• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
  • Home
  • Politik
    • Kabupaten Kuansing
    • Kabupaten Rokan Hilir
    • Kabupaten Rokan Hulu
    • Kota Pekanbaru
    • Kota Dumai
    • Kabupaten Siak
    • Kabupaten Pelalawan
    • Kabupaten Kampar
    • Kabupaten Indragiri Hulu
    • Kabupaten Indragiri Hilir
    • Kabupaten Bengkalis
    • Kabupaten Kepulauan Meranti
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Parlemen
  • Olahraga
  • Nasional
  • Riau
    • fokus riau
  • More
    • Hukrim
    • Life Style
    • Dakwatuna
    • Opini
    • Video
    • Pilihan Editor
    • Terpopuler
    • Galeri
    • Indeks
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
  • Politik
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Parlemen
  • Olahraga
  • Nasional
  • Riau
  • Hukrim
  • Life Style
  • Dakwatuna
  • Opini
  • Video
  • Kabupaten Kepulauan Meranti
  • Kabupaten Bengkalis
  • Kabupaten Indragiri Hilir
  • Kabupaten Indragiri Hulu
  • Kabupaten Kampar
  • Kabupaten Pelalawan
  • Kabupaten Siak
  • Kota Dumai
  • Kota Pekanbaru
  • Kabupaten Rokan Hulu
  • Kabupaten Rokan Hilir
  • Kabupaten Kuansing
  • fokus riau
  • Pilihan Editor
  • Terpopuler
  • Indeks
Masukkan Kata Kunci atau ESC Untuk Keluar
PILIHAN +INDEKS
Tirta Meyrizka Lubis Bikin Bangga Riau, Bersinar di Ajang Duta Muslimah Preneur Indonesia 2026
Dibaca : 3557 Kali
Tingkatkan Mutu Pendidikan, SMKN 1 Tapung Hulu Siapkan Lulusan Siap Kerja dan Siap Membuka Lapangan Pekerjaan
Dibaca : 3544 Kali
SMAS Adven Pasir Putih Mulai Buka PPDB 2026/2027, Perkuat Pendidikan Karakter dan Akademik
Dibaca : 3514 Kali
PPDB 2026/2027 Dibuka, SMAN 6 Tapung Fokus Tingkatkan Mutu Pendidikan dan Prestasi Siswa
Dibaca : 3592 Kali
SMAN 2 Kampar Kiri Buka PPDB 2026/2027, Dorong Lahirnya Pelajar Disiplin dan Berdaya Saing
Dibaca : 3534 Kali

  • Home
  • Internasional

Qatar Dikucilkan, Israel Bersorak, Palestina Merana

Redaksi Radarpku

Senin, 19 Juni 2017 10:44:09 WIB
Cetak
Qatar Dikucilkan, Israel Bersorak, Palestina Merana
illustrasi Internet

RADARPEKANBARU.COM - Genap dua pekan Qatar telah dikucilkan oleh tiga negara tentangganya di Teluk  Arab Saudi, Bahrain, dan Uni Emirat Arab (UEA).  Ditambah lagi oleh Mesir, Yaman, Libia, dan Maladewa. Hingga kini belum ada tanda-tanda kapan perseteruan ‘antarsaudara’ itu akan berakhir, meskipun beberapa pihak sudah menawarkan diri jadi penengah.

Lalu siapa yang diuntungkan bila pengucilan negeri kecil di semenanjung Teluk Persia itu terus berkepanjangan? Jawabannya jelas: Zionis Israel!

Mereka akan bersorak gembira setiap terjadi konflik atau perseteruan antarnegara Arab. Mereka, dari dulu hingga sekarang, menginginkan dunia Arab tercerai-berai, terpecah-belah. Mereka menghendaki negara-negara Arab lemah. Sebab bila mereka bersatu dan kuat, tentu tidak susah untuk mengganyang Israel. Maka benarlah peribahasa ‘bersatu kita kuat, bercerai kita runtuh’.

