Indahnya Ramadhan, Suara Gamelan Sahur di Tanah Melayu Kampar

Dibaca: 23599 kali  Selasa,30 Juni 2015
Indahnya Ramadhan, Suara Gamelan Sahur di Tanah Melayu Kampar
Ket Foto : sejumlah anak muda dari masyarakat transmigrasi asal Jawa di Kabupaten Kampar Provinsi Riau. Mereka menenteng alat musik gamelan, gitar, dan pipa paralon sebagai gendang sambil keliling kampung.

RADARPEKANBARU.COM- Inilah kreativitas sejumlah anak muda dari masyarakat transmigrasi asal Jawa di Kabupaten Kampar Provinsi Riau. Mereka menenteng alat musik gamelan, gitar, dan  pipa paralon sebagai gendang sambil keliling kampung.

Mereka ini berada dari Desa Bukit Kemunking SP 3, Kecamatan Tapung Hulu, Kab Kampar, Riau. Kawasan ini merupakan para petani transmigrasi asal Jawa yang sudah menetap lama di sana.

Sekelompok pemuda berjumlah 8 orang yang dikomandoi Tembong (20). Kelompok pemuda ini dalam membangunkan sahurnya membentuk 'band' ala mereka sendiri. Pantauan dilapangan, Minggu (28/6/2015) alat musiknya, ada gamelan mini yang bisa ditenteng, gendang terbuat dari pipa paralon, gitar kecil.

Alat musik tradisional  itu mereka tenteng keliling kampung yang dimulai sejak pukul 02.30 WIB dan akan berakhir pukul 04.00 WIB. Mereka rela berjalan kaki sekitar 4 km untuk berkeliling kampung membangunkan warga untuk makan sahur.

Dengan alat musik sederhana tersebut, para pemuda ini tanpa pamrih terus berdendang untuk membangunkan warga di sana. Lantunan suara musik  saling beriringan menggemparkan warga desa setiap paginya sejak awal ramadan.

Lagu yang mereka bawakan sambil keliling kampung, tentunya salawatan. Ada juga lagu-lagu campur sari dengan persi mereka sendiri. Sesekali juga lagu anak-anak muda masa kini dengan nada versi mereka sendiri juga. Mereka juga berjoget ria di tengah jalan untuk meramaikan suasana.

Mereka tidak mengenal lelah. Dari rumah mereka masing-masing, nantinya mereka berkumpul satu tempat. Dari sana berjalan kaki hingga ke kampung yang paling akhir. Saat berkeliling, tiga orang di ntaranya juga membawa motor.

"Motor ini berfungsi saat kita sudah selesai membangunkan sahur di kampung paling akhir, kita akan pulang naik motor, untuk mengejar makan sahur," kata Tembong (21) salah satu dari kelompok pemuda tersebut.

Mereka mengaku tidak mendapatkan bayaran dari siapapun. Namun mereka ihklas selama bulan ramadan ini membangunan warga dengan cara mereka sendiri. Apa lagi mereka bermain musik keliling di tengah kesunyian malam di sebuah desa. Maka lantunan musik yang mereka mainkan  terdengar dengan jelas. Mereka dengan senang hati, bergembira dengan cara mereka sendiri.

"Pokoknya kita seneng aja, keliling kampung membanguni sahur. Hitung-hitung sekalian cari jodoh, mana tau ada yang mau," celetuk Eko peserta lainnya.

Sementara itu, warga desa setempat, mengaku terhibur dengan kreativitas sekelompok pemuda ini. Kadang ada warga yang penasaran, siapa sebenarnya mereka ini sampai niat tengah malam membanguni sahur.

"Saya penasaran siapa mereka ini, dan akhirnya saat melintas depan rumah saya keluar melihat aksi mereka. Tapi kami terbantu dan terhibur," kata mbah Sastro (75).
(cha/try/detik)

Akses RadarPekanbaru.Com Via Mobile m.RadarPekanbaru.rom
Berita Terkait Index »
Tulis Komentar Index »