• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
  • Home
  • Politik
    • Kabupaten Kuansing
    • Kabupaten Rokan Hilir
    • Kabupaten Rokan Hulu
    • Kota Pekanbaru
    • Kota Dumai
    • Kabupaten Siak
    • Kabupaten Pelalawan
    • Kabupaten Kampar
    • Kabupaten Indragiri Hulu
    • Kabupaten Indragiri Hilir
    • Kabupaten Bengkalis
    • Kabupaten Kepulauan Meranti
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Parlemen
  • Olahraga
  • Nasional
  • Riau
    • fokus riau
  • More
    • Hukrim
    • Life Style
    • Dakwatuna
    • Opini
    • Video
    • Pilihan Editor
    • Terpopuler
    • Galeri
    • Indeks
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
  • Politik
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Parlemen
  • Olahraga
  • Nasional
  • Riau
  • Hukrim
  • Life Style
  • Dakwatuna
  • Opini
  • Video
  • Kabupaten Kepulauan Meranti
  • Kabupaten Bengkalis
  • Kabupaten Indragiri Hilir
  • Kabupaten Indragiri Hulu
  • Kabupaten Kampar
  • Kabupaten Pelalawan
  • Kabupaten Siak
  • Kota Dumai
  • Kota Pekanbaru
  • Kabupaten Rokan Hulu
  • Kabupaten Rokan Hilir
  • Kabupaten Kuansing
  • fokus riau
  • Pilihan Editor
  • Terpopuler
  • Indeks
Masukkan Kata Kunci atau ESC Untuk Keluar
PILIHAN +INDEKS
Darmilis Dorong Transformasi Zakat Riau, BAZNAS Diharapkan Jadi Penggerak Kemandirian Umat
Dibaca : 1882 Kali
Tirta Meyrizka Lubis Bikin Bangga Riau, Bersinar di Ajang Duta Muslimah Preneur Indonesia 2026
Dibaca : 4206 Kali
Tingkatkan Mutu Pendidikan, SMKN 1 Tapung Hulu Siapkan Lulusan Siap Kerja dan Siap Membuka Lapangan Pekerjaan
Dibaca : 4210 Kali
SMAS Adven Pasir Putih Mulai Buka PPDB 2026/2027, Perkuat Pendidikan Karakter dan Akademik
Dibaca : 4167 Kali
PPDB 2026/2027 Dibuka, SMAN 6 Tapung Fokus Tingkatkan Mutu Pendidikan dan Prestasi Siswa
Dibaca : 4280 Kali

  • Home
  • Dakwatuna

Dr. Fithriah Wardi, Putri Terbaik Indonesia yang Menjadi Doktor di Universitas Al-Azhar, Kairo Mesir

Redaksi Radarpku

Sabtu, 30 November 2013 23:50:56 WIB
Cetak
Dr. Fithriah Wardi, Putri Terbaik Indonesia yang Menjadi Doktor di Universitas Al-Azhar, Kairo Mesir
Dr. Fithriah Wardi bersama sang Suami Prof. Dr. Kamaluddin Nurdin. (Irhamni Rofiun)
Rubrik: Wawancara

Radar Pekanbaru- Yang menjadi motivasi utama saya adalah rasa kagum saya terhadap kualitas para ulama yang telah dilahirkan oleh salah satu universitas tertua di dunia ini, jawab beliau ketika ditanya tentang motivasi beliau menyelesaikan S3 di Universitas Islam ternama, Al-Azhar Asy-Syarif

Dr. Fithriah Wardi, siapa yang tidak kenal dengan beliau, salah seorang alumni mahasiswa kuliah banat Al-Azhar, beliau juga alumni pondok pesantren Attaqwa yang paling pertama meraih gelar doktoral pada bidang Fiqih Perbandingan. Tepatnya pada hari Sabtu, 29 September 2012 pukul 13.30 CLT. Gelar tersebut diterima ketika selesai sidang munaqasyah yang berlangsung di Kairo. Bagaimana perjuangan beliau untuk menyelesaikan program doktoral tersebut? Adakah kesulitan dan kemudahan yang beliau rasakan? Dengan berbagai macam pertanyaan yang ada, akhirnya kami berhasil mendapatkan informasi tentang lika-liku perjuangan hidup beliau dalam menyelesaikan program doktoral lewat wawancara eksklusif melalui sebuah jejaring sosial. Berikut hasil wawancara tersebut:

Bagaimana sistem kuliah program doktoral di Universitas Al-Azhar? Apa saja persyaratan yang diajukan? Adakah ujian khusus yang diberikan Al-Azhar?

Sistem program doktor di Al-Azhar sangat simpel, karena tidak ada lagi sistem perkuliahan yang memerlukan kehadiran. Yang diperlukan hanyalah komitmen mahasiswa/mahasiswi tersebut untuk bertanggung jawab menyelesaikan disertasi yang telah disetujui oleh pihak universitas. Dan syarat yang diperlukan untuk mengajukan permohonan program S3 di Al-Azhar adalah syahadah S2 dari Al-Azhar dengan disertakan transkrip nilai serta judul disertasi yang telah disetujui oleh pihak fakultas. Tanpa melalui ujian Al-Quran, karena ujian Al-Quran hanya akan dilakukan setelah judul diterima oleh pihak universitas. Dan ujian Al-Quran ini merupakan syarat untuk dapat dilaksanakannya sidang munaqasyah.

