Apakah Benar Ada Siksa Kubur di Alam Barzakh Sebelum Kiamat?
RADARPEKANBARU.COM - Keberadaan siksa kubur di alam barzakh kerap menjadi pertanyaan di tengah umat. Namun, dalam ajaran Islam, siksa kubur ditegaskan memiliki dasar yang kuat dalam Alquran dan As-Sunnah.
Sejumlah ayat Alquran serta hadis Nabi Muhammad SAW menjelaskan bahwa manusia akan mengalami fase kehidupan setelah kematian sebelum hari kiamat, termasuk adanya balasan berupa azab bagi mereka yang ingkar dan munafik.
Syaikh Mahir Ahmad Ash-Shuffi dalam bukunya Al-Mautu wa alamul barzakh, al-hisab wal aidhu alal-latu al-mizan-al-mushaf-ashshirath-anwa'us syafa'ah menerangkan, siksa kubur benar-benar akan terjadi. Dalilnya adalah Alquran dan As-Sunnah. Selain keduanya, dalil yang qath’i tidak ada. Siksaan tersebut bisa diterima akal dan tidak bertentangan dengan logika manusia.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
Wa mimman ?aulakum minal-a‘r?bi mun?fiq?n(a),wa min ahlil-mad?nati marad? ‘alan nif?q(i), l? ta‘lamuhum, na?nu na‘lamuhum, sanu‘a??ibuhum marrataini ?umma yuradd?na il? ‘a??bin ‘a??m(in).
Di antara orang-orang Arab Badui yang (tinggal) di sekitarmu ada orang-orang munafik. (Demikian pula) di antara penduduk Madinah (ada juga orang-orang munafik), mereka keterlaluan dalam kemunafikannya. Engkau (Nabi Muhammad) tidak mengetahui mereka, tetapi Kami mengetahuinya. Mereka akan Kami siksa dua kali, kemudian mereka akan dikembalikan kepada azab yang besar. (QS At-Taubah Ayat 101)
Kehidupan manusia melewati tiga fase, yakni dunia, alam barzakh setelah kematian, dan hari kiamat setelah kebangkitan. Di dalam ayat tersebut, Allah menjelaskan tentang tiga macam siksaan. (Mereka akan Kami siksa dua kali), yakni sekali di dunia yang disebabkan kemunafikan, dan sekali lagi di alam barzakh setelah kematian. Adapun siksa di akhirat setelah penghisaban dijelaskan dengan, "Kemudian mereka akan dikembalikan kepada azab yang besar" di akhir ayat tersebut.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
Wa lanu??qannahum minal-‘a??bil-adn? d?nal-‘a??bil-akbari la‘allahum yarji‘?n(a).
Kami pasti akan menimpakan kepada mereka sebagian azab yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat) agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (QS As-Sajdah Ayat 21)
Ibnu Abbas menjelaskan ayat ini, siksa yang dekat ada dua, yakni siksa di dunia agar mereka bisa kembali beriman kepada Allah, dan siksa di alam barzakh sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka lakukan. Sementara itu, siksa yang besar akan terjadi setelah hisab pada hari kiamat. Ia adalah siksa neraka yang akan Allah berikan kepada orang-orang kafir, munafik, dan durhaka.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: Maka, Allah melindunginya (orang yang beriman) dari berbagai kejahatan tipu daya mereka, sedangkan Fir‘aun beserta kaumnya dikepung oleh seburuk-buruk azab. Neraka diperlihatkan kepada mereka (di alam barzakh) pada pagi dan petang. Pada hari terjadinya kiamat, (dikatakan,) “Masukkanlah Fir‘aun dan kaumnya ke dalam sekeras-keras azab!” (QS Gafir Ayat 45-46)
Ulama menjadikan kedua ayat tersebut sebagai dasar adanya siksa di alam barzakh.
"Fir‘aun beserta kaumnya dikepung oleh seburuk-buruk azab" maksudnya siksa yang dirasakan mereka ketika tenggelam di laut.
"Neraka diperlihatkan kepada mereka (di alam barzakh) pada pagi dan petang." Maksudnya siksaan di alam barzakh. Karena neraka tidak mungkin ditampakkan kepada mereka ketika mereka masih hidup di dunia, baik siang maupun sore.
"Pada hari terjadinya kiamat, (dikatakan,) “Masukkanlah Fir‘aun dan kaumnya ke dalam sekeras-keras azab!” Berarti pada hari kiamat, setelah mereka dihisab di hadapan Allah, mereka kemudian dimasukkan ke dalam neraka yang kekal.
Sementara itu, hadits yang menjelaskan siksa kubur sangat banyak, seperti hadits yang diriwayatkan Anas, Ibnu Mas'ud dan Ibnu Abbas.
Mereka meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya orang-orang yang mati akan disiksa di dalam kubir hingga hewan mendengar suara mereka." (HR Imam Ath-Thabrani)
"Sesungguhnya orang mati akan disiksa karena tangisan orang hidup." (HR Imam Bukhari)
Dengan kata lain, orang yang mati akan disiksa karena ratapan keluarganya. Hamba yang saleh tak ingin ditangisi dengan cara meratap. Sebab, ia menuju rahmat Allah. Ia akan merasakan rahmat tersebut setelah mati dan setelah dua malaikat bertanya kepadanya, memenangkannya dan memberi rasa aman kepadanya. Rahmat Allah tidak bisa disamakan dengan ratapan. Mungkin, arti hadits tersebut adalah seorang mayat yang saleh akan merasa tersiksa dengan ratapan keluarganya. Wallahu a'lam. (rep)
Tiga Perang Besar yang Membentuk Peradaban Islam Setelah Rasulullah Wafat
RADARPEKANBARU.COM - Sejumlah peperangan besar terja.








