• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
  • Home
  • Politik
    • Kabupaten Kuansing
    • Kabupaten Rokan Hilir
    • Kabupaten Rokan Hulu
    • Kota Pekanbaru
    • Kota Dumai
    • Kabupaten Siak
    • Kabupaten Pelalawan
    • Kabupaten Kampar
    • Kabupaten Indragiri Hulu
    • Kabupaten Indragiri Hilir
    • Kabupaten Bengkalis
    • Kabupaten Kepulauan Meranti
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Parlemen
  • Olahraga
  • Nasional
  • Riau
    • fokus riau
  • More
    • Hukrim
    • Life Style
    • Dakwatuna
    • Opini
    • Video
    • Pilihan Editor
    • Terpopuler
    • Galeri
    • Indeks
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
  • Politik
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Parlemen
  • Olahraga
  • Nasional
  • Riau
  • Hukrim
  • Life Style
  • Dakwatuna
  • Opini
  • Video
  • Kabupaten Kepulauan Meranti
  • Kabupaten Bengkalis
  • Kabupaten Indragiri Hilir
  • Kabupaten Indragiri Hulu
  • Kabupaten Kampar
  • Kabupaten Pelalawan
  • Kabupaten Siak
  • Kota Dumai
  • Kota Pekanbaru
  • Kabupaten Rokan Hulu
  • Kabupaten Rokan Hilir
  • Kabupaten Kuansing
  • fokus riau
  • Pilihan Editor
  • Terpopuler
  • Indeks
Masukkan Kata Kunci atau ESC Untuk Keluar
PILIHAN +INDEKS
Tirta Meyrizka Lubis Bikin Bangga Riau, Bersinar di Ajang Duta Muslimah Preneur Indonesia 2026
Dibaca : 2875 Kali
Tingkatkan Mutu Pendidikan, SMKN 1 Tapung Hulu Siapkan Lulusan Siap Kerja dan Siap Membuka Lapangan Pekerjaan
Dibaca : 2834 Kali
SMAS Adven Pasir Putih Mulai Buka PPDB 2026/2027, Perkuat Pendidikan Karakter dan Akademik
Dibaca : 2831 Kali
PPDB 2026/2027 Dibuka, SMAN 6 Tapung Fokus Tingkatkan Mutu Pendidikan dan Prestasi Siswa
Dibaca : 2824 Kali
SMAN 2 Kampar Kiri Buka PPDB 2026/2027, Dorong Lahirnya Pelajar Disiplin dan Berdaya Saing
Dibaca : 2820 Kali

  • Home
  • Internasional

Jutaan Warga Afghanistan di Ambang ‘Kematian’

Redaksi Radarpku

Sabtu, 15 Januari 2022 10:51:04 WIB
Cetak
Jutaan Warga Afghanistan di Ambang ‘Kematian’

AFGANISTAN - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengajak masyarakat internasional membantu menangani krisis kemanusiaan di Afghanistan. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres bahkan menyebut bahwa jutaan warga Afghanistan berada di ambang ‘kematian’. Ada sebanyak 8,7 juta warga yang mengalami kelaparan. 

Krisis kemanusiaan di Afghanistan tecermin dalam kehidupan seorang ibu bernama Siringul Musazey yang merupakan warga di wilayah Shahr Sabz, Herat. Musazey dan tujuh anaknya bertahan hidup di tengah kondisi serbakekurangan dan terus dihantui rasa kelaparan.  

Hidup di tenda seadanya, Musazey dan anak-anaknya harus menahan tusukan dingin saat malam tiba. Tak jarang Musazey mengalami sakit dan linu pada sekujur tubuhnya. Di tenda itu, mereka bahkan tak memiliki kompor untuk pemanas.

Sehari-hari, Musazey dan ketujuh anaknya hanya makan beberapa potong roti kering. "Kami belum lama makan beberapa kentang yang diberikan tetangga. Kami tidak punya apa-apa lagi untuk dimakan. Kami ingin dibantu," kata Musazey saat diwawancara Anadolu Agency, seperti dikutip pada Jumat (14/1). 

Musazey bahkan mengaku telah lupa kapan terakhir kalinya mereka memakan makanan yang layak. Kondisi seperti Musazey banyak dihadapi keluarga Afghanistan lainnya. Krisis di negara tersebut kian memburuk sejak Taliban mengambil alih kekuasaan pada pertengahan Agustus tahun lalu.

Kehidupan Musazey semakin sengsara karena sang suami mencampakkannya. Celakanya, suami Musazey meninggalkan utang sekitar 1.500 dolar AS. Musazey harus harus bisa melunasi utang tersebut, Jika tidak, putrinya yang berusia lima tahun bisa diambil pria yang meminjamkan uang kepada suaminya. 