Coba simak data berikut. Negara-negara Arab berjumlah 22, yang tergabung dalam Liga Arab. Dihuni oleh lebih dari 200 juta jiwa. Sebagian sangat kaya. Terutama enam negara yang berserikat dalam Dewan Kerjasama Teluk (Majlis at Ta’awun al Khaliji): Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Kuwait, Bahrain, Oman, dan Qatar.

Dengan fakta seperti itu rasanya tidak sulit untuk ‘menelan’ negara kecil Israel yang hanya berpenduduk sekitar 8 juta jiwa.  Apalagi negara-negara Arab setiap tahun menggelontorkan jutaan dolar untuk membeli berbagai jenis persenjataan canggih.

Sayangnya, kedigdayaan Arab itu menjadi sirna lantaran mereka berantem sendiri. Berbagai persenjataan canggih bukan untuk menghadapi Israel, tapi justru mempersenjatai diri untuk menghadapi ancaman negara-negara tetangga. Kalau tidak sesama negara Arab, maka dengan negara sesama anggota OKI (Organisasi Kerja Sama Islam), seperti Iran misalnya.

Memang, Israel didukung oleh negara super power Amerika Serikat (AS) dan sejumlah negara Barat. Lengkap dengan segala konspirasinya. Namun sayangnya, negara-negara Arab terpecah-belah dan tercerai-berai. Bahkan mereka  entah sadar atau tidak sadar  mengikuti saja langgam dan permainan konspirasi itu.

Dahulu, ketika Zionis Israel memproklamasikan kemerdekaannya pada 1948, konflik di Timur Tengah disebut sebagai konflik Israel dengan Arab. Namun, seiring perjalanan waktu konflik itu pun ditarik dan dipersempit menjadi hanya antara Israel dan Palestina. Ada kekhawatiran konflik ini pun akan diperkecil menjadi konflik antara Israel dan kelompok Hamas yang kini berkuasa di Gaza.

Hamas sendiri adalah akronim dari Harakat al Muqawwamah al Islamiyah. Ia merupakan kelompok perlawanan terhadap penjajah Israel. Kelompok inilah yang telah beberapa kali melancarkan intifadah alias perlawanan semesta rakyat yang membuat Zionis Israel kalang kabut. Kelompok ini pula yang dengan gagah berani melawan pendudukan Israel ketika menyerang Gaza.

Pada 2006, Hamas menjadi gerakan politik dan memenangkan pemilu, mengalahkan faksi Fatah. Setahun kemudian mereka berkuasa atas wilayah Gaza hingga sekarang. Pada perkembangannya kemudian, lantaran sering merepotkan kolonial Israel, Hamas pun dicap oleh kaum Zionis itu sebagai teroris. Klasifikasi Hamas sebagai kelompok teroris ini kemudian juga diikuti oleh negara-negara yang selama ini mendukung Israel, seperti AS dan beberapa negara Barat lainnya.

Yang menyedihkan, sejumlah negara Arab pun membebek klasifikasi itu, bahwa Hamas adalah kelompok teroris. Hanya Qatar yang tetap mendukung dan membantu Hamas. Bahkan mereka juga melindungi beberapa pimpinan teras yang wanted bagi Zionis Israel dan konco-konconya, untuk tinggal di Doha. Sikap Qatar terhadap Hamas inilah yang menjadi salah satu tuduhan bahwa negara kaya ini mendukung kelompok teroris.

Itu sebabnya pengucilan terhadap Qatar disambut gegap gempita oleh para pemimpin Zionis Israel. Kata Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu ketika memperingati 50 tahun kemenangan Perang 1967 melawan negara-negara Arab , telah terjadi perubahan penting bagaimana negara-negara di kawasan (Timur Tengah) memperlakukan Israel. Negara-negara ini, lanjutnya seperti dikutip media Aljazeera.net, bukan lagi menganggap Israel sebagai musuh, tapi sebagai partner melawan para teroris, yang ia sebut sebagai kelompok Islam radikal.

