UI Undang Dua Budayawan Melayu Riau Pada Seminar Nasional Budaya Melayu

Dibaca: 3323 kali  Jumat,01 Desember 2017
UI Undang Dua Budayawan Melayu Riau Pada Seminar Nasional Budaya Melayu
Ket Foto : Pengurus Keluarga Melayu Chevron Riau Buya Ahmadi Ahmad, Budayawan Melayu Riau Drh. Chaidir MM dan Tokoh Muda dari MALAYA Palembang Datuk Panglimo Nalo (Foto dari kiri ke kanan)

RADARPEKANBARU.COM- Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB-UI) mengadakan Seminar Nasional dengan tema ‘Memori Kolektif dalam Budaya Melayu’,  dilaksanakan pada Kamis, 30 November  2017 pukul 09.00-16.00 bertempat di Auditorium Gedung IV, Kampus UI Depok.

Seminar ini memfokuskan pada kajian tradisi Melayu yang dianggap sebagai salah satu fondasi untuk membangun karakter bangsa Indonesia, yang ditinjau secara memori historis maupun berdasarkan kekiniannya.

Dalam konteks historis akar tradisi Melayu telah meruang sesuai dengan penyebaran budaya Melayu dan diaspora masyarakat Melayu yang dideskripsikan maupun direpresentasikan oleh naskah-naskah Melayu kuno, artefak, tradisi lisan, sejarah Melayu, dan tradisi-tradisi Melayu lainnya.

Seminar ini mengundang beberapa pakar dan budayawan ternama dalam kajian budaya Melayu, yang dikemas dalam bentuk diskusi panel.

Hadir sebagai narasumber Budayawan Melayu Riau Drh. Chaidir MM, pengurus Keluarga Melayu Chevron Riau Buya Ahmadi Ahmad, Tokoh Muda dari MALAYA Palembang Datuk Panglimo Nalo, Anggota Dewan penasihat Lembaga Kajian UI Dr. Phil Lily Tjahjandari, selain itu acara juga dihadiri oleh para tokoh Melayu serantau lainnya, para dosen serta mahasiswa Ilmu budaya serta perwakilan Dirjen Kebudayaan RI.

Dalam seminar dibahas tentang diberlakukannya Traktat London, Mei 1824, secara politik memang membelah dunia Melayu ke dalam dua kekuasaan kolonial yang berbeda, Inggris dan Belanda.

Tetapi hubungan sosio-kultural masyarakat di kawasan itu tetap tidak terganggu oleh keputusan politik itu. Jadi, hubungan sosio-kultural masyarakat Melayu ternyata tidak dapat dipisahkan begitu saja oleh sekat-sekat politik.

Tidaklah hal itu merupakan modal yang sangat berharga bagi usaha-usaha mengangkat kembali keagungan Melayu sebagai sebuah puak kebudayaan?

Dalam konteks itulah, isu keserumpunan berpeluang menjadi alat perekat. Ia dapat dimanfaatkan untuk menggugah emosi kemelayuan dalam kerangka keserumpunan (regional) dan dalam kerangka hubungan antarbangsa (global).

Lembaga Kajian Indonesia FIB UI sangat concern atas kejayaan Melayu terus berupaya mendorong agar kegemilangan itu tegak kembali. salah satu upaya yang sedang dilakukan adalah dengan mengadakan rangkaian seminar nasional dan internasional secara rutin dan berkesinambungan di negara serantau ASEAN.

Pada sesi pertama Budayawan Melayu Riau Drh.Chaidir MM berkesempatan menyampaikan materi 'Keberadaan Serambi Melayu'.

Chaidir mengatakan bahwa Melayu sebagai serambi budaya Indonesia  sangat identik dengan nilai-nilai keislaman, melalui khazanah Islam yang terkandung dalam kehidupan budaya Melayu.

"Khazanah tersebut terkait dengan nilai-nilai pendidikan, nilai-nilai Etika dan nilai-nilai moral,"ujarnya.

Lebih  lanjut dikatakan Drh. Chaidir MM
Melayu juga sangat identik dengan Islam.

"bahkan sebagian orang menyebut bahwa Islam adalah melayu, melayu bukan hanya suku namun juga identitas bangsa yang identik dengan keislaman, " katanya.

Selanjutnya pada kesempatan sesi kedua budayawan Riau Buya Ahmadi Ahmad berkesempatan menyampaikan materi 'akar kebudayaan melayu'. (rls)

Pengirim : Badar

Akses RadarPekanbaru.Com Via Mobile m.RadarPekanbaru.rom
Berita Terkait Index »
Tulis Komentar Index »