• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
  • Home
  • Politik
    • Kabupaten Kuansing
    • Kabupaten Rokan Hilir
    • Kabupaten Rokan Hulu
    • Kota Pekanbaru
    • Kota Dumai
    • Kabupaten Siak
    • Kabupaten Pelalawan
    • Kabupaten Kampar
    • Kabupaten Indragiri Hulu
    • Kabupaten Indragiri Hilir
    • Kabupaten Bengkalis
    • Kabupaten Kepulauan Meranti
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Parlemen
  • Olahraga
  • Nasional
  • Riau
    • fokus riau
  • More
    • Hukrim
    • Life Style
    • Dakwatuna
    • Opini
    • Video
    • Pilihan Editor
    • Terpopuler
    • Galeri
    • Indeks
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
  • Politik
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Parlemen
  • Olahraga
  • Nasional
  • Riau
  • Hukrim
  • Life Style
  • Dakwatuna
  • Opini
  • Video
  • Kabupaten Kepulauan Meranti
  • Kabupaten Bengkalis
  • Kabupaten Indragiri Hilir
  • Kabupaten Indragiri Hulu
  • Kabupaten Kampar
  • Kabupaten Pelalawan
  • Kabupaten Siak
  • Kota Dumai
  • Kota Pekanbaru
  • Kabupaten Rokan Hulu
  • Kabupaten Rokan Hilir
  • Kabupaten Kuansing
  • fokus riau
  • Pilihan Editor
  • Terpopuler
  • Indeks
Masukkan Kata Kunci atau ESC Untuk Keluar
PILIHAN +INDEKS
Darmilis Dorong Transformasi Zakat Riau, BAZNAS Diharapkan Jadi Penggerak Kemandirian Umat
Dibaca : 1992 Kali
Tirta Meyrizka Lubis Bikin Bangga Riau, Bersinar di Ajang Duta Muslimah Preneur Indonesia 2026
Dibaca : 4334 Kali
Tingkatkan Mutu Pendidikan, SMKN 1 Tapung Hulu Siapkan Lulusan Siap Kerja dan Siap Membuka Lapangan Pekerjaan
Dibaca : 4338 Kali
SMAS Adven Pasir Putih Mulai Buka PPDB 2026/2027, Perkuat Pendidikan Karakter dan Akademik
Dibaca : 4285 Kali
PPDB 2026/2027 Dibuka, SMAN 6 Tapung Fokus Tingkatkan Mutu Pendidikan dan Prestasi Siswa
Dibaca : 4405 Kali

  • Home
  • Dakwatuna

Inilah Rosmiati, Bidan Teladan yang Bertugas di Tengah Hutan Inhil

Redaksi Radarpku

Rabu, 21 Desember 2016 23:44:47 WIB
Cetak
Inilah Rosmiati, Bidan Teladan yang Bertugas di Tengah Hutan Inhil
Bidan Rosmiati saat bertugas

RADARPEKANBARU.COM- Masih banyak wilayah Indonesia yang memiliki infrastruktur medis minim. Antara lain, pedalaman Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Riau, tempat bidan Rosmiati bertugas. Untuk dirujuk ke rumah sakit terdekat, pasien mesti ditandu dan menyeberangi sungai berjam-jam.

Penampilannya sederhana dan apa adanya, tapi kreatif. Itulah sosok Rosmiati. Bidan yang bertugas di Puskesmas Pembantu Desa Tunggal Rahayu Jaya, Kecamatan Telukbelengkong, Inhil, itu berhasil menelurkan gagasan cemerlang di tengah kondisi infrastruktur kesehatan yang jauh dari kata layak.

Dalam sebuah wawancara beberapa waktu lalu, peraih piala Satu Indonesia 2012 itu bertutur panjang lebar soal suka-duka berdinas di pedalaman Inhil. "Tempat saya benar-benar terpencil, jauh sekali dari kota. Aliran listrik tidak menyala 24 jam setiap hari," ungkap perempuan kelahiran Riau, 27 Oktober 1984, itu.

Alumnus D-3 Akademi Kebidanan Padang 2007 tersebut menjadi bidan PTT (pegawai tidak tetap) mulai 2008 di Pemkab Indragiri Hilir. Dia lalu ditempatkan di desa terpencil di tengah hutan itu.

Baru bertugas, dia sudah dihadapkan pada kondisi kesehatan masyarakat setempat yang memprihatinkan. Yakni, angka kematian ibu dan bayi baru lahir yang cukup besar. "Untuk ukuran desa kecil, angka kematian satu jiwa saja sudah besar," katanya. Di desa itu ada sekitar 1.030 jiwa penduduk.

Istri Juslamin itu berterus terang, gaji pokok sebagai bidan PTT di Inhil Rp 1,2 juta per bulan. Sebagai bidan yang bekerja di daerah khusus, Rosmiati mendapat tunjangan khusus Rp 2 juta per bulan. Dia mengaku penghasilan tersebut sudah cukup untuk hidup bersama suami dan anaknya.