Musazey menceritakan, suaminya adalah seorang pencandu narkoba. Lelaki itu meninggalkannya begitu saja delapan bulan lalu. "Kami harus membayar utang kami. Baik dengan membayar uang atau dengan memberikan anak kami. Kami sekeluarga kelaparan," kata Musazey.

Ia mengaku tak punya sanak saudara yang bisa membantunya. "Semua orang miskin. Tidak ada yang membantu kami. Saya akan menjual putri saya atau memberikannya sebagai imbalan atas utang saya," ujarnya.

Peminjam uang kepada suami Musazey adalah Khan Hazret. Saat meminjamkan uangnya tempo hari, Hazret mengaku kondisi keuangannya cukup baik. Tapi, bersamaan dengan krisis ekonomi yang terus memburuk di Afghanistan, kini dia pun miskin dan tak dapat mencari nafkah.

Oleh sebab itu, Hazret menagih utangnya. Jika tak bisa melunasi, dia ingin putri Musazey, yakni Saliha, dinikahkan dengan putranya yang berusia 12 tahun. Bila itu terjadi, utang suami Musazey bakal dianggap lunas.

Musazey belum rela jika putrinya digunakan untuk melunasi utang suaminya. Namun, ia juga tak tahu bagaimana harus mencari uang. Jangankan membayar utang sebesar itu, untuk makan pun Musazey harus bersusah payah memperolehnya.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengatakan, sangat penting bagi komunitas internasional untuk segera menyuntikkan likuiditas ke perekonomian Afghanistan. “Kita harus dengan cepat menyuntikkan likuiditas ke dalam perekonomian (Afghanistan) dan menghindari kehancuran yang akan menyebabkan kemiskinan, kelaparan, dan kemelaratan bagi jutaan orang,” ujar Guterres kepada awak media di markas PBB di New York, Kamis (13/1), dikutip laman Al Arabiya.

Terkait hal itu, dia mendesak Amerika Serikat (AS) dan Bank Dunia mencairkan dana milik Afghanistan yang dibekukan sejak Taliban berkuasa. Guterres menekankan, Afghanistan membutuhkan dana tersebut untuk mencegah krisis kemanusiaan semakin memburuk.

AS diketahui membekukan aset senilai 9,5 miliar dolar milik bank sentral Afghanistan. Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia juga menangguhkan kegiatan mereka di Afghanistan. Cadangan baru senilai 340 juta dolar AS yang dikucurkan IMF pada Agustus tahun lalu belum disalurkan ke Afghanistan.

“Suhu beku dan aset beku adalah kombinasi mematikan bagi rakyat Afghanistan,” ujar Guterres menggambarkan kondisi yang mengkhawatirkan saat negara tersebut menghadapi musim dingin.

"Saya berharap sumber daya yang tersisa, lebih dari 1,2 miliar dolar AS dari Dana Perwalian Rekonstruksi Afghanistan (ARTF) akan tersedia untuk membantu rakyat Afghanistan bertahan hidup pada musim dingin,” kata Guterres menambahkan.

PBB sebelumnya menyampaikan, mereka membutuhkan dana sebesar 5 miliar dolar AS untuk membantu Afghanistan menangani krisis kemanusiaan. PBB meminta dunia berpartisipasi dalam membantu negara tersebut. 

“Bencana kemanusiaan besar-besaran tampak. Pesan saya mendesak, yaitu jangan tutup pintu bagi rakyat Afghanistan. Bantu kami meningkatkan dan mencegah kelaparan yang meluas, penyakit, kekurangan gizi, dan akhirnya kematian,” ujar Kepala Bantuan PBB Martin Griffiths, Selasa (11/1) lalu.

Dari dana yang dibutuhkan, sebanyak 4,4 miliar dolar AS di antaranya bakal digunakan untuk memenuhi kebutuhan esensial di internal di Afghanistan. Sementara, 623 juta dolar AS diperlukan untuk menyokong kehidupan jutaan warga Afghanistan yang berlindung di luar perbatasannya.

Menurut PBB, terdapat 5,7 juta pengungsi Afghanistan yang telantar di lima negara tetangga. Kemudian, sebanyak 4,7 juta orang di Afghanistan diperkirakan atau berisiko menderita gizi buruk akut tahun ini. Angka itu termasuk 1,1 juta anak-anak.

Griffiths mengatakan, tanpa bantuan kemanusiaan, bencana kelaparan, kematian, dan perpindahan massal di Afghanistan akan berlanjut. Sebaliknya, jika donor internasional mengalir, rakyat Afghanistan dapat memperoleh keamanan dan jaminan hidup.

Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi Filippo Grandi mengungkapkan, tujuan paket bantuan untuk Afghanistan adalah menstabilkan situasi di negara tersebut. Dengan demikian, gelombang migran ke negara-negara tetangga Afghanistan dapat dihindari atau dicegah.

 “Pergerakan orang itu akan sulit diatur, di daerah dan sekitarnya, karena tidak akan berhenti di satu wilayah. Jika upaya ini tidak berhasil, kami harus meminta 10 miliar dolar AS tahun depan, bukan 5 miliar dolar AS," kata Grandi menjelaskan.(rep)


BERITA LAINNYA +INDEKS
Internasional

Trump Hadiri KTT NATO: Kalau Bukan karena Erdogan Saya Tidak akan Datang

Rabu, 08 Juli 2026 - 09:47:43 WIB

RADARPEKANBARU.COM - .

Internasional

Presiden Prabowo dan PM Wong Sepakat Tingkatkan Kerja Sama di Tiga Bidang Strategis

Selasa, 07 Juli 2026 - 08:50:51 WIB

RADARPEKANBARU.COM - Presiden RI Prabowo Subi.

Internasional

Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei Absen di Pemakaman Ayahnya

Senin, 06 Juli 2026 - 08:33:37 WIB

RADARPEKANBARU.COM - .

Internasional

Belum Setahun Jadi PM Moldova, Alexandru Munteanu Putuskan Mundur

Sabtu, 04 Juli 2026 - 09:36:11 WIB

RADARPEKANBARU.COM - Perdana Menteri Moldova Alexand.

Internasional

AS Pimpin Dialog Keamanan Regional di Bahrain, Bahas Stabilitas Timur Tengah dan Selat Hormuz

Jumat, 03 Juli 2026 - 09:08:50 WIB

RADARPEKANBARU.COM - .

Internasional

Prabowo Dijadwalkan Gelar Pertemuan Bilateral dengan Lukashenko Pagi Ini

Kamis, 02 Juli 2026 - 10:01:38 WIB

RADARPEKANBARU.COM - Presiden RI Prabowo Subianto di.

TULIS KOMENTAR +INDEKS


Terkini +INDEKS
Waspada Penipuan, Basarnas Tidak Pernah Meminta Uang Dalam Operasi SAR
08 Juli 2026
Plt Gubri Larang Sekolah Lakukan Perpeloncoan Saat MPLS
08 Juli 2026
KPK: Bupati Kuansing Diduga Minta Uang dari 914 Petani HPT
08 Juli 2026
Jauh Sebelum Islam Datang, Nusantara Sudah Terhubung dengan Timur Tengah
08 Juli 2026
Trump Hadiri KTT NATO: Kalau Bukan karena Erdogan Saya Tidak akan Datang
08 Juli 2026
Menhut Raja Juli Seharusnya Lapor Gratifikasi saat Terima Amplop, Bukan Dikembalikan ke Pemberi
08 Juli 2026
Kapal Pompong Tenggelam di Tanjung Buton Siak, Satu Tewas, Tiga Hilang
07 Juli 2026
Kepala Satpol PP Bengkalis Dituntut 5 Tahun Penjara dalam Kasus Korupsi Rp1,4 Miliar
07 Juli 2026
4.863 Rumah Warga Riau Bakal Direnovasi Jadi Layak Huni
07 Juli 2026
Sejumlah Titik Di Kuansing Digeledah KPK, Lokasi Masih Dirahasiakan
07 Juli 2026
TERPOPULER +INDEKS
  • 1 Waspada Penipuan, Basarnas Tidak Pernah Meminta Uang Dalam Operasi SAR
  • 2 Plt Gubri Larang Sekolah Lakukan Perpeloncoan Saat MPLS
  • 3 KPK: Bupati Kuansing Diduga Minta Uang dari 914 Petani HPT
  • 4 Jauh Sebelum Islam Datang, Nusantara Sudah Terhubung dengan Timur Tengah
  • 5 Trump Hadiri KTT NATO: Kalau Bukan karena Erdogan Saya Tidak akan Datang
  • 6 Menhut Raja Juli Seharusnya Lapor Gratifikasi saat Terima Amplop, Bukan Dikembalikan ke Pemberi
  • 7 Kapal Pompong Tenggelam di Tanjung Buton Siak, Satu Tewas, Tiga Hilang

PT. Radar Indomedia Pers
JL. Arifin Ahmad Blok B Nomor 08 ( Belakang Green Hotel ), Pekanbaru - Riau
Email: [email protected]

Tentang Kami
Redaksi
Pedoman Pemberitaan
Info Iklan
Kontak
Disclaimer

©2021 Radarpekanbaru.com