Bahkan dengan jumawanya Netanyahu juga menyatakan, negara-negara ini (maksudnya mereka yang memutuskan hubungan dengan Qatar) telah melihat kekuatan Israel, yang dibuktikan dengan kemenangan Perang Enam Hari pada 1967. Negara-negara ini dan negara-negara lain di dunia, lanjut Netanyahu, pun telah menghargai perjuangan dan sikap tegas Israel terhadap apa yang ia sebut sebagai teroris dan kelompok agresor. Yang terakhir ini tentu merujuk pada Hamas.

Pandangan yang sama juga disampaikan Menteri Luar Negeri Israel Avigdor Lieberman. Menurutnya, apa yang terjadi  pengucilan Qatar merupakan bukti lain bahwa, ’’Bahkan negara-negara Arab pun memahami bahaya sebenarnya di seluruh kawasan (Timur Tengah) adalah bukan Israel, bukan Yahudi, dan bukan Zionis, tapi teroris Islam radikal.’’

Lieberman, seperti dikutip media Aljazeera.net (edisi 13 Juni 2017), pun menyerukan agar Israel segera menormalisasi hubungan dengan, yang ia sebut, negara-negara Arab Suni moderat. Normalisasi ini, katanya, tanpa harus menunggu penyelesaian masalah bangsa Palestina.

Menteri Israel ini mencontohkan, normalisasi hubungan Israel dengan Mesir dan Yordania ternyata bisa terwujud tanpa perlu menunggu penyelesaian masalah bangsa Palestina.  Karena itu, katanya, normalisasi hubungan dengan negara-negara Suni moderat justeru akan mendorong percepatan penyelesaian bangsa Palestina baik di Tepi Barat maupun di Gaza.

Bila kita mengikuti logika Lieberman  dan juga para pemimpin Israel lainnya  sudah semestinya penyelesaian bangsa Palestina menemukan tanda-tanda kesepakatan. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Normalisasi hubungan Israel dengan Mesir dan Yordania sudah berlangsung sekian puluh tahun lalu, namun nasib dan kemerdekaan bangsa Palestina malah semakin tidak jelas.

Persoalannya, Zionis Israel selalu menolak berbagai solusi yang ditawarkan. Termasuk solusi yang paling moderat sekalipun. Di antaranya solusi dua negara yang saling mengakui eksistensi masing-masing. Yaitu Israel dan Palestina yang hidup berdampingan dengan wilayah Palestina sebelum Perang 1967, dengan ibukotanya Jerusalem Timur. Alih-alih mau berunding, Israel justru menancapkan pendudukannya di wilayah Palestina dengan membangun ribuan pemukiman Yahudi secara ilegal. Berbagai resolusi Dewan Keamanan PBB pun mereka anggap sepi.

Sayangnya, negara-negara Arab selalu mengikuti lagu dan langgam yang dinyanyikan oleh Zionis Israel. Termasuk klasifikasi teroris. Juga klasifikasi lawan dan kawan. Bahkan penggunaan istilah pun mengikuti apa yang mereka diktekan. Dari konflik Israel-Arab, menjadi konflik dengan Palestina, dan akhirnya bisa saja diperkecil hanya konflik Israel-Hamas. Dan, karena Hamas sudah dicap teroris, maka Israel akan semakin bebas menduduki wilayah-wilayah Palestina.

Kita belum tahu bagaimana akhir dari drama pengucilan Qatar oleh saudara-saudaranya negara-negara Arab itu sendiri. Yang jelas, semakin lama pengucilan Qatar akan semakin menguntungkan Zionis Israel. Mereka akan bersorak gembira. Sebaliknya, nasib bangsa Palestina akan semakin merana. Kemerdekaan bangsa Palestina akan semakin jauh, manakala bangsa Arab tercerai-berai.(rep)


BERITA LAINNYA +INDEKS
Internasional

Ekspor Minyak Iran Berhenti Total akibat Perang dan Sanksi AS

Jumat, 21 Agustus 2026 - 08:55:44 WIB

RADARPEKANBARU.COM - .

