• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
  • Home
  • Politik
    • Kabupaten Kuansing
    • Kabupaten Rokan Hilir
    • Kabupaten Rokan Hulu
    • Kota Pekanbaru
    • Kota Dumai
    • Kabupaten Siak
    • Kabupaten Pelalawan
    • Kabupaten Kampar
    • Kabupaten Indragiri Hulu
    • Kabupaten Indragiri Hilir
    • Kabupaten Bengkalis
    • Kabupaten Kepulauan Meranti
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Parlemen
  • Olahraga
  • Nasional
  • Riau
    • fokus riau
  • More
    • Hukrim
    • Life Style
    • Dakwatuna
    • Opini
    • Video
    • Pilihan Editor
    • Terpopuler
    • Galeri
    • Indeks
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
  • Politik
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Parlemen
  • Olahraga
  • Nasional
  • Riau
  • Hukrim
  • Life Style
  • Dakwatuna
  • Opini
  • Video
  • Kabupaten Kepulauan Meranti
  • Kabupaten Bengkalis
  • Kabupaten Indragiri Hilir
  • Kabupaten Indragiri Hulu
  • Kabupaten Kampar
  • Kabupaten Pelalawan
  • Kabupaten Siak
  • Kota Dumai
  • Kota Pekanbaru
  • Kabupaten Rokan Hulu
  • Kabupaten Rokan Hilir
  • Kabupaten Kuansing
  • fokus riau
  • Pilihan Editor
  • Terpopuler
  • Indeks
Masukkan Kata Kunci atau ESC Untuk Keluar
PILIHAN +INDEKS
Tirta Meyrizka Lubis Bikin Bangga Riau, Bersinar di Ajang Duta Muslimah Preneur Indonesia 2026
Dibaca : 2945 Kali
Tingkatkan Mutu Pendidikan, SMKN 1 Tapung Hulu Siapkan Lulusan Siap Kerja dan Siap Membuka Lapangan Pekerjaan
Dibaca : 2918 Kali
SMAS Adven Pasir Putih Mulai Buka PPDB 2026/2027, Perkuat Pendidikan Karakter dan Akademik
Dibaca : 2898 Kali
PPDB 2026/2027 Dibuka, SMAN 6 Tapung Fokus Tingkatkan Mutu Pendidikan dan Prestasi Siswa
Dibaca : 2898 Kali
SMAN 2 Kampar Kiri Buka PPDB 2026/2027, Dorong Lahirnya Pelajar Disiplin dan Berdaya Saing
Dibaca : 2893 Kali

  • Home
  • Opini

Paradoks Kemanisan Barat dan Solusi atas Masalah Dunia Islam

Redaksi Radarpku

Kamis, 19 Desember 2019 09:56:54 WIB
Cetak
Paradoks Kemanisan Barat dan Solusi atas Masalah Dunia Islam

RADARPEKANBARU.COM -Cara pikir dan pola tindak dalam dunia kapitalisme tidak pernah mengenal suku, agama atau ras. Tidak seperti pengelompokan pendatang atau orang asing dan pribumi, kapital bekerja lintas negara serta melampaui teritorial. Cara kerja sistem kapital sudah begitu canggih menyusup dan bersenggama dengan kehidupan manusia kontemporer.

Meski fase perbudakan dalam sejarah umat manusia sudah dilewati begitu jauh pasca penghapusan perbudakan di tahun 1800an, namun saat ini kita memasuki dunia kapital yang cara kerjanya jauh lebih halus. Eksploitasi dilakukan secara terselebung, menghisap habis target operasi tapi membuat yang dihisap keenakan.

Merampas semuanya tanpa kecuali namun menjadikan korban pasrah dengan keadaan. Jika ada relasi sosial yang tidak memerlukan uang, maka kapitalisme akan menjadikannya sebagai peluang. Demikian cara pandang kapital, tidak akan pernah memposisikan manusia sebagai objek sosial. Relasi yang dibangun selalu menghitung untung rugi. Apa yang dikeluarkan selalu berbanding lurus dengan apa yang ingin didapatkan.

