Pasien RSUD Arifin Ahmad warga Kampar Kiri ini terpaksa pulang dalam kondisi memprihatinkan
Pekanbaru--Pasien laka lantas RSUD Arifin Ahmad An.Lasimin (36 Tahun) warga Kelurahan Lipat Kain Kacamatan Kampar Kiri Kabupaten Kampar Riau terpaksa dibawa pulang dalam kondisi memprihatinkan, dengan kondisi tulang pipi patah dan mata kiri tidak bisa melihat.

Suami dari Eli Tariani ini sempat bermalam di RSUD dengan menjalani perawatan menginap di Ruang Dahlia dengan fasilitas kelas III, menelan biaya puluhan juta rupiah.
Was-was dengan biaya yang terus membengkak akhirnya sang istri berinisiatif membawa pulang suami untuk dirawat dirumah saja akibat tidak berlakunya surat keterangan miskin yang diterbitkan pemerintah Kelurahan Lipat Kain.
Malangnya ketika pasien hendak dibawa pulang petugas RSUD Arifin Ahmad melarangnya dengan dalih harus membayar tagihan biaya perawatan selama lebih kurang 11 hari di rumah sakit milik pemprov Riau ini.
Demikian diungkapkan Ketua KNPI Kampar, Abu Nazar kepada Radar, rabu (01/12/2021) malam.
Menurut Abu sempat terjadi cekcok antara petugas administrasi dengan keluarga pasien hingga dirinya harus ikut turun tangan langsung untuk mencarikan jalan keluar.
"Ada tagihan sekitar Rp 19 juta yang harus dilunasi karena pasien miskin tidak lagi mendapatkan bantuan biaya berobat dari Jamkesda" kata Abu.
Abu menyayangkan insiden ini, sebagai potret kelam sebuah ironi bahwa era sekarang ini di Riau negeri yang kaya justru rakyat miskin tidak boleh sakit.
"Informasi dari dirut RSUD bahwa saat ini ada banyak tunggakan biaya berobat masyarakat miskin di Rumah Sakit dengan pola BLUD hanya mengejar profit oriented ini" kata Abu.
Lebih lanjut menurut Abu bahwa dirinya sempat terlibat adu mulut dengan petugas RSUD ketika pasien tidak boleh pulang sebelum membayar tagihan minimal setengah dari biaya yang tertera di kwitansi.
"Rakyat sudah susah masih dipersulit untuk makan saja payah apalagi harus membayar uang puluhan juta" kata Abu.
Abituren Darun Nahdho ini terpaksa meninggalkan KTP pribadinya sebagai jaminan bahwa pasien akan kooperatif akan membayar biaya selama di RSUD dengan cara dicicil.
"Akhirnya bisa dicicil, besok pasien sudah bisa dibawa pulang ke lipat kain" tambah Abu.
Masih menurut Abu bahwa dirinya merasa biaya perawatan Rp 19 juta selama di inapkan di ruang kelas III itu tidak masuk akal.
"Tadi saya lihat ada biaya tindakan operasi plastik Rp 11 juta, padahal pasien tidak ada menjalani operasi plastik hanya dijahit ala mantri saja, apa-apaan ini, "kata Abu.
Ini yang kadang-kadang kita merasa bahwa pasien miskin juga seolah/diduga diperas oleh oknum pegawai rumah sakit.
"Semoga ini bisa kita ambil hikamahnya dan yang kata dirut bahwa RSUD sudah banyak tunggakan pasien miskin ini juga harus menjadi PR bagi dinas kesehatan dan Gubernur Riau tolong cari solusi, ini masyarakat miskin harusnya gratis jangan lagi dibebani dengan biaya berobat" tutup Abu (*)


Sidang Pembacaan Tuntutan Abdul Wahid CS Digelar Hari Ini
RADARPEKANBARU.COM - Perkara dugaan korupsi yang men.
Percepat Pembangunan Daerah, Pemko Pekanbaru Gandeng Pemerintah Kota Bandung
RADARPEKANBARU.COM - Pemerintah Kota (Pemko) Pekanba.
Dua Waste Station di Pekanbaru Sudah Bisa Penukaran Sampah
RADARPEKANBARU.COM - Pemko Pekanbaru telah men.
Progres Proyek Tol Lingkar Pekanbaru Capai 77 Persen
RADARPEKANBARU.COM - Pembangunan proyek Tol Lingkar .
Waspada Penipuan, Basarnas Tidak Pernah Meminta Uang Dalam Operasi SAR
RADARPEKANBARU.COM - Basarnas Pekanbaru mengimbau ma.
Plt Gubri Larang Sekolah Lakukan Perpeloncoan Saat MPLS
RADARPEKANBARU.COM - Masa Pengenalan Lingkungan Seko.








