• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
  • Home
  • Politik
    • Kabupaten Kuansing
    • Kabupaten Rokan Hilir
    • Kabupaten Rokan Hulu
    • Kota Pekanbaru
    • Kota Dumai
    • Kabupaten Siak
    • Kabupaten Pelalawan
    • Kabupaten Kampar
    • Kabupaten Indragiri Hulu
    • Kabupaten Indragiri Hilir
    • Kabupaten Bengkalis
    • Kabupaten Kepulauan Meranti
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Parlemen
  • Olahraga
  • Nasional
  • Riau
    • fokus riau
  • More
    • Hukrim
    • Life Style
    • Dakwatuna
    • Opini
    • Video
    • Pilihan Editor
    • Terpopuler
    • Galeri
    • Indeks
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
  • Politik
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Parlemen
  • Olahraga
  • Nasional
  • Riau
  • Hukrim
  • Life Style
  • Dakwatuna
  • Opini
  • Video
  • Kabupaten Kepulauan Meranti
  • Kabupaten Bengkalis
  • Kabupaten Indragiri Hilir
  • Kabupaten Indragiri Hulu
  • Kabupaten Kampar
  • Kabupaten Pelalawan
  • Kabupaten Siak
  • Kota Dumai
  • Kota Pekanbaru
  • Kabupaten Rokan Hulu
  • Kabupaten Rokan Hilir
  • Kabupaten Kuansing
  • fokus riau
  • Pilihan Editor
  • Terpopuler
  • Indeks
Masukkan Kata Kunci atau ESC Untuk Keluar
PILIHAN +INDEKS
Darmilis Dorong Transformasi Zakat Riau, BAZNAS Diharapkan Jadi Penggerak Kemandirian Umat
Dibaca : 1950 Kali
Tirta Meyrizka Lubis Bikin Bangga Riau, Bersinar di Ajang Duta Muslimah Preneur Indonesia 2026
Dibaca : 4284 Kali
Tingkatkan Mutu Pendidikan, SMKN 1 Tapung Hulu Siapkan Lulusan Siap Kerja dan Siap Membuka Lapangan Pekerjaan
Dibaca : 4289 Kali
SMAS Adven Pasir Putih Mulai Buka PPDB 2026/2027, Perkuat Pendidikan Karakter dan Akademik
Dibaca : 4239 Kali
PPDB 2026/2027 Dibuka, SMAN 6 Tapung Fokus Tingkatkan Mutu Pendidikan dan Prestasi Siswa
Dibaca : 4355 Kali

  • Home
  • Internasional

Mengenang 10 Tahun Tsunami Aceh

Redaksi Radarpku

Ahad, 28 Desember 2014 19:23:23 WIB
Cetak
Mengenang 10 Tahun Tsunami Aceh
Sebuah file foto udara yang diambil pada 16 Januari Tahun 2005 menunjukkan sebuah masjid yang rusak sebagian di distrik pesisir Lampuuk Banda Aceh di pulau Sumatera Indonesia, daerah yang hancur dalam gempa bumi dan tsunami pada 26 Desember 2004.
RADARPEKANBARU.COM- SETEIAP tanggal 26 Desember, ingatan Mohammad Hamzah, wartawan Suara Pembaruan di Banda Aceh, seperti diputar ulang. Dia tak pernah lupa percakapan terakhirnya dengan sang sahabat, wartawan Kompas, Nadjmuddin Oemar.
Minggu pagi itu, persis 10 tahun lalu, seperempat jam setelah gempa berkekuatan 9,3 skala Richter mengguncang Aceh.

Hamzah masih berdiri di halaman rumah dengan kebingungan ketika telepon genggamnya berdering.
Nama Nadjmuddin terpampang di layar. "Hai kabudoeh peu kaeh lom," kata Nadjmuddin dengan nada bercanda mengingatkan Hamzah agar lekas bangun dan jangan tidur lagi.

Hanya satu kalimat, setelah itu terputus. Bahkan, Hamzah pun tak sempat mengiyakan. "Saya coba telepon dia, tetapi tidak nyambung," kisah Hamzah. Perasaannya galau, tak tahu apa yang mesti dilakukan.
Tak berselang lama, Hamzah mendengar teriakan panik bersahutan, "Air! Air! Air! Air...!" Keriuhan itu berbarengan dengan suara langkah kaki orang yang berhamburan dari belakang rumahnya, dari arah laut.

"Kebakarankah?" pikir Hamzah. Di Aceh kala itu, teriakan air identik dengan kebakaran. Secara refleks Hamzah memanjat dinding rumahnya, mencari tahu di mana kebakaran itu.

