Mengapa Manusia Membenci Kematian, Padahal Semua akan Mengalaminya?
RADARPEKANBARU.COM - Kematian merupakan sesuatu yang pasti akan dialami setiap manusia, tetapi manusia pada dasarnya memiliki tabiat untuk membencinya.
Rasa cinta terhadap kehidupan dan keengganan terhadap kematian merupakan naluri yang diberikan Allah SWT, yang kemudian diarahkan agar manusia dapat menjalani kehidupan sekaligus mempersiapkan bekal untuk akhirat.
Syaikh Mahir Ahmad Ash-Shuffi dalam bukunya Al-Mautu wa alamul barzakh, al-hisab wal aidhu alal-latu al-mizan-al-mushaf -ashshirath-anwa'us syafa'ah menerangkan bahwa Allah SWT menciptakan manusia dengan tabiat membenci kematian.
Kebencian minimal adalah manusia tidak mementingkan kematian daripada kehidupan.
Dalam hadis riwayat Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, "Allah telah berfirman dalam hadits qudsi:
"Aku tidak pernah ragu untuk melakukan sesuatu yang Aku perbuat, seperti keraguan-Ku untuk mewafatkan (mencabut nyawa) seorang Muslim. Ia pasti membenci kematian, padahal Aku tidak ingin menyakitinya." (HR Imam Ahmad, Al-Hakim, Ath-Thabrani dan Abu Na’im)
Agar manusia bisa memakmurkan alam semesta dan mengisi kehidupannya, Allah memberikan mereka rasa cinta hidup.
Allah pun memberikan rezeki dan anak dalam kehidupan ini, sehingga mereka semakin senang untuk hidup dan terus berusaha mencari rezeki untuk anak mereka.
Allah telah menjadikan usaha manusia sebagai sebuah keharusan. Manusia harus mencari makan, tempat tinggal yang bisa melindungi dari panas dan dingin, serta menjaga tubuh agar tidak terserang penyakit.
Di samping itu, Nabi Muhammad SAW juga mengajarkan manusia agar selalu berusaha di dunia tanpa merasa pesimis dan sedih.
Ibnu Malik menuturkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:
"Jika hari kiamat datang sedangkan di tangan kalian ada biji kurma, jika bisa untuk menanamnya, tanamlah ia." (HR Imam Ahmad)
Karena Allah memberikan insting kepada manusia untuk mempertahankan hidup, Allah juga tidak menekan insting tersebut, tetapi mengarahkannya, agar manusia bisa mendapatkan dunia dan akhirat sekaligus.
Jika Allah telah memberi manusia rasa cinta kepada dunia, harta dan anak, Allah juga memberikan penjelasan bahwa amal saleh lebih baik dan lebih kekal dari semua itu.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, sedangkan amal kebajikan yang abadi (pahalanya) adalah lebih baik balasannya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan. (QS Al-Kahf Ayat 46)
Maksudnya adalah ketaatan, ibadah, bertasbih, dan berzikir mengingat Allah. Karena amalan-amalan tersebut kekal, sedangkan yang selainnya akan rusak.
Beberapa ayat Alquran telah menegaskan tentang keseimbangan terbesar bagi orang-orang mukmin di dalam kehidupan dunia.
Sebab orang-orang beriman mengetahui, ketika kembali kepada Allah mereka akan kembali dengan penuh keridhaan dan ketenangan, sesuai dengan apa yang telah dijanjikan Allah kepada mereka di akhirat. Mereka akan selalu mengingat firman Allah.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku. (QS Al-Fajr Ayat 27-30)
Orang-orang beriman tidak takut dan tidak merasa benci untuk bertemu Allah. Karena seluruh perbuatan yang mereka lakukan bukan perbuatan yang akan dimurkai Allah dan mengundang azab.
Sementara orang-orang yang merugikan diri sendiri di dunia dan akhirat dengan melakukan kemaksiatan dan kekafiran, serta merasa nyaman dengan kehidupan dunia, adalah orang-orang yang sangat membenci kematian. Mereka benci untuk bertemu Allah.
Sebagaimana diterangkan firman Allah dalam hadits qudsi, "Jika hamba-Ku mencintai pertemuan dengan-Ku, Aku pun merasa senang untuk bertemu dengannya. Jika ia membenci bertemu dengan-Ku, Aku pun benci untuk bertemu dengannya." (HR Imam Al-Bukhari)
Jiwa mereka akan meninggalkan dunia dengan merasa benci dan takut dengan murka Allah yang telah menantinya.
Mereka adalah orang-orang yang melupakan Allah, hingga Allah pun melupakan mereka. Akal dan hati mereka telah sesat.
Mereka bisa berupa orang-orang kafir atau orang-orang Islam yang durhaka karena senantiasa melakukan maksiat. Mereka pun benci untuk bertemu Allah hingga Allah pun benci untuk bertemu mereka. Dengan demikian, mereka telah merugikan diri sendiri karena tenggelam dalam lumuran dosa, maksiat, dan kufur terhadap nikmat-nikmat Allah.
Jika jiwa yang suci kembali kepada Allah dalam keadaan ridha dan diridhai, pemilik hati tersebut pun tidak akan merasakan ketakutan. Malaikat akan menjamunya dengan penuh gembira dan Allah tidak akan melupakan kemuliaannya.
Sementara jiwa yang kotor akan kembali kepada Allah dalam keadaan benci. Allah akan melupakan kemurahan-Nya dan tidak akan memberikan kebaikan akhirat. Jiwa seperti itu akan kembali dalam keadaan hina dan kotor.(rep)
Kunci Mempertahankan Rumah Tangga di Tengah Merebaknya Pancaroba
RADARPEKANBARU.COM - Mempertahankan keutuhan rumah tangga dalam masa sekarang ad.
Rasulullah Ungkap Perbedaan Nasib Ruh Orang Beriman dan Kafir Setelah Mati
Rasulullah SAW menjelaskan perbedaan nasib.
Mengapa Allah Menyukai Hamba yang Berdoa? Ini Penjelasan Imam Al-Ghazali
RADARPEKANBARU.COM - Doa bukan sekadar permohonan se.
Salah Satunya Pahala Syahid, Ini 5 Hukum Khusus Terkait Korban Jiwa Tenggelam Menurut Islam
RADARPEKANBARU.COM - Di antara bentuk kemurahan dan .
Jangan Terlalu Memuji Orang , Lalu Harus Bagaimana? Ingat Selalu Pesan Rasulullah SAW Ini
RADARPEKANBARU.COM - Seringkali kita mendengar seseo.








