Teguran untuk Iwan dan Suparman, Teladan Sabar Datuk Taufik
Perseteruan yang belakangan menyeret nama Iwan Pansa dan Suparman menjadi perhatian publik di Pekanbaru dan sebagian masyarakat Riau. Potongan video yang beredar luas memancing beragam reaksi, mulai dari kecaman hingga candaan di ruang-ruang perbincangan masyarakat.
Di tengah riuh suasana itu, para tokoh dan sesepuh Melayu justru memilih bersikap tenang. Sebagian besar enggan memperkeruh keadaan. Sikap tersebut sesungguhnya mencerminkan watak masyarakat Melayu yang menjunjung tinggi nilai kesantunan, saling menghormati, serta mengedepankan asah, asih, dan asuh dalam kehidupan bermasyarakat.
Apa yang terjadi seharusnya menjadi pelajaran bagi semua pihak. Memaki orang tua di ruang terbuka tentu bukan tindakan yang patut dibenarkan. Namun di sisi lain, permintaan maaf yang telah disampaikan kepada publik juga perlu dihargai sebagai bentuk penyesalan.
Dalam adat Melayu, pintu maaf selalu terbuka bagi siapa saja yang mengakui kesalahan. Tidak ada manusia yang sempurna akhlaknya selain Nabi Muhammad SAW. Karena itu, sikap bijaksana dan lapang dada jauh lebih mulia dibanding terus memelihara dendam.
Iwan Pansa diharapkan tetap menjadi pribadi yang aktif dan dekat dengan masyarakat, khususnya kalangan muda. Energi dan semangatnya masih bisa diarahkan untuk hal-hal yang lebih bermanfaat. Namun pengalaman ini hendaknya menjadi pengingat bahwa setiap ucapan memiliki batas kepatutan, apalagi di ruang publik.
Kehidupan juga mengajarkan bahwa kekuatan, popularitas, dan pengaruh tidak akan selamanya berada di satu titik. Semua ada masa dan ukurannya. Karena itu, kepekaan sosial dan sikap rendah hati menjadi penting dalam menjaga hubungan sesama manusia.
Di sisi lain, tidak sepatutnya persoalan ini berkembang menjadi upaya saling menjatuhkan atau tindakan yang bernuansa permusuhan. Jika seseorang telah mengakui kesalahan dan meminta maaf, maka tidak layak lagi diperlakukan secara berlebihan. Bila memang ada proses hukum yang berjalan, biarlah diselesaikan melalui mekanisme negara secara proporsional.
Kepada Suparman, ajakan yang sama juga patut disampaikan. Perselisihan hendaknya diakhiri dengan saling berjabat tangan dan membuka ruang perdamaian. Dalam pepatah Melayu disebutkan, “tiada gading yang tak retak.” Setiap manusia memiliki kekurangan dan kekhilafan.
Yang paling patut diapresiasi dalam persoalan ini adalah sikap Datuk Taufik Tambusai yang mampu menahan amarah di tengah situasi yang memanas. Kemampuan mengendalikan emosi merupakan bentuk kedewasaan yang semakin langka di ruang publik saat ini. Sikap sabar dan memilih jalan menenangkan diri patut menjadi teladan bersama.
Pada akhirnya, masyarakat Melayu selalu diajarkan untuk menjaga marwah dengan kelembutan budi dan kesejukan hati. Perbedaan dan konflik jangan sampai merusak persaudaraan.
Semoga kehidupan masyarakat Riau tetap berada dalam suasana damai, penuh kasih sayang, dan senantiasa mendapat rahmat serta petunjuk dari Allah SWT.
Teguran untuk Iwan dan Suparman, Teladan Sabar Datuk Taufik
Oleh: Abuzar KADAR
Sosialisasi 4 Pilar MPR RI di Lubuk Sitarak, Yulisman Tekankan Pentingnya Menjaga Persatuan Bangsa
INHU– Anggota DPR RI Fraksi Golkar, Yulisman, menggelar Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan MPR .
Afiat Ananda Terpilih Aklamasi Pimpin ICF Pekanbaru, Siap Perkuat Pembinaan dan Prestasi Atlet
PEKANBARU– Afiat Ananda resmi terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Indonesia.
Riduan Siagian Ditunjuk Jadi Nahkoda RAMPAS Setia 08 Berdaulat Riau
PEKANBARU – Dewan Pimpinan Pusat (DPP) RAMPAS Setia 08 Berdaulat resmi menerbi.
PCR dan SPS Riau Sepakati Kerja Sama Pengembangan Kurikulum dan Magang Mahasiswa
PEKANBARU– Politeknik Caltex Riau (PCR) dan Serikat Perusahaan Pers (SPS) Riau.
HUT ke-80 SPS, Saidul Tombang: Pers Harus Tetap Menjadi Pilar Demokrasi
PEKANBARU – Serikat Perusahaan Pers (SPS) Provinsi Riau memperingati Hari Ulan.
AMA Riau Dorong Reformasi Sistem Pemilu, Minta Keterwakilan Daerah dan Masyarakat Adat Diperkuat
PEKANBARU – Aliansi Masyarakat Adat Melayu (AMA) Riau mengusulkan adanya refor.








