Kanal

Jauh Sebelum Islam Datang, Nusantara Sudah Terhubung dengan Timur Tengah

RADARPEKANBARU.COM - Hubungan antara Nusantara dan Timur Tengah ternyata telah terjalin jauh sebelum Islam berkembang di kepulauan Indonesia. Melalui jalur perdagangan internasional yang menghubungkan Arab, Persia, Cina, dan kawasan Asia Tenggara, kapal-kapal para pedagang diduga telah singgah di Nusantara sejak era peradaban Phunisia dan Saba. Jaringan perdagangan inilah yang kemudian menjadi pondasi bagi lahirnya hubungan keagamaan, intelektual, dan budaya pada masa-masa berikutnya.

Buku Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII-VXIII menyebutkan hubungan antara Nusantara dan Timur Tengah memiliki sejarah yang sangat panjang, bahkan dapat ditelusuri hingga masa kuno (antiquity). Kontak awal antara kedua kawasan ini, terutama dalam bidang perdagangan, telah berlangsung sejak era Phunisia dan Saba.

Peradaban Phunisia adalah peradaban kuno bangsa pelaut dan pedagang yang hidup di wilayah pesisir Levant, kira-kira kawasan Lebanon, Suriah, dan sekitarnya di tepi timur Laut Tengah. Saba adalah peradaban atau kerajaan kuno yang kuat, kaya, dan maju di Arabia Selatan.

Hubungan dagang tersebut, baik pada periode sebelum kedatangan Islam maupun pada masa awal Islam, pada dasarnya berkembang sebagai bagian dari aktivitas perdagangan bangsa Arab dan Persia dengan Dinasti Cina. Dalam perjalanan dagang menuju Cina, kapal-kapal Arab dan Persia diduga juga singgah dan berlayar ke wilayah Nusantara jauh sebelum Islam hadir dan berkembang di berbagai daerah di kepulauan ini.

Prof. Azyumardi Azra dalam buku Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII-VXIII menjelaskan, sumber-sumber Cina dan Arab merupakan rujukan paling awal yang mencatat hubungan antara Timur Tengah dan Nusantara. Namun, catatan-catatan tersebut bersifat fragmentaris dan memiliki berbagai persoalan dalam hal keandalan. Memang terdapat sejumlah riwayat mengenai Nusantara yang ditulis oleh sejarawan Arab, seperti al-Ya'qubi, Abu Zayd atau al-Mas'udi. Akan tetapi, sebagian besar tulisan mereka bersumber dari kisah para pelayar Arab yang lebih tertarik menceritakan hal-hal yang dianggap luar biasa atau aneh daripada menggambarkan kondisi nyata wilayah-wilayah Nusantara yang mereka singgahi. Akibatnya, banyak informasi dalam riwayat tersebut sulit untuk diverifikasi.

Keadaan tersebut sedikit terbantu oleh catatan para pengembara pada periode berikutnya, yang paling terkenal di antaranya adalah Ibnu Bathuthah. Ia meninggalkan uraian yang dipandang lebih akurat dan autentik, meskipun sejumlah nama tempat di Nusantara yang disebutkannya masih sulit diidentifikasi hingga kini.

Hubungan pertama yang tercatat antara Timur Tengah dan Cina pada umumnya berlangsung dalam bentuk hubungan diplomatik. Sejarah Dinasti Cina yang berjudul Chiu Tang Shu mencatat bahwa pada tahun 31 H/ 651 M, Istana Tang menerima kunjungan dua orang utusan pertama dari negeri Ta Shih yaitu sebutan bangsa Cina untuk Arab. Empat tahun kemudian, istana kembali menerima utusan kedua yang dalam sumber-sumber Cina disebut Tan-mi-mo-ni (Amir al-Mu'minin). Utusan tersebut menyampaikan kepada pihak Cina bahwa mereka telah mendirikan sebuah negara Islam di Timur Tengah sekitar 34 tahun sebelumnya dan telah memiliki tiga orang penguasa. Kedatangan delegasi Muslim ini berlangsung pada masa pemerintahan Khalifah ketiga, Utsman bin Affan Radhiyallahu anhu (sekitar tahun 23-35 H/ 644-656 M).

Ekspansi Islam ke wilayah Persia dan Anak Benua India pada masa Dinasti Umayah (sekitar tahun 40-132 H/ 660-749 M) memberikan dorongan baru bagi pelayaran bangsa Arab dan Persia hingga mencapai kawasan Timur Jauh. Penaklukan wilayah-wilayah tersebut membuat kaum Muslim Arab serta masyarakat Persia yang baru memeluk Islam menguasai sejumlah pelabuhan strategis di sepanjang jalur perdagangan yang membentang dari Teluk Persia hingga Samudra Hindia. Sejak periode inilah para pelaut Muslim secara teratur menempuh jalur pelayaran dari Arabia Selatan menuju Timur Jauh. Jalur tersebut merupakan rute pelayaran terpanjang yang pernah ditempuh manusia sebelum kebangkitan pelayaran bangsa Eropa pada abad ke-16.

Berbekal kemampuan navigasi yang tinggi serta ketangguhan fisik dan mental, para pelaut Muslim mampu mengarungi rute tersebut dengan intensitas yang sangat tinggi. Menjelang abad ke-7 M, peningkatan pelayaran reguler kaum Muslim ke Timur Jauh tidak hanya tercatat dalam dokumen-dokumen istana Cina, tetapi juga dalam laporan para peziarah Buddha dari Cina. Mereka kerap memanfaatkan kapal-kapal milik pelaut Muslim ketika melakukan perjalanan menuju pusat-pusat keagamaan dan keilmuan Buddha di India.(rep)

 

 

Ikuti Terus Riaupower

BERITA TERKAIT

BERITA TERPOPULER