PILIHAN +INDEKS
Pendemo Desak DPRD Kampar Bentuk Pansus Kasus Eva Yuliana
BANGKINANG, RADARPEKANBARU.COM - Massa pengunjuk rasa mendesak agar pihak Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kampar segera membentuk tim panitia khusus (pansus) untuk menuntaskan kasus dugaan penganiayaan oleh Eva Yuliana, Wakil DPRD Kampar.
"Jika tidak, kami akan melakukan upaya paksa dengan kembali menggelar aksi unjuk rasa di sini (Kantor Bupati Kampar)," kata Noriyon, salah satu koordinator massa mahasiswa dan gerakan lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang turun ketika itu, Senin (9/6/2014).
Aksi unjuk rasa massa yang tergabung dalam sejumlah organisasi mahasiswa meliputi Himpunan Mahasiswa Indoensia (HMI) Cabang Pekanbaru serta LSM Penjara itu berlangsung sejak pukul 11.00 WIB.
Demonstrasi tersebut disulut oleh laporan Nurhasmi (36) di Polres Kampar yang mengaku telah menjadi korban penganiayaan Eva Yuliana, isteri dari Bupati Kampar Jefry Noer.
Sejumlah pihak menyangkakan kasus tersebut telah ditunggangi oleh pihak lain yang memiliki kepentingan tertentu.
Kepolisian Daerah Riau sebelumnya juga mengungkapkan adanya sejumlah kejanggalan dalam kasus tersebut, termasuk korban yang kini di rawat di Rumah Sakit Umum Dearah (RSUD) Arifin Achmad Pekanbaru menolak diminta pulang karena tidak ada luka pada tubuhnya.
Aksi unjuk rasa para aktivis di Kabupaten Kampar di pusatkan di depan Kantor Bupati Kampar di Bangkinang, sementara sebelumnya itu, sejumlah aktivis ini telah menggelar pertemuan dengan sejumlah legisltor di gedung DPRD Kampar.
Pada pertemuan itu, antara legislator dan massa sempat ricuh, namun tidak baku hantam karena petugas keamanan dari Satauan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) serta kepolisian melakukan upaya negosiasi.
Massa kemudian kembali ke barisan dengan menggelas orasi di depan Kantor Bupati Kampar. Ketegangan juga sempat terjadi ketika beberapa pengunjuk rasa mencoba memaki sejumlah petugas kepolisian.
Sekitar seratusan orang pengunjuk rasa juga melakukan pembakaran ban bekas serta memblokir pintu utama Kantor Bupati. Puluhan aparat kemudian memagar kawat di lokasi yang sama menghadang massa untuk masuk ke dalam gedung.
"Kami menginginkan persoalan itu (dugaan penganiayaan) segera dituntaskan, jangan ada yang ditutup-tutupi. Pansus juga harus segera dibentuk," kata pengunjuk rasa dalam orasinya.
Sekitar pukul 16.00 WIB, massa kemudian membubarkan diri dengan tertib namun berjanji akan segera kembali untuk menggelar aksi serupa. (lam/gr)
"Jika tidak, kami akan melakukan upaya paksa dengan kembali menggelar aksi unjuk rasa di sini (Kantor Bupati Kampar)," kata Noriyon, salah satu koordinator massa mahasiswa dan gerakan lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang turun ketika itu, Senin (9/6/2014).
Aksi unjuk rasa massa yang tergabung dalam sejumlah organisasi mahasiswa meliputi Himpunan Mahasiswa Indoensia (HMI) Cabang Pekanbaru serta LSM Penjara itu berlangsung sejak pukul 11.00 WIB.
Demonstrasi tersebut disulut oleh laporan Nurhasmi (36) di Polres Kampar yang mengaku telah menjadi korban penganiayaan Eva Yuliana, isteri dari Bupati Kampar Jefry Noer.
Sejumlah pihak menyangkakan kasus tersebut telah ditunggangi oleh pihak lain yang memiliki kepentingan tertentu.
Kepolisian Daerah Riau sebelumnya juga mengungkapkan adanya sejumlah kejanggalan dalam kasus tersebut, termasuk korban yang kini di rawat di Rumah Sakit Umum Dearah (RSUD) Arifin Achmad Pekanbaru menolak diminta pulang karena tidak ada luka pada tubuhnya.
Aksi unjuk rasa para aktivis di Kabupaten Kampar di pusatkan di depan Kantor Bupati Kampar di Bangkinang, sementara sebelumnya itu, sejumlah aktivis ini telah menggelar pertemuan dengan sejumlah legisltor di gedung DPRD Kampar.
Pada pertemuan itu, antara legislator dan massa sempat ricuh, namun tidak baku hantam karena petugas keamanan dari Satauan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) serta kepolisian melakukan upaya negosiasi.
Massa kemudian kembali ke barisan dengan menggelas orasi di depan Kantor Bupati Kampar. Ketegangan juga sempat terjadi ketika beberapa pengunjuk rasa mencoba memaki sejumlah petugas kepolisian.
Sekitar seratusan orang pengunjuk rasa juga melakukan pembakaran ban bekas serta memblokir pintu utama Kantor Bupati. Puluhan aparat kemudian memagar kawat di lokasi yang sama menghadang massa untuk masuk ke dalam gedung.
"Kami menginginkan persoalan itu (dugaan penganiayaan) segera dituntaskan, jangan ada yang ditutup-tutupi. Pansus juga harus segera dibentuk," kata pengunjuk rasa dalam orasinya.
Sekitar pukul 16.00 WIB, massa kemudian membubarkan diri dengan tertib namun berjanji akan segera kembali untuk menggelar aksi serupa. (lam/gr)
BERITA LAINNYA +INDEKS
PCR dan SPS Riau Sepakati Kerja Sama Pengembangan Kurikulum dan Magang Mahasiswa
PEKANBARU– Politeknik Caltex Riau (PCR) dan Serikat Perusahaan Pers (SPS) Riau.
HUT ke-80 SPS, Saidul Tombang: Pers Harus Tetap Menjadi Pilar Demokrasi
PEKANBARU – Serikat Perusahaan Pers (SPS) Provinsi Riau memperingati Hari Ulan.
AMA Riau Dorong Reformasi Sistem Pemilu, Minta Keterwakilan Daerah dan Masyarakat Adat Diperkuat
PEKANBARU – Aliansi Masyarakat Adat Melayu (AMA) Riau mengusulkan adanya refor.
PWI Riau Kurban 6 Sapi dan 1 Kambing pada Iduladha 1447 H
PEKANBARU – Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Riau menggelar kegiatan pemotongan hewan kurban .
Hari Ini KAHMI Riau Sembelih Hewan Qurban
PEKANBARU — Majelis Wilayah Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (MW KAHMI) Provinsi Riau meng.
Isu Anak Bupati Terlibat Narkoba Hoaks, Penyebar Fitnah di Medsos Bisa Dijerat Hukum
PEKANBARU – Aliansi Mahasiswa Riau (AMR) meminta masyarakat tidak menyebarkan informasi bohong .
TULIS KOMENTAR +INDEKS






.jpg)