Dari kejauhan ia melihat air hitam bergelombang, bergulung-gulung, menelan rumah warga hingga ke atap. Seketika dia turun, lari sekuat-kuatnya ke jalan besar, hanyut dalam kerumunan orang yang kebingungan.

Dari arah belakang, air bergulung mengejarnya, menelan apa dan siapa saja. Entah sudah berapa ratus meter ia berlari ketika bertemu teman yang hendak mengantarkan sepeda motornya yang dipinjam. "Saya langsung menyuruhnya memutar balik ke arah Simpang Jeulingke," kisahnya.

Hamzah menemukan istrinya, sejarak 800 meter dari rumah. Berjejalan mereka naik sepeda motor. Dia panggul kedua anaknya. Istrinya duduk di belakang bersama keponakan. "Saya tak tahu bagaimana bisa naik sepeda motor berenam. Itu keajaiban," ujarnya.

Hamzah yang tinggal 300 meter dari bibir pantai akhirnya selamat dari gempa dan tsunami. Sementara Najmuddin, yang tinggal di Kajhu, menghilang bersama sekitar 160.000 warga Aceh lainnya.Hamzah mengaku selamat karena kebetulan. Dia tak pernah mengantisipasi kemungkinan tsunami, sebagaimana kebanyakan warga Aceh lainnya, sekalipun goyangan gempa sangat dikenal warga, sedekat desing peluru dan dentum bom selama 30 tahun konflik bersenjata.

Hingga sebelum gempa dan tsunami pada 26 Desember 2004 itu, tak sekali pun kabar di media massa mengungkap ancaman tsunami di Aceh.
Inilah dosa berjemaah antara ilmuwan, pemerintah, dan pekerja media yang alpa mengingatkan warga untuk bersiaga. Bayangan tentang negeri yang dibelit Cincin Api Pasifik zona terjadinya 80 persen gempa dan tsunami paling mematikan di Bumi saat itu masih jauh dari benak masyarakat Aceh, bahkan masyarakat Indonesia.
Kehidupan baru

Kamis (25/12) malam, satu dekade setelah bencana itu.

Dari jendela pesawat yang perlahan turun, Kota Banda Aceh terlihat gemerlap.
Kerlip cahaya juga terlihat sepanjang garis pantai, memberikan sinyal kehidupan baru telah bersemi. Rumah kembali memadati kota pesisir ini, melebihi sebelum 2004. Bangunannya lebih megah. Jalanan pun lebih mulus.
Masih terbayang betapa kota ini pernah sedemikian sunyi. Saat itu seminggu setelah tsunami, di jalan menuju pinggir pantai Kajhu, Kecamatan Masjid Raya, Kabupaten Aceh Besar.

Tak ada suara manusia ataupun binatang. Hanya debur ombak yang pelan memukul pantai dan desau angin yang sayup.
Puing-puing bekas bangunan dan ranting patah yang berserak tertutup pasir lembut. Air laut seperti telah mencuci bersih daratan lalu membawa pergi semua penghuninya.

Hingga sebelum tsunami datang menggulung, di kawasan inilah Nadjmuddin Oemar dan keluarga tinggal. Suatu waktu pada pertengahan November 2004, sebelum laut berkhianat, Nadjmuddin mengajak menyusuri jalanan di kampungnya.

Pantai itu sesak dengan kehidupan. Rumah berimpitan, persis dengan kondisi saat ini. Anak-anak bermain di pantai, di antara laju perahu nelayan. "Aceh harus damai, entah kapan," katanya saat itu.

Nadjmuddin melewati ketegangan dan bahaya meliput konflik Aceh dengan senyum ramahnya yang khas sekalipun namanya masuk dalam laporan Reporters Without Borders (2002) sebagai salah satu wartawan di dunia yang mendapat tekanan dari aparat keamanan. Tetapi, nasibnya digariskan berakhir oleh amuk laut.

Dia tak pernah menduga, di kedalaman Samudra Hindia, sebuah daya telah dikumpulkan dalam bilangan abad demi abad.
Dua lempeng, Indo-Australia dan Eurasia, terus bergerak. Saling tekan, hunjam, dan mengunci. Hingga tiba-tiba bebatuan itu patah, satu menit menjelang pukul 08.00, Minggu, 26 Desember 2004.

Gempa dahsyat tercipta. Salah satu yang terkuat yang tercatat dalam hikayat. Guncangan itu mengocok miliaran ton air laut dalam, memunculkan gelombang raksasa dan melumatkan daratan Aceh setengah jam kemudian.

Nadjmuddin tak pernah ditemukan lagi sejak itu. Dua puluh enamwartawan Aceh lain hilang atau meninggal akibat tsunami. Nyaris tidak ada orang Aceh yang tak kehilangan saudara atau sahabat.
Namun, bagi Aceh, tsunami bukan hanya kematian. Hanya delapan bulan setelah bencana itu, perang pun berakhir. Itulah kuasa lain bencana alam dalam mengubah laju peradaban.

