Anak-Anak Gaza Didera Trauma

Kamis, 22 Juli 2021

GAZA CITY – Direktur Jenderal Program Kesehatan Mental Komunitas Gaza Dr Yasser Abu Jamei mengatakan, anak-anak Gaza yang terdampak serangan Israel mengalami trauma dan terganggu psikisnya. Kisah sejumlah anak Gaza ini dilaporkan secara eksklusif oleh Associated Press, Rabu (21/7).

Di Gaza, kata Abu Jamei, “Hidup tak pernah kembali normal.” Anak-anak Gaza yang didera trauma mudah tersinggung, takut sendirian, dan menderita teror malam. Pendampingan yang dibutuhkan oleh anak-anak tersebut juga tak dapat dipenuhi.

Di Gaza, hanya ada satu psikiater berlisensi untuk satu juta anak. Untuk pulih, anak-anak perlu merasakan peristiwa traumatis yang mereka alami sudah berakhir dan kehidupan normal kembali.

Saat ini, sekolah-sekolah di Gaza masih ditutup akibat pertempuran dan pandemi Covid-19. Hal itu membuat mereka tak memiliki kesibukan selain menyusuri jalan yang telah porak-poranda akibat serangan Israel.

Pada 10-21 Mei lalu, Israel menggempur Gaza. Aksi itu dilancarkan sebagai respons atau balasan atas serangan roket kelompok Hamas. Ketegangan di Masjid al-Aqsha menjadi alasan Hamas meluncurkan serangan ke Israel.

Sedikitnya 270 warga Gaza, 66 di antaranya adalah anak-anak, meninggal selama agresi Israel. Sementara warga yang mengalami luka-luka dilaporkan mencapai lebih dari 1.900 orang.

Pada 16 Mei 2021 adalah hari kelam bagi Suzy Iskhontana, anak perempuan berusia tujuh tahun yang tinggal di Jalur Gaza. Pada hari itu, dia kehilangan ibu, dua saudara laki-laki, dan dua saudara perempuannya akibat serangan Israel. 

Suzy dan ayahnya, Riad Ishkontana, berhasil selamat. Namun, maut nyaris menghampiri keduanya. Mereka tertimbun reruntuhan bangunan selama berjam-jam. 

Peristiwa itu tentu akan selalu terekam dalam memori Suzy. Kejadian tersebut pun membuatnya seolah enggan untuk terpisah barang sejenak dengan ayahnya. Sehari-hari, Suzy selalu mendekap ayahnya erat. 

Sebelum perang, Suzy anak yang mandiri. Kini, ia bahkan harus berjuang untuk bisa bercakap-cakap dengan sanak saudara. Ia juga lebih banyak menghabiskan waktu dengan bermain games.

“Sepertinya, kehilangan ibu membuat ia juga kehilangan hidupnya dan kehilangan kemampuan untuk berhadapan dengan hidup dan orang-orang,” kata Riad.

Saat sang ayah harus pergi melakukan tugas harian, Suzy akan menangis dan memaksa ingin ikut. Ia ketakutan akan kehilangan sang ayah.

Riad mengajak Suzy ke makam sang ibu. Secarik kertas bertulis tangan dibawa Suzy. “Mama,” tulis Suzy. “Saya ingin bertemu Mama.”

Kisah lain dituturkan Lama Sihweil (14 tahun). Dalam perang 2014, Lama dan keluarganya bersama sekitar 3.300 warga Gaza pergi mengungsi ke kamp pengungsi Jabaliya.

Perang 2014 itu merenggut nyawa lebih dari 2.100 warga Gaza. Saat warga Gaza tidur, Israel mengebom sekolah dan jalanan. Kini, Lama tak lupa akan jeritan di tengah malam, kepanikan mencari orang-orang tersayang, dan genangan darah dan reruntuhan bangunan.

“Saat bersama dia, kelihatannya baik-baik saja,” kata ayahnya, Thaer Shiwell. “Namun, coba berbicara dengannya, ia tidak mengungkapkan perasaannya. Akibat ketakutannya, ia tidak bisa menyampaikan apa yang ada di hatinya.”

Kemudian perang kembali datang tahun ini. Kini, Lama bahkan tak berani berjalan sendirian. Ia terus menempel pada orang tuanya.

Elien Al-Madhoun adalah anak Gaza lain yang turut menyaksikan ganasnya serangan Israel. Bocah berusia enam tahun itu histeris saat lingkungan rumahnya menjadi target serangan udara Israel pada Mei lalu.

Sembilan orang meninggal di lingkungan tersebut. "Ketika sembilan rumah benar-benar hancur bersebelahan dan putri saya melihat ini. Dia tidak dapat memahami apa yang terjadi," kata ayah Elien, Ahmed Rabah al-Madhoun. 

Ahmed mengungkapkan, dia tidak tahu apa yang akan terjadi pada putrinya di masa mendatang. Ahmed pun iri pada orang-orang yang telah meninggal akibat serangan Israel.

"Di sini kami hanya menunggu giliran. Anak-anak kami, ibu dan ayah kami. Di sini kami menunggu giliran," ujarnya. 

Kisah lain bertutur tentang Youssef al-Madhoun. Setiap ia mandengar petasan atau pintu logam menutup keras, ia akan terkejut. Semua itu mengingatkannya pada perang. Pada usia 11 tahun, ia sudah mengalami tiga kali perang.

Sebelum perang, Youssef adalah murid pandai yang bercita-cita ingin menjadi dokter. Kata ayahnya, Ahmed Awad Selim al-Madhoun, bahkan Youssef takut tidur sendirian. Ia takut keluar rumah sendirian. Ia bahkan tidak berani menutup pintu saat berada di kamar mandi.

Selama bertahun-tahun, Abdullah Srour hidup dalam ketakutan. Pada usia 16 tahun, ia adalah penyintas empat peperangan di Gaza.

Setiap peperangan membuat ia semakin ketakutan dan kehilangan minat pada apapun. Dalam perang terakhir, ia berdiri di dekat reruntuhan sambil menyaksikan tim penyelamat menarik tubuh-tubuh tertimpa bangunan yang hancur dibom Israel.

Kini, bunyi jarum jatuh di ruang periksa dokter dapat membuatnya panik. Abdullah terus-menerus menggigiti kukunya. Ia tak bisa duduk lebih lama dari 10 menit di satu tempat. Ia bahkan harus tidur di sebelah ibunya.

“Setelah perang terakhir,” kata ibu Abdullah. “Ia bahkan seperti anak berusia lima tahun.” (rep)