Internasional

Trump Kibarkan Bendera Perang Ekonomi Besar-besaran terhadap Iran

Kamis, 20 Agustus 2026 - 09:04:33 WIB

RADARPEKANBARU.COM - Presiden Amerika Serikat.

Internasional

Trump dan Gedung Putih Unggah Peta Baru Selat Hormuz yang Bikin Panas Iran

Rabu, 19 Agustus 2026 - 08:40:13 WIB

RADARPEKANBARU.COM - .

Internasional

HUT ke-81 RI, AS Ucapkan Selamat dan Sampaikan Belasungkawa untuk Korban Gempa NTT

Selasa, 18 Agustus 2026 - 09:03:26 WIB

RADARPEKANBARU.COM - .

Internasional

Trump Ingin Selat Hormuz jadi Wilayah AS

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 08:44:17 WIB

RADARPEKANBARU.COM - .

Internasional

Karoline Leavitt Mundur sebagai Sekretaris Pers Gedung Putih

Jumat, 14 Agustus 2026 - 09:31:03 WIB

RADARPEKANBARU.COM - .

TULIS KOMENTAR +INDEKS


Terkini +INDEKS
Pekanbaru Siaga Penanggulangan Karhutla
21 Agustus 2026
Polda Riau Geledah RSD Madani, 323 Dokumen Dugaan Korupsi Disita
21 Agustus 2026
Seragam Gratis, DPRD Pekanbaru Minta Pemko Pertimbangkan Pemberian Tas dan Sepatu Gratis
21 Agustus 2026
Jangan Tinggalkan Sholat Istikharah Meski Sudah Yakin
21 Agustus 2026
Ekspor Minyak Iran Berhenti Total akibat Perang dan Sanksi AS
21 Agustus 2026
Purbaya: Desil 10 Tak Boleh Beli BBM Subsidi, Anggaran Bisa Hemat 10%
21 Agustus 2026
Solusi Defisit Anggaran, Pemprov Riau Kolaborasi dengan Pabrik Kelapa Sawit Bangun Jalan
20 Agustus 2026
Walikota Pekanbaru Pastikan Tak Ada Lagi Penahanan Ijazah karena Tunggakan Biaya
20 Agustus 2026
Ekspor Riau Tembus US$10,49 Miliar pada Semester I 2026
20 Agustus 2026
Ancaman bagi yang tidak Cebok setelah Buang Air Kecil
20 Agustus 2026
TERPOPULER +INDEKS
  • 1 Pekanbaru Siaga Penanggulangan Karhutla
  • 2 Polda Riau Geledah RSD Madani, 323 Dokumen Dugaan Korupsi Disita
  • 3 Seragam Gratis, DPRD Pekanbaru Minta Pemko Pertimbangkan Pemberian Tas dan Sepatu Gratis
  • 4 Jangan Tinggalkan Sholat Istikharah Meski Sudah Yakin
  • 5 Ekspor Minyak Iran Berhenti Total akibat Perang dan Sanksi AS
  • 6 Purbaya: Desil 10 Tak Boleh Beli BBM Subsidi, Anggaran Bisa Hemat 10%
  • 7 Solusi Defisit Anggaran, Pemprov Riau Kolaborasi dengan Pabrik Kelapa Sawit Bangun Jalan

PT. Radar Indomedia Pers
JL. Arifin Ahmad Blok B Nomor 08 ( Belakang Green Hotel ), Pekanbaru - Riau
Email: [email protected]

Tentang Kami
Redaksi
Pedoman Pemberitaan
Info Iklan
Kontak
Disclaimer

©2021 Radarpekanbaru.com