Satu dekade setelah tsunami, ingatan tentang tsunami mulai kabur. Barangkali Milan Kundera benar saat mengatakan, "...pembantaian massal di Banglades dengan cepat menutupi ingatan orang terhadap invasi Rusia ke Cekoslowakia, pembunuhan di Allende menggantikan tragedi Banglades, perang di Sinai membuat orang melupakan Allende, pembantaian di Kamboja membuat orang lupa pada Sinai, begitu seterusnya, hingga segala sesuatunya dilupakan."

Namun, tsunami Aceh tak boleh dilupakan. Lebih penting lagi, tragedi itu mesti membuat kita terus belajar jadi bangsa lebih kuat dan senantiasa bersiaga karena, hanya soal waktu, laut akan kembali datang menyerbu daratan di negeri ini.(Tnc)

Editor : Alamsah


BERITA LAINNYA +INDEKS
Internasional

Tangis Mahathir Mohamad Pecah Saat Mengantar Istri ke Peristirahatan Terakhir

Selasa, 29 September 2026 - 18:58:59 WIB

RADARPEKANBARU.COM - Setelah 70 tahun mendamp.

Internasional

Koalisi Oposisi Israel Sepakat Bersatu untuk Gulingkan Netanyahu

Senin, 28 September 2026 - 08:37:34 WIB

RADARPEKANBARU.COM - .

Internasional

Rakyat Palestina sedang Hadapi Perang Genosida

Sabtu, 26 September 2026 - 09:49:16 WIB

RADARPEKANBARU.COM - .

Internasional

Calon Gubernur Peru Tewas Ditembak Saat Kampanye

Jumat, 25 September 2026 - 08:42:46 WIB

RADARPEKANBARU.COM - Jurnalis sekaligus calon gubern.

Internasional

Trump Tekan ICC di Sidang PBB, Desak Seluruh Anggotanya Keluar

Kamis, 24 September 2026 - 08:51:35 WIB

RADARPEKANBARU.COM - .

Internasional

Chile Akui Kedaulatan Maroko atas Sahara

Rabu, 23 September 2026 - 08:13:16 WIB

RADARPEKANBARU.COM - .

TULIS KOMENTAR +INDEKS


Terkini +INDEKS
Turun Rp18 per Kg, Harga TBS Sawit Swadaya Riau Jadi Rp3.866
29 September 2026
Perubahan APBD Kabupaten Bengkalis Tahun 2026 Disepakati Rp 3,5 Triliun
29 September 2026
Bukan Bentuk Satgas Mafia Solar, Pemprov Riau Malah Ajukan Penambahan Kuota BBM
29 September 2026
Gugatan Denny Indrayana Cs Kemungkinan Besar Ditolak
29 September 2026
Tangis Mahathir Mohamad Pecah Saat Mengantar Istri ke Peristirahatan Terakhir
29 September 2026
Ombudsman Pastikan Tak Kena Teror Usai Obok-obok Lapas Cibinong
29 September 2026
Riau Zero Karhutla, Tim Satgas Udara Tetap Siaga Penuh
28 September 2026
Pemko Pekanbaru Siapkan Skema Baru RLH, Tiap Kecamatan Dapat Lima Unit
28 September 2026
Kasus TBC di Pekanbaru Capai 3.605, Baru 68,2 Persen dari Target
28 September 2026
Hakikat Rumah Tangga Ladang Ibadah
28 September 2026
TERPOPULER +INDEKS
  • 1 Turun Rp18 per Kg, Harga TBS Sawit Swadaya Riau Jadi Rp3.866
  • 2 Perubahan APBD Kabupaten Bengkalis Tahun 2026 Disepakati Rp 3,5 Triliun
  • 3 Bukan Bentuk Satgas Mafia Solar, Pemprov Riau Malah Ajukan Penambahan Kuota BBM
  • 4 Gugatan Denny Indrayana Cs Kemungkinan Besar Ditolak
  • 5 Tangis Mahathir Mohamad Pecah Saat Mengantar Istri ke Peristirahatan Terakhir
  • 6 Ombudsman Pastikan Tak Kena Teror Usai Obok-obok Lapas Cibinong
  • 7 Riau Zero Karhutla, Tim Satgas Udara Tetap Siaga Penuh

PT. Radar Indomedia Pers
JL. Arifin Ahmad Blok B Nomor 08 ( Belakang Green Hotel ), Pekanbaru - Riau
Email: [email protected]

Tentang Kami
Redaksi
Pedoman Pemberitaan
Info Iklan
Kontak
Disclaimer

©2021 Radarpekanbaru.com