Rosmiati menuturkan, pada awal-awal bertugas sebagai bidan desa, dirinya sering dihadapkan pada kasus-kasus kehamilan dan kelahiran yang ekstrem. Misalnya, dia pernah diminta menolong menangani kasus kelahiran di pedalaman kebun sawit.

"Kasus itu terjadi di kecamatan tetangga. Tapi, karena bidan desanya kosong, saya diminta menolong kelahiran perempuan itu," ujar ibu Rizqi Astra Nugraha, 5 bulan, tersebut.

Padahal, untuk sampai ke lokasi pasien, dirinya harus naik motor dengan jalan tanah yang bergelombang. Karena belum hafal jalan, Rosmiati dan si pengantar berkali-kali tersesat di tengah hutan. Setelah sampai di lokasi, ternyata sudah enam jam ari-ari si bayi tidak keluar dari rahim ibunya.

"Pendarahannya lumayan hebat. Tetapi, bayinya berhasil dikeluarkan dengan selamat berkat bantuan dukun," tegasnya.

Tanpa pikir panjang, Rosmiati langsung merujuk ibu yang kritis itu ke RSUD Pemkab Indragiri Hilir. Namun, evakuasinya sungguh berat. Sebab, di desa tersebut tidak ada ambulans yang siaga. Karena itu, evakuasi terpaksa dilakukan dengan cara manual. Pasien dibawa ke rumah sakit dengan ditandu warga.

Agar tidak kepanasan, pasien dipayungi dengan dedaunan seadanya. Selama hampir dua jam perjalanan, rombongan pasien akhirnya sampai di bibir sungai. Mereka harus menyeberangi sungai yang dalam dan deras untuk bisa menuju RSUD Pemkab Indragiri Hilir.

Penyeberangan itu butuh waktu sangat lama. Lebih dari empat jam. Nahas bagi si ibu. Dia kehabisan darah dan meninggal di atas perahu.

Kasus tersebut menjadi pelajaran berharga buat Rosmiati. Mulai saat itu, dia memperhatikan kondisi pasiennya secara lebih saksama. "Risiko penyulit persalinan sekecil apa pun harus diantisipasi," tegasnya sebagaimana dikutip potretnews.com dari jpnn.com (terbitan Rabu, 10 April 2013 , 00:11:00).

Rosmiati juga menyiagakan sebuah "ambulans" perahu untuk mengangkut pasien yang perlu menyeberangi sungai menuju RSUD di kabupaten. Hanya, untuk sampai ke "ambulans" tersebut, pasien tetap harus ditandu berjam-jam naik turun perbukitan.

Rosmiati menambahkan, persoalan tidak berhenti di situ. Biaya "ambulans" perahu yang mahal juga menjadi ganjalan bagi warga desanya yang kebanyakan kalangan ekonomi rendah. Tarif perahu itu Rp 2 juta-Rp 6 juta per pasien, bergantung jarak yang ditempuh.

Rosmiati pun berpikir keras untuk mengatasi masalah tersebut. Dia akhirnya mendapat ide dengan menggalang dana kesehatan. Yakni, penarikan iuran wajib Rp 2 ribu per kepala keluarga setiap bulan. Dana yang terkumpul diberikan kepada warga yang bersalin. Besarnya sekitar Rp 500 ribu. Tapi, jika warga tersebut harus dirujuk ke RSUD, dana yang diterima juga semakin besar. Yakni, sekitar Rp 1 juta.

Rosmiati juga menggagas tabungan ibu bersalin. Bedanya, nominal tabungan tersebut tidak dipatok. "Kalau tabungan ini, nominalnya terserah warga dan khusus bagi yang hamil saja," terang dia.

Karena nominalnya tidak ditentukan, jumlah tabungan yang dikumpulkan masyarakat bervariasi. Dia mencatat, rekor tabungan persalinan paling banyak mencapai Rp 2 juta. Jika ditambah santunan dana kesehatan yang dia terima, nominal itu sudah cukup untuk ongkos bersalin ke RSUD setempat. "Tetapi, ada juga yang tabungan persalinannya hanya Rp 30 ribu hingga menjelang kelahiran," katanya lantas tersenyum.

Yang jelas, berapa pun tabungan yang terkumpul akan dikembalikan secara utuh kepada pasien. Rosmiati tidak menarik potongan sepeser pun dari tabungan tersebut.

Semangatnya saat ini adalah berkampanye agar semakin banyak warga yang bersedia menabung untuk mempersiapkan persalinan. Sebab, tidak ada yang bisa memperkirakan persalinan akan berlangsung lancar. Dana tabungan pasti akan sangat bermanfaat bagi warga yang bersangkutan.

Rosmiati yang menjadi koordinator bidan tingkat kecamatan itu sangat bersyukur karena peralatan medis di tempatnya bekerja kini lebih komplet. Sebab, akhir tahun lalu, dia menjadi pemenang penghargaan Satu Indonesia 2012 untuk kategori bidang kesehatan. Hadiah yang diterima berupa uang Rp 55 juta. Penghargaan itu diprakarsai Astra Internasional. "Sebagian uangnya saya belikan peralatan medis untuk kelengkapan puskesmas kami," tuturnya.

