RADARPEKANBARU.COM - Mengapa ada orang yang bergelimang harta, jabatan, dan berbagai kesenangan dunia, tetapi hidupnya tetap terasa hampa?
Sebaliknya, mengapa ada orang yang hidup sederhana, namun wajahnya memancarkan ketenangan dan kebahagiaan?
Pertanyaan ini telah dijawab dengan sangat mendalam oleh Ibn al-Qayyim. Menurut dia, manusia sering keliru memahami hakikat kenikmatan. Banyak orang mengira bahwa kenikmatan terbesar adalah harta, makanan, kekuasaan, atau syahwat.
Padahal, semua itu hanyalah kenikmatan yang sementara, bahkan sebagian justru dapat menjadi jalan menuju kesengsaraan.
Dalam kitab al-Jawab al-Kafi li Man Sa'ala 'an ad-Dawa' asy-Syafi, Ibn al-Qayyim menjelaskan bahwa kenikmatan dunia terbagi menjadi tiga macam.
Pertama, kenikmatan yang mengantarkan ke surga
Jenis pertama adalah kenikmatan yang membawa seseorang kepada kenikmatan akhirat. Inilah kenikmatan yang paling tinggi, paling sempurna, dan paling dicintai Allah.
Seorang mukmin tidak hanya mendapatkan pahala dari ibadah mahdhah seperti shalat dan puasa.
Bahkan perkara-perkara mubah seperti makan, minum, berpakaian, bekerja, mencari nafkah, hingga hubungan suami istri dapat berubah menjadi ibadah apabila diniatkan untuk mencari ridha Allah.
Karena itu, seorang mukmin diberi pahala atas seluruh kenikmatan yang ia gunakan sebagai sarana mendekat kepada Allah.
Namun, di atas semua kenikmatan itu, Ibn al-Qayyim menegaskan bahwa tidak ada yang lebih agung daripada nikmat mengenal Allah, mencintai-Nya, merindukan perjumpaan dengan-Nya, dan berharap dapat memandang wajah-Nya kelak di surga.
"Kenikmatan terbesar di dunia tanpa pengecualian adalah kenikmatan mengenal Allah, mencintai-Nya. Itulah surga dunia dan kenikmatan yang paling tinggi. Dibandingkan dengannya, seluruh kenikmatan dunia yang fana hanyalah setetes air di tengah lautan. Ruh, hati, dan jasad manusia diciptakan untuk tujuan itu. Mengenal Allah dan mencintai-Nya merupakan penyejuk mata, kebahagiaan ruh, kegembiraan hati, serta kenikmatan sejati dalam kehidupan dunia. Bahkan seluruh kenikmatan dunia yang memutus hubungan seseorang dari Allah pada akhirnya akan berubah menjadi penderitaan dan siksa. Pemiliknya hanya akan berada di kehidupan yang sempit. Tidak ada kehidupan yang benar-benar baik kecuali bersama Allah."
Kalimat inilah yang menjadi inti seluruh pembahasan beliau tentang hakikat kebahagiaan.
Kedua, kenikmatan yang berujung penyesalan
Jenis kedua adalah kenikmatan yang justru menghalangi seseorang dari kenikmatan akhirat. Kenikmatan ini tampak indah di awal, tetapi berakhir dengan penderitaan.
Allah menggambarkan keadaan orang-orang yang tenggelam dalam kesenangan dunia tanpa mengingat akhirat:
"Dan (ingatlah) pada hari ketika Dia mengumpulkan mereka semua (dan Allah berfirman), "Wahai golongan jin! Kamu telah banyak (menyesatkan) manusia." Dan kawan-kawan mereka dari golongan manusia berkata, "Ya Tuhan, kami telah saling mendapatkan kesenangan dan sekarang waktu yang Engkau tentukan buat kami telah datang." Allah berfirman, "Nerakalah tempat kamu selama-lamanya, kecuali jika Allah menghendaki lain." Sungguh, Tuhanmu Mahabijaksana, Maha Mengetahui." (QS al-An'am: 128)
Contohnya adalah kenikmatan yang diperoleh melalui kemaksiatan, seperti syirik, zina, minuman keras, kezaliman, kesombongan, dan berbagai dosa lainnya.
Menurut Ibnu al-Qayyim, semua kenikmatan seperti itu pada hakikatnya merupakan istidraj, yaitu Allah membiarkan seseorang terus menikmati kesenangan agar akhirnya ia merasakan azab yang jauh lebih berat.
Allah berfirman:
Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, akan Kami biarkan mereka berangsur-angsur (ke arah kebinasaan), dengan cara yang tidak mereka ketahui.
Dan Aku akan memberikan tenggang waktu kepada mereka. Sungguh, rencana-Ku sangat teguh." (QS al-A'raf: 182–183)
Sebagian ulama salaf berkata ketika menafsirkan ayat ini, "Setiap kali mereka melakukan satu dosa, Allah tambahkan satu nikmat kepada mereka."
Ketiga, kenikmatan yang mubah
Jenis ketiga adalah kenikmatan yang dibolehkan syariat. Makan, minum, berpakaian, memiliki rumah, kendaraan, dan berbagai fasilitas hidup termasuk di dalamnya.
Kenikmatan seperti ini tidak berdosa, tetapi juga tidak otomatis bernilai ibadah apabila tidak digunakan untuk mendekat kepada Allah. Rasulullah SAW bersabda:
"Setiap bentuk hiburan yang dilakukan seseorang adalah sia-sia, kecuali memanah dengan busurnya, melatih kudanya, dan bercanda dengan istrinya. Sesungguhnya ketiganya termasuk perkara yang benar." (HR Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Hibban)
Artinya, seluruh kenikmatan dunia seharusnya menjadi sarana menuju tujuan yang lebih besar, yaitu keridhaan Allah.
Dalam kitab Shaid al-Khathir, Imam Ibnu al-Jauzi mengingatkan bahwa manusia sering salah memahami kebahagiaan.
Dia mengingatkan, "Para pencari dunia telah lalai dari hakikat kenikmatan. Padahal kenikmatan dunia yang sebenarnya adalah kemuliaan ilmu, indahnya menjaga kehormatan diri, kemuliaan harga diri, kemuliaan sifat qana'ah, dan manisnya berbuat baik kepada sesama manusia."
"Adapun menjadikan makanan dan hubungan suami istri sebagai puncak kenikmatan hanyalah kesibukan orang yang tidak mengenal hakikat kenikmatan. Sebab keduanya hanyalah sarana menjaga tubuh dan keturunan," kata dia.
Ibnu al-Jauzi juga mengingatkan bahwa mengejar harta tanpa batas bukanlah kebebasan, melainkan bentuk perbudakan.
"Orang yang terus mengejar harta sejatinya hanyalah budak sekaligus penjaga hartanya sendiri. Siang malam ia dihantui rasa takut kehilangan harta tersebut."(rep)