Bahkan ingin lebih. Itu sebabnya, sekarang hampir tidak ada kekerabatan antar negara yang dibangun akibat kesamaan pandang soal manusia sebagai mahluk sosial. Pasca runtuhnya Soviet, tidak pernah lagi kita dapati ada persaingan ideologi yang mencolok. Hampir semua negara bermetamorfosa menjadi lebih moderat dalam soal ideologi, kecuali beberapa negara di Amerika Latin. Itupun semakin memburuk pasca Bolivia hancur akibat demo terhadap kekuasan Evo yang sosialis.

Relevansi dengan pandangan di atas, negara-negara besar di bawah Amerika Serikat dan UE selalu punya standar ganda dalam melihat persoalan kemanusiaan. Apa yang diperjuangkan selalu dibaca tidak pure memperjuangkan masalah kemanusiaan atau Hak Asasi Manusia.

Jika tidak sejalan dengan kepentingan negaranya, akan dianggap sebagai pelanggar HAM lalu dimusuhi atau diperangi. Sebagai contoh bisa kita lihat di Irak, pasca kehancurannya kita tidak dapati senjata pemusnah massal yang merupakan alasan memerangi Sadam. Atau sikap paradoks barat atas kudeta Asisi terhadap Mursi yang dipilih secara demokratis melalui Pemilu.

Setelah Amerika dan sekutu memenangkan perang dunia ke-dua, mereka lalu berpikir bagaimana formulasi yang pas dalam menguasai dunia yang sangat besar ini tanpa harus melakukan penjajahan atau pendudukan seperti yang sebelumnya pernah dilakukan oleh Inggris dan Prancis. Yang dilakukan Amerika untuk mengontrol dan menguasai seluruh dunia ini yakni dengan merumuskan ide Global Government.

Orang tidak merasa dijajah, tapi sebenarnya ada di bawah kendali. Dibuatlah suatu sistem pemerintahan global yakni PBB. Dibuat suatu sistem ekonomi global yakni Bank Dunia serta IMF. Mereka (Amerika dan sekutu) mengendalikan betul lembaga-lembaga internasional ini. Veto yang dimiliki akan menjadi jalan terakhir saat ada protes serius dari dunia atas sikap beberapa negara yang tidak mengindahkan HAM.

Sepeti veto Amerika pada kasus Israel yang disidang di DK PBB. Ini adalah rencana jangka panjang yang cukup berhasil dilakukan. Hampir semua negara di bawah kendali Amerika. Di hampir semua negara terdapat pengkalan-pangkalan militer yang disiapkan untuk menjaga kepentingan Amerika.

Cek saja ini ke negara-negara yang dianggap bisa bekerja sama dengan kepentingan Amerika. Termasuk negara-negara timur tengah yang notabenenya mayoritas beragama Islam, Amerika dan sekutu menciptakan kondisi yang benar-benar tidak kondusif di hampir semua negara-negara teluk.

Kebijakan internal negara selalu saja mendapatkan interupsi. Jika tidak diindahkan akan mendapatkan ancaman embargo ekonomi dan tekanan-tekanan militer. Iran contohnya, akibat tidak selalu sejalan dengan kepentingan Amerika di teluk, mereka mendapatkan embargo ekonomi hingga kini.

Kondisi yang diciptakan Amerika dan sekutunya seperti inilah yang mengakibatkan hilangnya sekian ribu nyawa dengan sia-sia. Baru-baru ini, dunia digegerkan olah pengakuan Hillary Clinton yang mengungkap keterlibatan Amerika dalam membentuk ISIS di timur tengah.

Pengakuan yang terlambat, sekian ribu nyawa manusia sudah melayang akibat salah bersikap dan merespon datangnya setiap informasi. Di saat yang bersamaan dunia Islam diam.

OKI sebagai lembaga yang merepresentasikan kepentingan ummat Islam tidak bisa berbuat lebih banyak atas tragedi kemanusiaan yang menimpa sesama saudara seaqidah.

