Ketika Kemunafikan Terungkap
Dan, tentu saja Yahudi itu menolak tuduhan tersebut. Ia kemudian mengatakan bahwa Tu'mah bin Ubairiq, seorang tetangganya yang Muslim, adalah dalang di balik kasus ini.
Kaum Muslimin di lokasi lebih bersimpati kepada Tu'mah karena seiman, yakni sama-sama Muslim. Peristiwa ini kemudian dibawa kepada Rasulullah SAW untuk ditemukan solusinya.
Nabi SAW tidak begitu saja terbawa luapan emosi mereka. Setelah perkara itu diperiksa oleh beliau secara saksama, tanpa ada maksud selain menemukan kebenaran dan menegakkan prinsip-prinsip keadilan, hasilnya sangat mengejutkan. Atas dasar penyelidikan dan akhirnya keputusan Nabi SAW, maka orang Yahudi itu dibebaskan dari tuduhan.
Tu'mah memang selama ini mengaku sebagai Muslim, tetapi sebenarnya ia adalah orang munafik. Banyak perbuatan jahat dilakukannya.
Ia pun telah mencuri seperangkat pakaian perang. Ketika jejaknya diketahui, cepat-cepat barang hasil curian tersebut dilemparkannya ke rumah Yahudi tetangganya. Dan, di sanalah barang itu kemudian ditemukan.
Setelah perbuatan khianatnya diketahui, dia lari ke Mekah, bergabung dengan kaum musyrik.
Sepintas, peristiwa ini tidak penting, tetapi jangkauannya sangat luas. Sejak saat itu, Tu'mah selalu berupaya keras menjerumuskan Rasulullah SAW dan kaum Muslimin.
Ia dan golongannya yang ternyata orang-orang munafik itu hendak menjebak Rasulullah. Mereka ingin agar Nabi SAW salah menjatuhkan hukuman. Sudah tentu, ini akan dijadikan dalih untuk menuduh Nabi SAW telah bertindak sewenang-wenang.
Kisah Tu'mah ini, menurut sebagian kalangan penafsir Alquran, menjadi asbabun nuzul Alquran surah an-Nisa ayat 58. Artinya, "Sungguh, Allah menyuruhmu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaknya kamu menetapkannya dengan adil. Sungguh, Allah sebaik-baik yang memberi pengajaran kepadamu. Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Melihat."
Hindari sifat munafik
Nabi Muhammad SAW telah mengimbau umatnya agar berhati-hati terhadap sifat kemunafikan. Pada zaman beliau, kaum munafik bagaikan 'duri dalam daging' yang menyulitkan syiar Islam, tetapi enggan bermusuhan secara langsung terhadap Muslimin.
Allah SWT menyinggung perihal kaum munafik dalam firman-Nya. Beberapa ayat Alquran menggambarkan adanya dua tipe orang munafik.
Menurut Ahmad Fuad Effendy dalam Sudahkah Kita Mengenal Alquran? (2013), tipe yang pertama disinggung dalam surah al-Baqarah ayat 17-18. Terjemahan kedua ayat itu, "Perumpamaan mereka seperti orang-orang yang menyalakan api, setelah menerangi sekelilingnya, Allah melenyapkan cahaya (yang menyinari) mereka dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat. Mereka tuli, bisu dan buta, sehingga mereka tidak dapat kembali."
Dalam firman Allah itu, kaum munafik digambarkan pada mulanya bersedia merespons seruan Islam. Karena itu, mereka disebut "seperti orang-orang yang menyalakan api." Namun, respons itu demikian lemahnya, lalu diikuti keraguan. Sikap ragu-ragu itu berlanjut pada keengganan, dan akhirnya penolakan.
"Ketika banyak orang mengambil petunjuk dari cahaya Islam, mereka justru meninggalkannya. Maka Allah pun segera mencabut cahaya-Nya dari diri mereka, dan mereka kembali ke dalam kekufuran. Allah membuat mereka 'tuli, bisu dan buta' sehingga tak akan tahu jalan kebenaran," tutur Effendy.
Adapun tipe kedua digambarkan dalam Alquran surah al-Haj ayat ke-11. Artinya: "Dan di antara manusia ada yang menyembah Allah hanya di tepi; maka jika dia memperoleh kebajikan, dia merasa puas, dan jika dia ditimpa suatu cobaan, dia berbalik ke belakang. Dia rugi di dunia dan di akhirat. Itulah kerugian yang nyata."
Tipe kedua ini adalah orang-orang yang memeluk Islam, tetapi selalu berada dalam keraguan. Sebab, yang mereka cari bukanlah ridha Allah, melainkan kepentingan diri sendiri.
"Ketika umat Islam sedang menghadapi kesulitan dan tantangan, mereka menarik diri dan berada di luar barisan. Tapi ketika kemenangan datang, mereka merapat kembali, seolah-olah ikut berjasa dalam meraih kemenangan," ujar penulis yang juga anggota Dewan Pembina King Abdullah bin Abdul Aziz International Center Saudi Arabia.
"Mereka adalah kaum oportunis yang mengikuti ke mana arah angin, tidak punya pendirian," sambung dia
Pada saat yang sama, janganlah pula kita menuduh sesama Mukmin dan Muslimin dengan cap munafik, apalagi tanpa didukung bukti yang benar-benar meyakinkan. Sekaliber sahabat Nabi, Umar bin Khattab saja masih merasa rendah hati untuk memeriksa dirinya sendiri. Hal itu berkaitan dengan rekannya sesama sahabat Nabi, yakni Hudzaifah bin al-Yaman.
Hudzaifah dijuluki sebagai "penjaga rahasia Rasulullah SAW." Sebab, dia pernah diberi tahu Rasulullah SAW tentang sosok-sosok orang munafik di antara para warga Madinah.
Hudzaifah berkata, "Umar bin Khattab pernah diundang menghadiri (melihat) jenazah, ia pun mendatanginya. Saya menghubungi Umar dan saya katakan, 'Duduklah (jangan ikut shalat jenazah), wahai amirul mukminin. Jenazah ini termasuk orang munafik.' Lalu Umar berkata, 'Kemudian, apakah aku sendiri termasuk orang-orang munafik?' Kujawab, 'Tidak! Aku takkan ceritakan lagi setelah ini" (Riwayat Al-Bazzar).(rep)
Tertidur saat Khatib Menyampaikan Khutbah, Apakah Shalat Jumat Tetap Sah?
RADARPEKANBARU.COM - Shalat Jumat merupakan ibadah w.