Sebagai satu-satunya tenaga medis di desa terpencil dengan tingkat kehamilan warganya yang rapat serta ancaman berbagai penyakit, Rosmiati berharap bisa diangkat menjadi PNS (pegawai negeri sipil). "Supaya saya bisa bekerja dengan tenang," ungkapnya.

Selain itu, dia berharap ada penambahan jam singgah perahu atau speedboat ambulans. Selama ini, ambulans terapung masih langka karena harus melayani desa-desa lain di kecamatan itu. Jika di setiap desa ada satu ambulans terapung yang siaga 24 jam, pasien yang dirujuk ke RSUD pun akan cepat tertangani. "Kalau perahu umum, selain harus menyewa, antrenya lama. Kita juga harus carter (sewa)," ujarnya. (PTN)


BERITA LAINNYA +INDEKS
Dakwatuna

Kunci Mempertahankan Rumah Tangga di Tengah Merebaknya Pancaroba

Kamis, 01 Oktober 2026 - 11:27:41 WIB

RADARPEKANBARU.COM - Mempertahankan keutuhan rumah tangga dalam masa sekarang ad.

Dakwatuna

Rasulullah Ungkap Perbedaan Nasib Ruh Orang Beriman dan Kafir Setelah Mati

Rabu, 30 September 2026 - 06:15:05 WIB

Rasulullah SAW menjelaskan perbedaan nasib.

Dakwatuna

Hakikat Rumah Tangga Ladang Ibadah

Senin, 28 September 2026 - 10:53:47 WIB

RADARPEKANBARU.COM - Berumah tangga bagi seorang Mus.

Dakwatuna

Mengapa Allah Menyukai Hamba yang Berdoa? Ini Penjelasan Imam Al-Ghazali

Sabtu, 26 September 2026 - 09:59:19 WIB

RADARPEKANBARU.COM - Doa bukan sekadar permohonan se.

Dakwatuna

Salah Satunya Pahala Syahid, Ini 5 Hukum Khusus Terkait Korban Jiwa Tenggelam Menurut Islam

Jumat, 25 September 2026 - 09:46:43 WIB

RADARPEKANBARU.COM - Di antara bentuk kemurahan dan .

Dakwatuna

Jangan Terlalu Memuji Orang , Lalu Harus Bagaimana? Ingat Selalu Pesan Rasulullah SAW Ini

Kamis, 24 September 2026 - 09:03:00 WIB

RADARPEKANBARU.COM - Seringkali kita mendengar seseo.

TULIS KOMENTAR +INDEKS


Terkini +INDEKS
APBD-P Kuansing 2026 Ketok Palu Rp1,6 Triliun
01 Oktober 2026
Hujan Berpeluang Guyur Hampir Seluruh Riau Siang hingga Sore
01 Oktober 2026
Kejati Riau-KPU Sepakati Kerja Sama Tata Kelola dan Kepastian Hukum
01 Oktober 2026
Kunci Mempertahankan Rumah Tangga di Tengah Merebaknya Pancaroba
01 Oktober 2026
Trump Ganti Istilah AI jadi Super Intelligence
01 Oktober 2026
KPK: Fasilitas Mewah Jimmy Masrin di Lapas Cibinong Rusak Efek Jera Pemidanaan
01 Oktober 2026
SF Hariyanto Dorong PMI Riau Kembangkan Bank Darah
30 September 2026
Pelanggaran Meningkat, Satlantas Polresta Pekanbaru Edukasi dan Tertibkan Pengguna Motor
30 September 2026
Kota Pekanbaru Kini Punya Perda Penyandang Disabilitas
30 September 2026
Rasulullah Ungkap Perbedaan Nasib Ruh Orang Beriman dan Kafir Setelah Mati
30 September 2026
TERPOPULER +INDEKS
  • 1 APBD-P Kuansing 2026 Ketok Palu Rp1,6 Triliun
  • 2 Hujan Berpeluang Guyur Hampir Seluruh Riau Siang hingga Sore
  • 3 Kejati Riau-KPU Sepakati Kerja Sama Tata Kelola dan Kepastian Hukum
  • 4 Kunci Mempertahankan Rumah Tangga di Tengah Merebaknya Pancaroba
  • 5 Trump Ganti Istilah AI jadi Super Intelligence
  • 6 KPK: Fasilitas Mewah Jimmy Masrin di Lapas Cibinong Rusak Efek Jera Pemidanaan
  • 7 SF Hariyanto Dorong PMI Riau Kembangkan Bank Darah

PT. Radar Indomedia Pers
JL. Arifin Ahmad Blok B Nomor 08 ( Belakang Green Hotel ), Pekanbaru - Riau
Email: [email protected]

Tentang Kami
Redaksi
Pedoman Pemberitaan
Info Iklan
Kontak
Disclaimer

©2021 Radarpekanbaru.com