Liga Arab sudah dibuat mandul oleh negara-negara barat terutama Amerika yang punya kepentingan besar atas minyak mentah di timur tengah. Perlawanan-perlawanan kecil justru datang dari Turki di bawah Erdogan, tapi tidak terlalu berefek.

Saat ini Amerika melalui media propogandanya sedang membongkar kejahatan HAM di Uyghur. China membalas dengan membeberkan juga kejahatan HAM yang dilakukan Amerika dan sekutu di Irak dan Afghanistan. Afrika dengan Gambia-nya tidak mau ketinggalan dengan turut membongkar kejahatan HAM di Rohingya, Turki angkat kejahatan HAM di Mesir, Syria dan Palestina.

Jika kita cemati, hampir semua objek kejahtan HAM adalah Umat Islam yang menjadi korban dimana-mana. Dengan kejadian-kejadian yang telah terjadi sebelumnya, kita jangan terlalu percaya 100% negara-negara itu pure memperjuangkan HAM karena soal empati pada sesama manusia.

Jika harus berempati mestinya itu datang dari UEA sebagai negara Islam yang punya banyak uang atau Saudi yang sangat konservatif beragamanya, ditambah ada dua kota suci di sana.

Yang dibunuh dimana-mana adalah saudara-saudara sesama muslim. Tapi apa yang terjadi? Mereka diam, bahkan bertindak membantu. Informasi yang tidak patut kita dengar.

Dunia Islam perlu mengambil langkah serius atas soalan ini, bahwa ternyata UEA dan Saudi yang mengaku negara Islam itu justru sering membantu negara-negara teroris membunuh saudara sesama muslim.

Bukan hanya itu, di saat yang sama Saudi dan UEA juga mendukung Israel dalam melakukan pendudukan atas Palestina dan membunuh warganya.

Mereka juga kedapatan memberikan dukungan pada rezim India yang juga sedang menghajar umat Islam di Kasmir. Paling mutakhir adalah pengesahan UU yang dianggap merupakan diskriminasi pada ummat Islam India.

Kita tidak dapati ada reaksi berarti dari dunia-dunia Islam. Di sisi lain makin hari makin jelas posisi Saudi dan UEA. Rezim Saudi bahkan sudah tidak layak menjaga Haramain sebagai jantung ummat Islam.

Disamping langkah preventif yang harus dilakukan secepatnya, ummat harus dia ajak untuk sadar posisinya, dan apa yang mesti dilakukan.

Pada saat yang sama, Gambia sebuah negara kecil yang luas dan jumlah penduduknya tidak sampai setengah dari penduduk Jawa Barat ini menjadi satu-satunya negara yang berani membawa kasus Genosida terhadap muslim Rohingya ke ICJ.

Mana negara tempat turunnya wahyu? Mana negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia? Pembantaian sekian juta ummat Islam justru dianggap biasa-biasa saja, seperti tidak terjadi apa-apa. Padahal dunia Islam mesti punya solidaritas akibat kesamaan pandang soal manusia.

Jika terus dibiarkan oleh pemimpin dunia Islam, nasib penduduk muslim di India dan penduduk muslim Uyghur di China akan sama persis dengan apa yang dialami muslim Rohingya atau Palestina yang hingga kini belum juga merdeka. Mereka diperangi, diasingkan atau diusir atas nama perang melawan terorisme.

Posisi Indonesia dan Peran Pemuda Islam Sebagaimana ungkapan Gandhi yang kerap disitir Bung Karno, "Paham kebangsaanku adalah perikemanusiaan." Indonesia harus turut serta berperan aktif dalam membangun solidaritas antar beberapa negara Islam.

Disamping itu, keterlibatan kita atas persoalan di dunia Islam hari ini adalah wujud dari pengamalan pembukaan UUD kita yang mengamanahkan agar penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan.

Belakangan ini ada ide baru dari beberapa negara Islam, yang dipelopori oleh Mahatir dari Malaysia, Erdogan dari Turki dan Imran dari Pakistan. Poros ini sekaligus gerakan untuk melawan OKI yang terus menerus mempertahankan status quo. Hampir tidak ada perlawanan berarti yang dilakukan OKI dalam memproteksi kepentingan ummat Islam.

