Lemah Lembut, Sifat Dasar Para Nabi
RADARPEKANBARU.COM - "Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik serta debatlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang paling tahu siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia (pula) yang paling tahu siapa yang mendapat petunjuk." Demikian terjemahan Alquran surah an-Nahl ayat ke-125.
Perintah ber-amar ma'ruf nahi munkar bagi setiap umat Islam menunjukkan perhatian Allah terhadap hamba-hamba-Nya. Dengan mengikuti petunjuk-Nya, manusia insya Allah senantiasa dalam keadaan mulia, tidak terjerumus ke dalam kemaksiatan.
Namun, tentunya orang tak bisa menggunakan segala cara untuk ber-amar ma'ruf nahi munkar. Banyak sekali kriteria yang harus dipenuhi oleh seorang penyeru (mubaligh).
Salah satu syarat yang wajib dipenuhi oleh setiap dai kebaikan dan pencegah keburukan adalah seperti disabdakan Nabi Muhammad SAW.
Tidaklah sepatutnya orang menyuruh yang makruf dan mencegah yang munkar, kecuali memiliki tiga sifat, yakni lemah lembut dalam menyuruh dan melarang, mengerti apa yang harus dilarang, dan adil terhadap apa yang harus dilarang" (HR Addailami).
Kelemah-lembutan adalah sifat dasar yang dimiliki setiap nabi Allah.
"Sungguh, benar-benar telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri. Berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, dan (bersikap) penyantun dan penyayang terhadap orang-orang Mukmin" (QS at-Taubat:128).
Karenanya, ketika mereka menyeru kaumnya, seruan itu senantiasa bersumber dari rasa kasih sayang yang mendalam, bukan kebencian atau dendam kesumat. Bila seruan mereka ditolak atau bahkan dibalas dengan keburukan, mereka tetap sabar dan berserah diri kepada-Nya.
Hal itu dicontohkan ketika Rasulullah SAW tatkala mengajak kaum Thaif supaya beriman kepada Allah. Seruan beliau itu agar mereka selamat dari penderitaan di dunia maupun akhirat. Justru, mereka membalasnya dengan lemparan batu dan potongan besi.
Ketika Nabi SAW menyandarkan tubuhnya sembari menahan letih dan rasa sakit di keningnya yang bocor terkena lemparan, datanglah malaikat menawarkan bantuannya. Namun, Nabi SAW menolak dengan halus dan mengatakan bahwa kaum yang telah menyakitinya itu tidak memahami apa yang mereka lakukan.
Maka, datanglah dua orang budak dengan was-was membawakan secangkir minuman atas perintah pemilik kebun di mana Nabi SAW bersandar.
Kemudian, Nabi SAW menerimanya dan membaca basmalah sebelum meminumnya. Mendengar bacaan itu dan melihat wajah Rasul SAW tanpa seraut kebencian, rasa takut kedua budak tadi berubah menjadi terpesona. Akhirnya, keduanya masuk Islam.
Lemah lembut memang sering diartikan secara apriori, bahkan dilecehkan. Lemah lembut pun sering dianggap dapat membuat kita hanyut.
Yang sesungguhnya terjadi adalah orang sering salah menafsirkan sifat lemah lembut. Kelemah-lembutan lebih menekankan pada sikap dan tutur kata yang terkendali dalam menghadapi segala persoalan, tanpa harus mengurangi esensi dari materi yang ingin diserukan.
Kita ingat komentar seorang khalifah Bani Umayah tatkala menghadapi pengritiknya yang membabi-buta. Sang amirul mukminin lalu membalas, ''Engkau telah membaca kejahatan Fir'aun dan kehebatan Musa AS. Sungguh, kejahatanku tidak seberat kejahatan Fir'aun dan kehebatanmu tidak melebihi Musa. Namun, Musa bisa bersifat lemah lembut dalam menyampaikan kebenaran kepada Fir'aun, sedangkan engkau tidak.''
Tentu saja: akan lebih paripurna jika setiap penyeru, baik rakyat maupun penguasa, telah terlebih dahulu memahami isi dan mengamalkan seruannya.(rep)








