• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
  • Home
  • Politik
    • Kabupaten Kuansing
    • Kabupaten Rokan Hilir
    • Kabupaten Rokan Hulu
    • Kota Pekanbaru
    • Kota Dumai
    • Kabupaten Siak
    • Kabupaten Pelalawan
    • Kabupaten Kampar
    • Kabupaten Indragiri Hulu
    • Kabupaten Indragiri Hilir
    • Kabupaten Bengkalis
    • Kabupaten Kepulauan Meranti
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Parlemen
  • Olahraga
  • Nasional
  • Riau
    • fokus riau
  • More
    • Hukrim
    • Life Style
    • Dakwatuna
    • Opini
    • Video
    • Pilihan Editor
    • Terpopuler
    • Galeri
    • Indeks
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
  • Politik
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Parlemen
  • Olahraga
  • Nasional
  • Riau
  • Hukrim
  • Life Style
  • Dakwatuna
  • Opini
  • Video
  • Kabupaten Kepulauan Meranti
  • Kabupaten Bengkalis
  • Kabupaten Indragiri Hilir
  • Kabupaten Indragiri Hulu
  • Kabupaten Kampar
  • Kabupaten Pelalawan
  • Kabupaten Siak
  • Kota Dumai
  • Kota Pekanbaru
  • Kabupaten Rokan Hulu
  • Kabupaten Rokan Hilir
  • Kabupaten Kuansing
  • fokus riau
  • Pilihan Editor
  • Terpopuler
  • Indeks
Masukkan Kata Kunci atau ESC Untuk Keluar
PILIHAN +INDEKS
Darmilis Dorong Transformasi Zakat Riau, BAZNAS Diharapkan Jadi Penggerak Kemandirian Umat
Dibaca : 1913 Kali
Tirta Meyrizka Lubis Bikin Bangga Riau, Bersinar di Ajang Duta Muslimah Preneur Indonesia 2026
Dibaca : 4246 Kali
Tingkatkan Mutu Pendidikan, SMKN 1 Tapung Hulu Siapkan Lulusan Siap Kerja dan Siap Membuka Lapangan Pekerjaan
Dibaca : 4248 Kali
SMAS Adven Pasir Putih Mulai Buka PPDB 2026/2027, Perkuat Pendidikan Karakter dan Akademik
Dibaca : 4199 Kali
PPDB 2026/2027 Dibuka, SMAN 6 Tapung Fokus Tingkatkan Mutu Pendidikan dan Prestasi Siswa
Dibaca : 4314 Kali

  • Home
  • Dakwatuna

Cukongi Survei Bayaran, Penipu Publik Jangan Diberi Tempat

Redaksi Radarpku

Sabtu, 22 Maret 2014 22:02:27 WIB
Cetak
Cukongi Survei Bayaran, Penipu Publik Jangan Diberi Tempat
Ilustrasi
RADARPEKANBARU.COM - Belajar dari hasil survei di pilkada Jakarta 2012 yang lalu, dimana hampir semua hasil prediksi lembaga survei meleset, kenyataan itu membenamkan hasil semua lembaga survei. Di sana terpampang nama - nama besar lembaga survei, seperti Lingkaran Survei Indonesia (LSI), Jaringan Suara Indonesia (JSI), Lembaga Survei Indonesia (LSI), Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES), MNC Riset, dan Prisma, semuanya saat itu mengunggulkan incumbent. Namun hasil nyata di lapangan incumbent kalah.  Begitu juga saat pilkada Jabar pertama, yang dimenangkan Ahmad Heryawan.
 
Mengapa survei dan hasil nyata jauh berbeda? inilah anomali prediksi dari lembaga survei. Anomali itu terjadi karena warga mengubah pilihan di detik - detik terakhir.  Saat survei mereka pilih partai O, saat coblos mereka memilih partai P. Mengapa berubah? ada faktor psikologis dimana saat disurvei, warga cenderung tertutup, mereka main aman saja. Selisih yang mencolok antara survei dengan pemilihan nyata di lapangan, juga bisa disebabkan oleh dinamika pemilih akibat gencarnya kampanye. Terjadi perubahan opini di masyarakat menit demi menit, khususnya di media sosial pada hari - hari terakhir jelang pencoblosan.
 
Lembaga survei kadang terlalu diburu nafsu untuk memprediksikan siapa pemenang pemilu, sehingga sering mengabaikan temuan-temuannya sendiri.  Dalam survei selalu ditemukan adanya pemilih yang belum menentukan pilihan (undecided vooters) atau pemilih yang akan mengubah-ubah dukungannya (swinging vooters). Tetapi lembaga survei kadang mengabaikan temuan ini dan tidak menyampaikan analisisnya kepada publik.
 
