub Kota Pekanbaru Tangkap Pencuri Panel Lampu Jalan

PT. Radar Indomedia Pers
JL. Arifin Ahmad Blok B Nomor 08 ( Belakang Green Hotel ), Pekanbaru - Riau
Email: [email protected]

Tentang Kami
Redaksi
Pedoman Pemberitaan
Info Iklan
Kontak
Disclaimer

©2021 Radarpekanbaru.com