RADARPEKANBARU.COM - Setiap kali terjadi suatu peristiwa, atau sebuah topik dan perdebatan mengenai persoalan fikih, masalah sejarah, maupun sosok penting yang memiliki pengaruh besar ramai diperbincangkan di media sosial, pendapat yang muncul biasanya beragam.
Perbedaan itu antara lain terjadi karena orang-orang mengemukakan kisah berdasarkan beragam sumber sejarah Islam, sementara para penulisnya memiliki latar belakang, tujuan, kecenderungan, pemikiran, dan afiliasi yang berbeda-beda.
Akibatnya, sering kali muncul generalisasi dan pandangan yang bersifat stereotip. Hal ini juga terjadi ketika membahas sebuah peristiwa sejarah pada masa lalu maupun persoalan yang berkembang saat ini.
Salah satu contohnya adalah pembicaraan mengenai tuduhan bahwa para khalifah Bani Umayyah mencela Ahlul Bait dan Ali bin Abi Thalib RA hingga masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz, yang kemudian disebut-sebut menghentikan praktik tersebut. Benarkah demikian?
Sekjen Persatuan Ulama Islam se-Dunia, Syekh Ali Muhammad ash-Shallabi, memaparkan hal ini dalam penjelasan panjang lebar, yang dikutip dari laman resminya, Kamis (17/9/2026).
Ia mengatakan dalam sejumlah kitab sejarah disebutkan bahwa para khalifah dan gubernur dari Bani Umayyah sebelum Umar bin Abdul Aziz biasa mencela Ali RA.
Namun, riwayat yang disebutkan Ibnu Sa'ad mengenai hal ini tidak sahih.
Ibnu Sa'ad berkata:
Ali bin Muhammad meriwayatkan dari Luth bin Yahya, dia berkata, “Para pemimpin Dinasti Bani Umayyah sebelum masa Umar bin Abdul Aziz mencela-cela seorang pria (Ali bin Abi Thali) RA, lalu saat tiba masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz, dia menghentikannya.
Al-Khaza’i berkata:
“Ketika engkau menjadi pemimpin, engkau tidak mencela Ali,
tidak menebar ketakutan kepada orang yang tak bersalah,
dan tidak mengikuti perkataan orang-orang yang durhaka.
Engkau menyampaikan kebenaran yang nyata,
sebab tanda-tanda petunjuk akan semakin jelas
ketika kebenaran itu disampaikan.
Engkau membuktikan kebaikan dari apa yang engkau ucapkan
melalui apa yang engkau lakukan,
hingga seluruh kaum Muslimin pun merasa ridha.
Riwayat tersebut lemah. Ali bin Muhammad yang menjadi perawi dalam sanadnya adalah al-Mada'ini, yang dinilai lemah. Gurunya, Luth bin Yahya, bahkan sangat lemah.
Yahya bin Ma'in mengatakan tentangnya, “Tidak terpercaya.”
Abu Hatim menilainya “matruk al-hadits” atau ditinggalkan hadisnya.
Ad-Daraquthni mengatakan, “Seorang ahli sejarah yang lemah.”
Dalam Al-Mizan, ia disebut sebagai seorang ahli sejarah yang rusak riwayatnya dan tidak dapat dipercaya. Sebagian besar riwayatnya berasal dari perawi-perawi yang lemah, binasa, dan majhul.
Tuduhan terhadap Muawiyah RA
Muawiyah RA disebut memerintahkan masyarakat untuk mencela dan melaknat Ali RA di atas mimbar-mimbar masjid.
Namun, klaim tersebut tidak memiliki dasar yang kuat.
Yang lebih memprihatinkan, sebagian peneliti justru mengambil tuduhan tersebut tanpa mengujinya melalui kritik dan analisis.
Akibatnya, tuduhan itu kemudian berkembang menjadi sesuatu yang dianggap sebagai fakta yang tidak lagi boleh diperdebatkan oleh sebagian kalangan.
