RADARPEKANBARU.COM - Angan-angan yang terus dipelihara dalam hati dan pikiran dapat menjadi pintu menuju kemaksiatan. Terlebih ketika bayangan tersebut berulang kali hadir hingga berkembang menjadi angan-angan batil dan cita-cita batil yang tidak benar, yang pada akhirnya dapat menguasai jiwa serta menjauhkan seseorang dari hakikat kebenaran.
Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dalam kitabnya, Ad-Da' wa ad-Dawa menerangkan bahwa bayangan yang terlintas dalam hati dan pikiran lebih sukar dilepaskan. Ia merupakan permulaan dari kebaikan atau kejahatan, karena dari situlah muncul kehendak, angan-angan, dan kemauan yang kuat. Siapapun yang mampu menjaga dan memelihara bayangan yang terlintas dalam hati serta pikirannya, maka ia telah mampu menguasai dirinya dari amarah dan hawa nafsu.
Sebaliknya, orang yang dikuasai atau dikalahkan oleh bayangan dalam hati dan pikirannya, maka hawa nafsunya akan mendominasi hingga ia mudah terjerat dalam kemaksiatan dan kekejian. Terlebih lagi jika bayangan itu terlintas secara berulang-ulang dalam hati hingga akhirnya berubah menjadi angan-angan batil dan cita-cita yang tidak benar.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
Orang-orang yang kufur, amal perbuatan mereka seperti fatamorgana di tanah yang datar. Orang-orang yang dahaga menyangkanya air, hingga apabila ia mendatanginya, ia tidak menjumpai apa pun. (Sebaliknya,) ia mendapati (ketetapan) Allah (baginya) di sana, lalu Dia memberikan kepadanya perhitungan (amal-amal) dengan sempurna. Allah sangat cepat perhitungan-Nya. (QS An-Nur Ayat 39)
Orang yang paling buruk kemauannya dan paling rendah jiwanya ialah orang yang rela menggantikan hakikat kebenaran dengan angan-angan yang batil, kemudian memberi angan-angan tersebut tempat di dalam jiwanya. Jika ia menjadi pedagang, ia menjadi pedagang yang rusak. Semua itu menjadi makanan pokok bagi jiwa yang kosong, yang merasa puas dengan kehadiran khayalan-khayalan, kedustaan hakiki, dan cita-cita semu.
Perbuatan tersebut sangat berbahaya bagi seseorang karena dapat melahirkan kelemahan, kemalasan, sikap pasif, kecemasan, dan penyesalan. Orang yang suka berangan-angan berarti telah kehilangan kesadaran akan hakikat dalam dirinya. Bayangan dalam hatinya menancap kuat. Hal itu membuka peluang bagi kesinambungan khayalan-khayalan semu. Semua itu tidak mendatangkan kebaikan apa pun. Tak ubahnya seperti orang yang lapar dan haus, yang berangan-angan tentang makanan dan minuman, namun tidak mampu meraihnya.
Memanjakan Angan-Angan Tanda Rendahnya Jiwa
Ibnu Qayyim al-Jauziyyah menerangkan, membiarkan dan memanjakan angan-angan menunjukkan rendahnya jiwa seseorang. Hanya dengan kemuliaan jiwa, kecerdasan, kesucian, dan ketinggian derajat, semua bayangan yang buruk dapat dihilangkan.
Menurut Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, bayangan positif yang terlintas di dalam hati berkisar pada empat pokok. Pertama, bayangan yang berkaitan dengan manfaat keduniaan. Kedua, bayangan yang terlintas di dalam hati untuk menangkal hal-hal yang merugikan dunia. Ketiga, bayangan yang terlintas di hati tentang kemaslahatan akhirat. Keempat, bayangan yang terlintas di hati untuk menangkal segala sesuatu yang merugikan akhirat.
Seorang hamba harus membatasi bayangan yang melintas dalam hati dan pikirannya pada empat pokok di atas. Jika keempat pokok tersebut memungkinkan untuk digabungkan, maka tidak perlu ada yang ditinggalkan. Namun, jika keempatnya saling berdesakan untuk muncul dalam diri seorang hamba, sebaiknya ia mendahulukan yang terpenting, yaitu perkara yang dikhawatirkan akan hilang. Adapun perkara yang tidak penting dan tidak dikhawatirkan hilang, dapat didahulukan kemudian.(rep)