Itu sebabnya, perlu ada ide segar bukan hanya melawan superioritas dunia barat dan beberapa negara di Asia atas dunia Islam. Tapi juga melakukan gerakan perlawanan terhadap wabah islamophobia yang semakin menakutkan. Sudah terlalu lama Indonesia tertidur. Nama besarnya selalu disebut tapi perannya sangat terbatas.

Soekarno dulu sanggup membawa bangsa ini keluar dari kekuatan dua blok dan melakukan sebuah gerakan prestisius yang hari ini masih dikenang dunia. Sekarang sudah waktunya kita buktikan bahwa sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, Indonesia siap berkontribusi lebih bahkan siap menjadi pemimpin.

Indonesia modern hari ini harus sanggup menyediakan rahimnya untuk melahirkan ulang pemimpin ulung seperti Soekarno yang disegani dunia, atau membidani hadirnya Natsir-Natsir baru yang disegani dunia Islam.

Dengan penduduk 260 juta serta lebih kurang 87% muslim, maka posisi aliansi ini akan semakin kokoh di dunia Islam bahkan internasional jika terus didorong agar dapat membicarakan secara serius juga soal-soal yang terjadi di dunia Islam. Pemerintah kita harus turut menyambut baik dan terlibat dalam poros baru yang sengaja dibuat Mahatir dan Erdogan. Ada harapan besar dari Turki, Malaysia, Pakistan dan Qatar terhadap Indonesia. Bermodal militer dan ekonomi dari 4 negara tadi maka aliansi ini akan semakin kuat ketika Indonesia bergabung. Karena biar bagaimanapun kita memiliki kuantitas penduduk muslim yang sangat banyak dibanding negara lain. Sekarang, tugas utama untuk turut terlibat dalam menyelesaikan persoalan kemanusiaan di dunia Islam saat ini bukan ada pada Muhammadiyah, NU atau ormas keagamaan lainnya. Tapi ada pada negara. Pemerintah kita sudah saatnya harus ikut terlibat aktif dalam melawan kesewenang-wenangan rezim China, India, Myanmar, Israel, bahkan Amerika.

"Harapan adalah mimpi dari seorang yang terjaga", demikian kata Aristoteles. Kita (dunia Islam) sebenarnya masih punya harapan besar dalam membangun ulang "imperium" yang kuat dalam menyaingi superioritas dunia barat.

Tumpuan harapan kita ada pada pemuda Islam. Mereka mesti dilibatkan dalam memproyeksikan sebuah agenda jangka panjang dalam memerangi islamophobia.

Atau paling tidak dalam forum pertemuan yang rencananya akan dilakukan bulan ini di Malaysia, akan terbentuk sebuah lembaga permanen setingkat OKI yang harus secara intens merespon setiap gejolak dalam dunia Islam. Hingga ke depan poros ini dapat menjadi tumpuan harapan dunia Islam yang kian hari semakin terpuruk.

Disamping itu, harapan besar kita pasca pertemuan tersebut akan bertambah lagi negara-negara Islam yang turut bergabung dan mengambil bahagian dalam poros ini.

Negara Islam melalui pemudanya harus dipersatukan dalam satu wadah yang kuat, agar agenda mewartakan konsep kemanusian yang universal tersebar ke semua pelosok dunia. Islamophobia sudah sangat menghawatirkan di barat, bahkan sudah menyebar ke negara-negara Asia. Inilah jaman dimana beban paling berat harus dituntaskan oleh pemuda-pemuda Islam.

Oleh: Oumo Abdul Syukur


BERITA LAINNYA +INDEKS
Opini

Be Happy: Era Digital Pajak Indonesia Menuju Masa Depan yang Cemerlang

Senin, 11 Agustus 2025 - 16:43:12 WIB

Oleh Ahmad ZayyadiMahasiswa Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial UIN Suska.