Padahal, tidak pernah terbukti melalui riwayat yang sahih bahwa Muawiyah RA memerintahkan hal tersebut.
Karena itu, riwayat-riwayat yang terdapat dalam karya ad-Damiri, al-Ya'qubi, dan Abu al-Faraj al-Ashfahani tidak dapat dijadikan sandaran.
Sejarah yang lebih kuat justru menunjukkan hal yang berbeda, yakni penghormatan dan penghargaan Muawiyah RA kepada Amirul Mukminin Ali RA dan Ahlul Bait yang suci.
Kisah tentang Ali RA dilaknat di atas mimbar-mimbar Bani Umayyah juga tidak sesuai dengan logika rangkaian peristiwa maupun karakter pihak-pihak yang terlibat dalam konflik tersebut.
Jika kita kembali kepada kitab-kitab sejarah yang ditulis pada masa yang dekat dengan pemerintahan Bani Umayyah, kita tidak menemukan keterangan mengenai hal tersebut.
Kisah itu justru ditemukan dalam karya-karya sejarah yang ditulis pada masa yang lebih kemudian, khususnya ketika Bani Abbasiyah berkuasa.
Menurut penulis, sebagian riwayat tersebut dimaksudkan untuk merusak citra Bani Umayyah di mata masyarakat Muslim.
Al-Mas'udi dalam Muruj adz-Dzahab dan sejumlah penulis lainnya turut memuat kisah tersebut. Riwayat itu kemudian masuk ke dalam sebagian kitab sejarah Ahlusunah.
Namun, tidak terdapat riwayat sahih dan tegas yang dapat menjadi dasar untuk membenarkan klaim tersebut.
Sebuah klaim sejarah harus memenuhi syarat validitas periwayatan, sanad yang terbebas dari cacat, serta matan yang tidak bermasalah.
Para peneliti dan sejarawan tentu memahami bobot sebuah riwayat berdasarkan standar tersebut.
Muawiyah RA juga jauh dari tuduhan semacam itu berdasarkan berbagai riwayat yang menunjukkan keutamaannya dalam agama. Ia dikenal memiliki perjalanan hidup yang baik di tengah umat. Sejumlah sahabat memujinya, demikian pula para tabi'in terbaik.
Mereka memberikan kesaksian mengenai agama, ilmu, keadilan, kesantunan, serta berbagai sifat baik yang dimilikinya.
Sifat santun Muawiyah RA
Hal tersebut telah terbukti dalam diri Muawiyah RA. Karena itu, sangat sulit dibayangkan seseorang dengan karakter dan perjalanan hidup seperti itu memerintahkan masyarakat untuk melaknat Ali RA dari atas mimbar.
Siapa pun yang mempelajari perjalanan Muawiyah RA dalam memimpin pemerintahan, serta mengetahui sifat santun, pemaaf, dan kecakapannya dalam mengatur rakyat, akan melihat bahwa tuduhan tersebut merupakan kebohongan besar terhadap dirinya.
Muawiyah RA bahkan dikenal memiliki kesantunan yang telah menjadi perumpamaan dan teladan bagi generasi setelahnya.
Saya telah menjelaskan secara lebih rinci mengenai sifat santun dalam kepribadian Muawiyah pada pembahasan sebelumnya.
Hadis dalam Shahih Muslim
Adapun hadis dalam Shahih Muslim yang dijadikan dasar untuk mendukung tuduhan tersebut, sebenarnya tidak menunjukkan apa yang mereka klaim.
Diriwayatkan dari Amir bin Sa'ad bin Abi Waqqash, dari ayahnya, ia berkata, “Muawiyah bin Abi Sufyan bertanya kepada Sa'ad, “Apa yang menghalangimu untuk mencela Abu Turab?”
