Wasiat Kebahagiaan Sang Sahabat Nabi
Dalam kondisi demikian, seorang pemuka Quraisy, Amr bin 'Ash, ikut galau. Ia yakin betul, cepat atau lambat, Muhammad SAW akan mengumpulkan kekuatan yang mustahil dilawan. Kemudian, pemimpin kaum Muslimin itu akan menguasai Makkah seluruhnya.
Dengan penuh kesadaran, Amr bin 'Ash memutuskan untuk pergi ke Madinah. Tujuannya, menyatakan sumpah setia kepada Muhammad SAW. Harapannya, pertobatannya ini diterima.
Peristiwa ini terjadi selang enam bulan sebelum umat Islam membebaskan Makkah tanpa pertumpahan darah (Fath Makkah). Di tengah jalan, Amr bin 'Ash berpapasan dengan dua orang tokoh Makkah lainnya, yakni Khalid bin Walid dan Utsman bin Thalhah.
Amr menyadari, keduanya memiliki niatan yang sama dengannya: menghadap Muhammad SAW. Sesampainya di Madinah, ketiga orang ini diterima dengan baik oleh Rasulullah SAW.
"Makkah telah melepas jantung-jantung hatinya kepada kita," ujar Nabi SAW kepada para sahabat, mengomentari kedatangan tiga tokoh Quraisy ini.
Amr bin 'Ash hendak melakukan sumpah setia kepada Rasul SAW, setelah Khalid bin Walid melakukannya. Namun, sebelum itu, ia mengatakan, "Wahai Rasulullah, saya akan berbaiat kepada Tuan, asalkan Allah mengampuni dosa-dosaku yang telah lalu."
"Wahai Amr, berbaitlah," jawab Nabi SAW, "karena Islam menghapus dosa-dosa yang sebelumnya."
Mendengar itu, betapa lega hati Amr bin 'Ash. Sejak saat itu, dirinya menjadi seorang Mukmin yang sangat mencintai Allah dan Rasul-Nya. Tidak ada yang menyurutkan langkahnya demi ikut menegakkan panji-panji agama tauhid.
Seperti diceritakan dalam kitab karya Imam Muslim, Al-Iman, Amr bin 'Ash hidup hingga usianya mencapai hampir 90 tahun. Di menit-menit akhir hayatnya, sang sahabat Nabi sempat memanggil putranya, Abdullah. Ia hendak menyampaikan nasihat.(rep)
Tertidur saat Khatib Menyampaikan Khutbah, Apakah Shalat Jumat Tetap Sah?
RADARPEKANBARU.COM - Shalat Jumat merupakan ibadah w.
Ketika Umat Nabi Muhammad Menjadi Saksi bagi Umat Nabi Nuh di Hari Kiamat
RADARPEKANBARU.COM - Umat.