Perbedaan hasil tersebut merupakan peringatan bagi semua lembaga survei agar tidak main-main dengan kerja riset demi memenuhi kepentingan politik kliennya. Karena hal itu, publik justru menjadi tidak percaya terhadap kredibilitas lembaga survei. Apalagi kalau mereka segitunya membela diri bahwa terjadinya error dalam survei dan lain – lain. Apa pun argumentasi lembaga survei terhadap proses risetnya, publik sudah tidak lagi percaya. Apalagi, masyarakat sudah menyadari bahwa lembaga survei bekerja untuk kepentingan politik sponsor.
 
Ketika sebuah lembaga survei mencoba melakukan survei popularitas sebuah partai politik, pada saat yang sama lembaga survei itu juga mau bertindak sebagai "konsultan politik" yang menjagokan dan mendukung partai politik tertentu. Apakah ada lembaga survei yang betul-betul independen? Secara jujur sebetulnya tidak ada lembaga survei yang 100 persen independen. Mengapa? Karena survei itu mahal, butuh ratusan juta bahkan milyaran rupiah untuk sebuah survei. Yang membayar untuk melakukan survei yang mahal itu adalah klien tertentu, yang punya dana kuat dan tentu juga punya kepentingan sendiri.

Meski demikian, lembaga survei tetap bisa bersikap etis pada publik, dengan cara menjalankan order survei itu secara profesional dan tidak merekayasa. Hal itu dimungkinkan, jika lembaga ini secara tegas tidak mau merangkap kerja menjadi "konsultan politik" untuk memenangkan kandidat tertentu.

Dalam rangka pelayanan ABS (asal bapak senang) terhadap kliennya, lembaga survei semacam ini bersedia memoles hasil surveinya, dan dengan demikian telah melakukan penipuan pada publik. Hal ini karena hasil survei yang penuh rekayasa itu dipublikasikan ke media, bahkan mereka berani melakukan konferensi pers segala dengan mengundang para wartawan.

Dengan adanya lembaga-lembaga survei yang tidak peduli pada etika seperti ini, tidaklah mengherankan jika kemudian muncul berbagai prediksi yang sangat kontras dari lembaga-lembaga survei tersebut. Perbedaan angka hasil survei itu bisa sangat tinggi, bisa mencapai 20 persen! Lembaga survei A yang memiliki klien kandidat B, menempatkan posisi B di posisi paling populer. Lembaga X, yang memiliki klien kandidat Y, justru menempatkan posisi Y sebagai yang paling populer.
 
Padahal, jika kedua lembaga itu melakukan survei dengan metodologi yang sama, dengan sampling yang betul-betul representatif, seharusnya hasil akhirnya tidak akan jauh berbeda. Kalau angkanya cuma berbeda 2-3 persen, itu wajar. Tetapi, jika perbedaannya sampai 20 persen, pasti ada di antara lembaga survei itu yang betul-betul penipu!
 
Sayangnya, banyak media tidak begitu waspada terhadap praktik penipuan semacam ini. Mereka mentah-mentah memuat atau menayangkan hasil jajak pendapat, dari lembaga survei yang bukan saja tidak kredibel, tetapi bahkan fiktif. Ada juga lembaga yang tidak  pernah melakukan survei, namun mereka mempublikasikan angka-angka urutan popularitas sejumlah kandidat tertentu, yang seolah-olah diperoleh dari hasil kegiatan survei yang serius.

    Media tidak perlu memberi tempat terhormat bagi para penipu publik ini, meski para penipu ini mungkin bergelar Doktor, PhD, atau MSc, dari universitas bergengsi di luar negeri.

Pertanyaannya, bagaimana cara mereka memperoleh angka-angka itu, supaya terkesan meyakinkan? Mereka mencontek angka-angka hasil survei dari lembaga survei lain, yang telah melakukan survei secara serius. Ini sangat mudah dilakukan, karena hasil survei itu sudah dipublikasikan secara terbuka di media. Nah, kemudian, supaya tidak kentara, angka-angka itu diubah sedikit, dinaikkan satu atau dua persen, atau sebaliknya dikurangi satu atau dua persen. Lihay sekali, bukan?