Sa'ad menjawab, “Selama aku mengingat tiga perkara yang pernah disampaikan Rasulullah SAW kepadanya, aku tidak akan pernah mencelanya. Karena memiliki salah satu dari tiga keutamaan tersebut lebih aku cintai daripada unta merah.”
Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa perkataan Muawiyah tersebut tidak secara tegas menunjukkan bahwa ia memerintahkan Sa'ad untuk mencela Ali RA.
Menurut an-Nawawi, Muawiyah hanya menanyakan alasan yang membuat Sa'ad tidak mencelanya. Seakan-akan ia berkata, “Apakah engkau menahan diri karena sikap wara', karena rasa hormat kepadanya, atau karena alasan lainnya?”
Jika Sa'ad menahan diri karena sikap wara' dan penghormatannya kepada Ali RA, maka menurut an-Nawawi, Sa'ad telah melakukan tindakan yang benar dan baik.
Ada kemungkinan pula bahwa saat itu Sa'ad berada di tengah kelompok orang yang mencela Ali RA, tetapi ia sendiri tidak ikut mencela. Ia tidak mampu mengingkari mereka secara terbuka. Karena itu, Muawiyah menanyakan alasan Sa'ad tidak melakukan hal yang sama.
Para ulama juga memberikan kemungkinan penafsiran lain. Maksud pertanyaan tersebut bisa saja: “Apa yang menghalangimu untuk menyalahkannya dalam persoalan pandangan dan ijtihadnya, serta menjelaskan kepada masyarakat bahwa pandangan dan ijtihad kami lebih tepat, sedangkan ia keliru?”
Abu al-Abbas al-Qurthubi, penulis kitab Al-Mufhim, memberikan komentar mengenai kisah Dhirar ash-Shuda'i yang menggambarkan kepribadian Ali RA dan memujinya di hadapan Muawiyah. Saat mendengar pujian tersebut, Muawiyah menangis dan membenarkan apa yang disampaikan Dhirar. Al-Qurthubi berkata:
“Hadis ini menunjukkan bahwa Muawiyah mengetahui keutamaan Ali RA, kedudukannya, serta besarnya hak dan kemuliaannya. Dengan demikian, sangat jauh kemungkinan Muawiyah secara terang-terangan melaknat dan mencelanya, mengingat Muawiyah dikenal memiliki akal, agama, kesantunan, dan kemuliaan akhlak. Adapun riwayat yang menyebutkan hal tersebut, sebagian besarnya adalah kebohongan dan tidak sahih.
Riwayat yang paling sahih dalam persoalan ini adalah perkataan Muawiyah kepada Sa'ad bin Abi Waqqash: ‘Apa yang menghalangimu untuk mencela Abu Turab?’
Perkataan ini tidak secara tegas menunjukkan perintah untuk mencela. Itu hanyalah pertanyaan mengenai alasan Sa'ad menahan diri, untuk mengetahui apa yang ada dalam pikirannya, baik berupa alasan yang mendukung maupun sebaliknya, sebagaimana tampak dari jawabannya.
Ketika Muawiyah mendengar jawaban tersebut, ia pun tenang dan menerima penjelasan itu. Ia mengakui kebenaran dan memberikan hak kepada orang yang memang berhak menerimanya.”
Dr ar-Ruhaili dalam bukunya Ash-Shahb wal-Al mengatakan:
“Menurut pandangan saya—dan Allah lebih mengetahui kebenarannya—Muawiyah sebenarnya mengucapkan hal tersebut sebagai bentuk gurauan kepada Sa'ad. Ia bermaksud menggali sebagian keutamaan Ali RA.
Muawiyah adalah seorang yang cerdas dan tajam pemikirannya. Ia senang berdiskusi dengan orang-orang dan menggali apa yang mereka ketahui. Karena itu, ia ingin mengetahui pandangan Sa'ad mengenai Ali RA, lalu mengajukan pertanyaan dengan cara yang dapat memancing jawaban.(rep)