Haram Jangan Dinilai Harum
RADARPEKANBARU.COM - Banyak manusia terjerembab pada perilaku munkar, fahsya’, dan dosa lainnya tidak lain karena salah memandang. Yakni, memandang hal yang jelas haram sebagai hal yang harum. Akhirnya manusia terjebak dan kalau sudah begitu sulit baginya untuk kembali. Sekalipun Allah SWT sebenarnya Maha Menerima Tobat.
Allah Ta’ala menegaskan bahwa halal itu baik dan haram itu buruk. “Dan Allah menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk.” (QS al-A’raf [7]: 157).
Di dunia ini, bila komitmen mencari yang halal, maka seseorang akan menghasilkan atau memperoleh kebaikan, dengan izin Allah SWT. Sebaliknya, siapa saja menyukai yang haram, berarti ia sedang menabung keburukan. Cepat atau lambat, azab (siksa) pasti akan datang.
Oleh karena itu, penting bagi kita terus mengupayakan kebaikan, lalu memberikan kepada yang lain juga berupa kebaikan.
Dari Abu Hurairah RA berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah itu suci dan tidak menerima kecuali yang suci." (HR Bukhari).
Artinya perilaku hidup mengabaikan yang halal dan haram, apalagi menjadikan yang haram sebagai halal karena hawa nafsu, perilaku ini akan Allah SWT tolak. Sebab, Allah SWT hanya menerima kebaikan-kebaikan atas dasar iman.
Apabila seseorang melakukan amal ibadah, bahkan berdoa sekalipun, kalau yang selama ini dikerjakan, dikonsumsi, dan yang digemari adalah yang haram, maka doanya akan tertolak.
“Rasulullah SAW menyebut seseorang yang melakukan perjalanan panjang hingga rambutnya kusut dan berdebu, sambil menadahkan tangannya ke langit menyeru, 'Ya Tuhan, Ya tuhan.' Sementara makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan diberi makan dengan yang haram. Bagaimana doanya bisa dikabulkan?" (HR Bukhari).
Jika kita renungkan dengan saksama, maka jelas bahwa kebahagiaan dalam hidup hanya mungkin diraih jika kita memperhatikan ketentuan Allah SWT dan Rasul-Nya.
Sebab, Islam adalah pandangan dan tuntunan hidup. Maka tugas kita sekarang adalah bagaimana memastikan diri senantiasa mengambil yang halal dan menjauhkan yang haram.
Seperti nasihat Buya Hamka yang patut kita renungkan: "Hawa nafsu itu pangkalnya manis, ujungnya pahit. Sebaliknya, iman itu pangkalnya pahit, tetapi ujungnya manis."
Di sinilah kita dapat memahami mengapa Allah SWT selalu menegaskan bahwa orang yang beruntung adalah yang beriman, bertakwa, dan beramal saleh. Memandang yang halal itu halal, dan memandang yang haram tetap haram, bukan harum.(rep)
Harta dan Nasib Pemiliknya pada Hari Kiamat: Ada yang Terhina, Ada yang Dimuliakan
RADARPEKANBARU.COM - Sesungguhnya Allah SWT menurunk.
Kehilangan Satu Waktu Sholat Diibaratkan Kehilangan Keluarga dan Harta
RADARPEKANBARU.COM - Sholat merupakan kewajiban utam.
Jumadil Awal, Bulan Bersejarah Pernikahan Nabi Muhammad dan Sayyidah Khadijah
RADARPEKANBARU.COM - .
Kisah Usamah bin Zaid, Pemuda 18 Tahun yang Ditunjuk Rasulullah Jadi Panglima Perang
RADARPEKANBARU.COM - Usia muda bukan penghalang untu.
Jangan Pernah Sepelekan Utang, Pikir Berulang Kali Apalagi Hanya untuk Gengs
RADARPEKANBARU.COM - Allah SWT membolehkan utang-piu.
Mereka yang Abaikan Sholat akan Dikumpulkan Bersama Firaun dan Menterinya Serta Musuh Nabi SAW
RADARPEKANBARU.COM - Orang yang meninggalkan atau me.