Opini

RUU Perampasan Aset: Menanti Pedang Keluar dari Sarung

Ahad, 04 Mei 2025 - 07:31:35 WIB

Oleh: Azmi bin RozaliDi tengah kian merosotnya kepercayaan publik terhada.

Opini

Maraknya Hoaks dan Framing Informasi di Era Keuangan Digital

Rabu, 30 April 2025 - 20:18:01 WIB

Maraknya Hoaks dan Framing Informasi di Era Keuangan DigitalOl.

Opini

Harmonis Kepala Daerah dan Wakil

Sabtu, 15 Maret 2025 - 07:12:10 WIB

Harmonis Kepala Daerah dan WakilOleh: Azmi bin RozaliDalam .

Opini

Tantangan dan Peluang Menerapkan Pembelajaran Berdiferensiasi di Kelas

Senin, 10 Juni 2024 - 22:41:34 WIB

Pendidikan merupakan kunci kemajuan bangsa. Kualitas pendidikan yan.

Opini

Model pembelajaran diferensiasi dalam konteks kurikulum merdeka menawarkan pendidikan yang lebih adaptif, Inklusif, dan berdaya saing.

Senin, 10 Juni 2024 - 19:47:18 WIB

KURIKULUM MERDEKA HADIR DENGAN PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI, MENDORONG PENDIDIKAN YANG LEBIH INKL.

TULIS KOMENTAR +INDEKS


Terkini +INDEKS
Antusias Warga Watuduwur Sambut Pembukaan TMMD Reguler Ke-129 Kodim 0708 Purworejo
15 Juli 2026
Wakil Bupati Purworejo Resmi Buka TMMD Reguler Ke-129 Kodim 0708/Purworejo di Desa Watuduwur
15 Juli 2026
Berantas Penambangan Ilegal, Polisi Tertibkan Aktivitas PETI di Sepanjang Sungai Kuantan
15 Juli 2026
Orang Tua Diminta Lapor Jika Ada Perpeloncoan Saat MPLS di Pekanbaru
15 Juli 2026
Sensus Ekonomi 2026 Jadi Dasar Kebijakan Pembangunan di Provinsi Riau
15 Juli 2026
Apa Kebahagiaan yang Sebenarnya di Dunia?
15 Juli 2026
Karyawan BUMN Bakal Diwajibkan Salurkan Zakat Lewat Baznas
15 Juli 2026
AS Serang Iran dan Tutup Akses Pelabuhan di Selat Hormuz
15 Juli 2026
Pemprov Riau Percepat Tindak Lanjut Rekomendasi BPK dan Benahi Tata Kelola BUMD
14 Juli 2026
Gelombang Kedua, Ratusan Pegawai Lama di Sekretariat DPRD Riau Dimutasi
14 Juli 2026
TERPOPULER +INDEKS
  • 1 Antusias Warga Watuduwur Sambut Pembukaan TMMD Reguler Ke-129 Kodim 0708 Purworejo
  • 2 Wakil Bupati Purworejo Resmi Buka TMMD Reguler Ke-129 Kodim 0708/Purworejo di Desa Watuduwur
  • 3 Berantas Penambangan Ilegal, Polisi Tertibkan Aktivitas PETI di Sepanjang Sungai Kuantan
  • 4 Orang Tua Diminta Lapor Jika Ada Perpeloncoan Saat MPLS di Pekanbaru
  • 5 Sensus Ekonomi 2026 Jadi Dasar Kebijakan Pembangunan di Provinsi Riau
  • 6 Apa Kebahagiaan yang Sebenarnya di Dunia?
  • 7 Karyawan BUMN Bakal Diwajibkan Salurkan Zakat Lewat Baznas

PT. Radar Indomedia Pers
JL. Arifin Ahmad Blok B Nomor 08 ( Belakang Green Hotel ), Pekanbaru - Riau
Email: [email protected]

Tentang Kami
Redaksi
Pedoman Pemberitaan
Info Iklan
Kontak
Disclaimer

©2021 Radarpekanbaru.com