Celakalah Manusia Rakus

Jumat, 30 Juli 2021

ilustrasi internet

RADARPEKANBARU.COM - Suatu ketika, Tsa’labah memohon agar Rasulullah SAW berdoa kepada Allah agar dia diberikan kekayaan. Tsa’labah berkata kepada Rasul: “Demi Dzat yang mengutusmu dengan benar, seandainya engkau memohon kepada Allah agar aku dikaruniai harta yang banyak, sungguh aku akan memberikan hak-Nya, yakni zakat dan sedekah kepada yang berhak menerimanya.”

Kemudian Rasulullah mengabulkan permintaan Tsa’labah dan berdoa: “Ya Allah, karuniakanlah harta kepada Tsa’labah.”

Seiring berjalannya waktu, Tsa’labah mengurus kambing yang diberikan oleh Rasulullah kepadanya. Kambing itu tumbuh beranak, sebagaimana tumbuhnya ulat. Hingga Kota Madinah terasa sempit karena kambing-kambing Tsa’labah yang banyak. Sesudah itu, ia menjauh dari Madinah dan tinggal di satu lembah (desa).

Karena kesibukannya, ia hanya berjamaah pada shalat Zhuhur dan Ashar dan tidak pada shalat-shalat lainnya. Kemudian kambing itu semakin banyak dan mulailah ia meninggalkan shalat berjamaah sampai shalat Jumat pun ia tinggalkan.

Suatu ketika Rasulullah SAW bertanya kepada para sahabat, “Apa yang dilakukan Tsa’labah?” Para sahabat pun menjawab, “Pada mulanya, ia mengurus seekor kambing, lalu kambingnya bertambah banyak sehingga Kota Madinah terasa sempit baginya.”

Maka, Rasulullah SAW mengutus dua orang untuk mengambil zakatnya seraya bersabda, “Pergilah kalian ke tempat Tsa’labah dan tempat Fulan dari Bani Sulaiman, ambillah zakat mereka berdua.” Lalu, sahabat yang diperintah Rasulullah SAW pergi mendatangi Tsa’labah untuk meminta zakatnya. 

Sesampainya di sana dibacakanlah surat dari Rasulullah SAW. Dengan serta-merta Tsa’labah berkata, “Apakah yang kalian minta dari saya ini, pajak atau sebangsa pajak? Aku tidak tahu apa sebenarnya yang kalian minta ini!”

Mendengar ucapan Tsa’labah yang tidak mengenakkan, lalu keduanya pulang dan menghadap Rasulullah SAW. Tatkala beliau melihat kedua sahabatnya pulang tidak membawa hasil, sebelum mereka berbicara, Rasulullah SAW bersabda, “Celaka engkau, wahai Tsa’labah! Setelah Allah memberikan kepada mereka sebahagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu dan berpaling dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran).” (QS at-Taubah [9]: 76).

Kisah Tsa’labah tersebut menyampaikan pesan terpenting bagi kita tentang pentingnya bersyukur terhadap nikmat yang dianugerahkan Allah SWT. Sungguh sayang, terkadang desir keangkuhan dan kesombongan hadir saat kita bergelimang harta benda.

Kita lupa kalau semua harta dan kekayaan hanyalah titipan dan amanat-Nya, supaya kita berjalan dan mendekati Allah SWT melalui jalan kebaikan. Sejatinya kita selalu sadar diri atas setiap rezeki yang Allah berikan, tanpa mengumbar nafsu serakah. Dengan demikian, kita akan selamat, baik di dunia maupun akhirat.

Perilaku rakus, seumpama Tsa’labah, hanya akan mendapatkan mudharat sosial. Kita yang serakah hanya akan terasing dari lingkungan karena hidup selalu dikendalikan oleh motif duniawi. Jika sudah demikian, sungguh kita akan bertanya, “Di manakah letak kebahagiaan hidup?” Wallahu a’lam bishawab. (rep)