Menko Polhukam Tolak Permintaan Tebusan Separatis
SURABAYA -- Tiga pekan sudah pilot asal Selandia Baru, Philip Mark Mehrtens, disandera kelompok separatis Papua di Nduga, Papua Pegunungan. Pemerintah, yang belum kunjung membebaskan sandera, menegaskan tak akan berkompromi dengan permintaan tebusan yang diklaim baru diminta oleh kelompok separatis itu.
Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD menegaskan tidak akan mengabulkan permintaan kelompok separatis pimpinan Egianus Kogoya yang meminta barter pilot Susi Air dengan senjata dan amunisi. Mahfud menegaskan, sudah ada taktik dan strategi yang disiapkan aparat keamanan dalam upaya pembebasan pilot Susi Air.
"Tidak mungkin kita berikan (senjata) kepada pemberontak. Ada taktik dan strategi yang dilakukan aparat kita," kata Mahfud di Surabaya, Selasa (28/2).
Mahfud memastikan, aparat keamanan telah mengetahui lokasi penyanderaan pilot dan terus melakukan pengepungan. Namun, lanjut Mahfud, upaya pembebasan harus dilakukan secara hati-hati karena berkaitan dengan nyawa seseorang. Apalagi, yang disandera merupakan warga negara asing.
"Terus dilakukan pengepungan, kita tahu lokasinya. Kita harus terus hati-hati karena para penyandera itu menyandera nyawa. Menyandera nyawa orang New Zealand. Kalau mau disergap, bahaya itu," ujarnya.
Mahfud melanjutkan, dalam upaya pembebasan pilot Susi Air tersebut, aparat keamanan lebih mengutamakan keselamatan sang pilot. Mahfud pun memastikan, kondisi pilot Susi Air yang disandera dalam keadaan sehat.
Sebelumnya, Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB-OPM) melakukan pembakaran terhadap pesawat milik maskapai Susi Air di Lapangan Terbang Paro, Nduga, pada Selasa (7/2). Penyerangan tersebut dilakukan kelompok separatis bersenjata yang dipimpin Egianus Kogoya.
Menyusul insiden itu, sang pilot yang bernama Philips Marthen disandera. Namun, pihak separatis telah merilis beberapa foto dan video yang menunjukkan kondisi Philips. Dalam rekaman visual itu, terlihat Philips dalam keadaan sehat dan tak terluka.
Juru Bicara TPNPB-OPM Sebby Sambom menyatakan, tebusan untuk sandera itu adalah kemerdekaan untuk Papua. Pilot Selandia Baru ia sebut tak akan dibebaskan hingga tuntutan itu dipenuhi. Ia belum menyampaikan tuntutan baru hingga Selasa (28/2) malam.
Kendati demikian, Kapolda Papua Irjen Mathius Fakhiri mengatakan, tuntutan terbaru kelompok Egianus Kogoya tersebut meminta pilot berkebangsaan Selandia Baru itu ditukar dengan senjata, amunisi, serta sejumlah uang. Tuntutan tersebut, kata Mathius, ditujukan kepada Pemerintah Indonesia.
Namun, Irjen Mathius memastikan, TNI dan Polri sebagai otoritas keamanan dan penindakan hukum mengabaikan tuntutan tersebut. Permintaan itu tidak mungkin dipenuhi karena berbahaya dan dapat mengganggu keamanan serta menimbulkan korban jiwa. "Selain meminta senpi dan amunisi, Egianus juga meminta sejumlah uang, " ujar Kapolda Papua Irjen Pol Fakhiri.
Pangdam XVII Cenderawasih Mayjen TNI Muhammad Saleh Mustafa menyatakan, TNI-Polri masih terus berupaya membebaskan pilot Susi Air. Menurut dia, pihak separatis bersama sanderanya selalu berpindah-pindah tempat sehingga sampai saat ini posisinya belum dapat diketahui pasti.
Ia menekankan, pencarian masih terus dilakukan untuk memastikan keberadaan pilot berkebangsaan Selandia Baru. "Mudah-mudahan pilot Philip Mark Mehrtens segera dapat dibebaskan dengan keadaan selamat," ujar Pangdam XVII Cenderawasih Mayjen TNI Saleh, Senin (27/6).
Panglima TNI Laksamana Yudo Margono pada Senin juga mengatakan, pihaknya masih terus berupaya mencari keberadaan pilot maskapai Susi Air. Yudo menyebut, pihaknya sangat berhati-hati dalam pencarian tersebut karena kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Papua kerap membaur dengan masyarakat sipil.
"Jadi, pilot masih tetap kita usahakan dicari, karena tentunya di dalam situasi seperti ini mereka ini kan bercampur dengan masyarakat sehingga TNI juga harus hati-hati di dalam melaksanakan tugasnya untuk menyelamatkan itu," kata Yudo di Mako Paspampres, Jakarta.
Yudo menjelaskan, proses pencarian ini mengerahkan pasukan, baik dari TNI maupun Polri yang sebelumnya sudah bertugas di wilayah Papua dan sekitarnya.
Dia menyampaikan, tidak ada pasukan ataupun satuan tugas khusus yang diterjunkan. Sebab, menurut dia, kondisi saat ini bukanlah situasi yang khusus. Meskipun ia mengakui bahwa KKB yang sedang dihadapi kerap berpindah-pindah tempat.
"Kita optimalkan prajurit yang berada di sana karena yang kita hadapi juga bukan musuh yang tetap, kemudian bisa berhadapan, bukan? Jadi, gerombolan yang tempatnya berpindah-pindah dan bersama-sama dengan penduduk, dan ini kan tidak mudah untuk mengambil dari penduduk ini," ujar dia.
Yudo menegaskan, pihaknya pun tidak menetapkan target tertentu untuk menyelesaikan proses pencarian Mehrtens. "Ya, tentunya kita enggak ada target. Wong ini tadi lho, di lapangannya tidak mudah langsung di suatu tempat yang bisa diambil langsung, kan tidak. Itu tadi, mereka berlindung selalu dengan masyarakat, malah dengan anak-anak. Ini yang akan kita pisahkan," kata Yudo.
"Sedapat mungkin kita laksanakan secara persuasif. Kita tidak mau masyarakat jadi korban karena itu," ungkap dia.(rmol)
Roy Suryo Konsolidasi Dukungan Massa, Media dan Youtubers Jelang Sidang di PN Jaktim
RADARPEKANBARU.COM - .
Kebanggaan Bagi Negeri Istana, Anak Siak Ukir Sejarah Terpilih Jadi Paskibraka Nasional 2026
Radarpekanbaru – Prestasi membanggakan kembali dit.
Festival Seni Budaya Melayu Riau Perkuat Pewarisan Tradisi di Negeri Istana
Radarpekanbaru – Alunan kompang, syair Melay.
Polemik Dugaan Ijazah Palsu Berpeluang Kalah, Wajar Pengacara Profesional Menolak Bela Jokowi
RADARPEKANBARU.COM - Dibandingkan tim kuasa h.