Pertanyaan kedua, lembaga-lembaga survei mana saja sih, yang tega melakukan praktik-praktik kotor dan penipuan publik semacam itu? Jawabannya, amati saja hasil prediksi dari bebagai lembaga survei itu di media. Jika hasil surveinya ternyata melenceng jauh dari hasil pemilu atau pilkada (misalnya, kandidat yang diberi angka popularitas tertinggi ternyata justru kalah dengan nilai paling bawah), patut diduga lembaga survei itu bukan lembaga survei yang kredibel. Lembaga semacam itu tidak layak dipercaya. Jangan diberi tempat di media, dan biarkan mereka mati sendiri. Media tidak perlu memberi tempat terhormat bagi para penipu publik ini, meski para penipu ini mungkin bergelar Doktor, PhD, atau MSc, dari universitas bergengsi di luar negeri.(voaislam)


BERITA LAINNYA +INDEKS
Dakwatuna

Mengapa Allah Menyukai Hamba yang Berdoa? Ini Penjelasan Imam Al-Ghazali

Sabtu, 26 September 2026 - 09:59:19 WIB

RADARPEKANBARU.COM - Doa bukan sekadar permohonan se.

Dakwatuna

Salah Satunya Pahala Syahid, Ini 5 Hukum Khusus Terkait Korban Jiwa Tenggelam Menurut Islam

Jumat, 25 September 2026 - 09:46:43 WIB

RADARPEKANBARU.COM - Di antara bentuk kemurahan dan .

Dakwatuna

Jangan Terlalu Memuji Orang , Lalu Harus Bagaimana? Ingat Selalu Pesan Rasulullah SAW Ini

Kamis, 24 September 2026 - 09:03:00 WIB

RADARPEKANBARU.COM - Seringkali kita mendengar seseo.

Dakwatuna

Tanda Kiamat Kian Dekat, Umat Islam akan Hancur Bukan oleh Musuh tetapi Penyakit Wahn

Rabu, 23 September 2026 - 08:26:35 WIB

RADARPEKANBARU.COM - .

Dakwatuna

Mengapa Allah Menciptakan Kejahatan dan Dosa di Alam Semesta?

Selasa, 22 September 2026 - 10:20:15 WIB

RADARPEKANBARU.COM - Sesungguhnya hikmah Allah Yang .

Dakwatuna

Pendapat Nabi Muhammad soal Orang Beriman yang Berbohong

Senin, 21 September 2026 - 11:09:20 WIB

RADARPEKANBARU.COM - Dalam sebuah kesempatan, salah seorang sahabat bertanya ke .

TULIS KOMENTAR +INDEKS


Terkini +INDEKS
Sambut Hari Jadi ke-24, Propam Polda Riau Berbagi Sembako dan Tanam Pohon
26 September 2026
Polresta Pekanbaru Ungkap Penipuan Investasi Proyek, Korban Rugi Rp7,1 Miliar
26 September 2026
4 Titik Jalan Lintas Pemandang-Lubuk Bendahara Timur Segera Diperbaiki
26 September 2026
Mengapa Allah Menyukai Hamba yang Berdoa? Ini Penjelasan Imam Al-Ghazali
26 September 2026
Prabowo Kritik Perda yang Izinkan Bakar Lahan 2 Ha, Sebut Aturan Menipu
26 September 2026
Rakyat Palestina sedang Hadapi Perang Genosida
26 September 2026
Tagihan Cicilan Kopdes Merah Putih Rp37,7 Triliun
25 September 2026
Salah Satunya Pahala Syahid, Ini 5 Hukum Khusus Terkait Korban Jiwa Tenggelam Menurut Islam
25 September 2026
PNS Pemprov Riau Diduga Gelapkan Uang Pensiunan Guru Rp524 Juta
25 September 2026
34 kilometer Jalan di Kota Pekanbaru Sudah Dioverlay
25 September 2026
TERPOPULER +INDEKS
  • 1 Sambut Hari Jadi ke-24, Propam Polda Riau Berbagi Sembako dan Tanam Pohon
  • 2 Polresta Pekanbaru Ungkap Penipuan Investasi Proyek, Korban Rugi Rp7,1 Miliar
  • 3 4 Titik Jalan Lintas Pemandang-Lubuk Bendahara Timur Segera Diperbaiki
  • 4 Mengapa Allah Menyukai Hamba yang Berdoa? Ini Penjelasan Imam Al-Ghazali
  • 5 Prabowo Kritik Perda yang Izinkan Bakar Lahan 2 Ha, Sebut Aturan Menipu
  • 6 Rakyat Palestina sedang Hadapi Perang Genosida
  • 7 Tagihan Cicilan Kopdes Merah Putih Rp37,7 Triliun

PT. Radar Indomedia Pers
JL. Arifin Ahmad Blok B Nomor 08 ( Belakang Green Hotel ), Pekanbaru - Riau
Email: [email protected]

Tentang Kami
Redaksi
Pedoman Pemberitaan
Info Iklan
Kontak
Disclaimer

©2021 Radarpekanbaru.com