Selama menulis disertasi, Anda tidak berada di Mesir. Bagaimana hubungan komunikasi Anda dengan pembimbing? Adakah pertemuan atau muhadharah khusus seperti program magister di Al-Azhar?

Sepanjang penulisan disertasi saya berdomisili di Malaysia. Namun komunikasi antara saya dengan profesor pembimbing tetap dapat berjalan lancar, dengan menggunakan fasilitas teknologi yang ada. Dan seperti yang telah saya katakan di atas bahwa dalam program S3 di Al-Azhar tidak ada lagi sistem perkuliahan. Dan inilah salah satu faktor yang memberikan kemudahan bagi saya yang tidak berdomisili di Mesir.

Dr. Fithriah Wardi bersama Dewan penguji: 1) Prof. Dr. Magdah Hazza', Ketua Jurusan Fiqh Muqarin, Banat Al-Azhar (Pembimbing), 2) Prof. Dr. Rusydi Syahatah, Dekan Fakultas Hukum Universitas Helwan (Penguji Luar), 3) Prof. Dr. Farag Anbar, dosen Fiqh Muqaran Fakultas Dirasat Islamiyyah Universitas Al-Azhar (Penguji Dalam). (Irhamni Rofiun)

Dr. Fithriah Wardi bersama Dewan penguji: 1) Prof. Dr. Magdah Hazza', Ketua Jurusan Fiqh Muqarin, Banat Al-Azhar (Pembimbing), 2) Prof. Dr. Rusydi Syahatah, Dekan Fakultas Hukum Universitas Helwan (Penguji Luar), 3) Prof. Dr. Farag Anbar, dosen Fiqh Muqaran Fakultas Dirasat Islamiyyah Universitas Al-Azhar (Penguji Dalam). (Irhamni Rofiun)

Dalam menempuh program doktoral ini, berapa lama waktu yang Anda butuhkan untuk menyelesaikannya? Adakah kesulitan dan kemudahan yang Anda rasakan selama proses penulisan tersebut?

Waktu yang saya tempuh untuk menyelesaikan program S3 dari semenjak pengajuan judul sampai waktu munaqasyah adalah selama 8 tahun. Kesulitan yang saya hadapi dalam masa tersebut adalah jauhnya jarak antara tempat domisili saya dengan profesor pembimbing, sehingga terkadang hasil penulisan saya yang telah diserahkan kepada pembimbing memerlukan masa yang sangat lama untuk dikoreksi. Dan ini adalah resiko yang harus saya terima. Dan di samping itu, resiko yang harus saya hadapi adalah pengorbanan dari segi materi yang tidak sedikit. Karena saya dituntut untuk melakukan perjalanan bolak-balik ke Mesir, yang tentunya memerlukan biaya yang tidak sedikit. Bahkan pada penghujung masa studi, dalam jangka setahun saya melakukan perjalanan bolak-balik Malaysia-Mesir sebanyak tiga kali. Dan Alhamdulillah dengan dukungan penuh dari suami yang merupakan sponsor penuh saya, maka saya dapat melalui semuanya dengan lancar.

Sedangkan kemudahan yang saya rasakan adalah sistem Al-Azhar yang begitu fleksibel dan pengertian yang sangat tinggi dari profesor pembimbing tentang kondisi saya, yang membolehkan saya menyelesaikan disertasi di luar negara Mesir, sehingga saya tetap bisa berkumpul dengan keluarga saya dalam masa penulisan disertasi.

Ketika proses penulisan disertasi, siapa saja yang turut andil dalam penulisan tersebut?

Yang paling banyak turut andil dalam proses penulisan disertasi tentunya suami saya, Prof. Dr. Kamaluddin Nurdin yang tidak pernah putus memberikan motivasi moril dan materil kepada saya agar dapat menyelesaikan studi saya. Dan di samping itu juga sahabat saya Dr. Habibah Djunaidi (berasal dari Kalimantan) yang memiliki peran penuh menjadi mediator antara saya dengan profesor pembimbing dalam menyerahkan hasil penulisan disertasi saya dan menerima kembali hasil koreksiannya. Dan ketika Dr. Habibah kembali ke tanah air, tugasnya ini diteruskan oleh Dr. Muhammad Widus (berasal dari Sulawesi Selatan).
Prof. Dr. Kamaluddin Nurdin, suami dari Dr. Fithriah Wardi, saat bertemu dengan gurunya Mufti Mesir Syekh Prof. Dr. Syauqi 'Allam, berguru ketika BA 1992-1997, Fakultas Syari'ah al-Azhar Tanta, dan sempat hadiahkan beliau salah satu karya buku yang keenam yaitu "نشأة الفرق وتفرقها". (Irhamni Rofiun)

Prof. Dr. Kamaluddin Nurdin, suami dari Dr. Fithriah Wardi, saat bertemu dengan gurunya Mufti Mesir Syekh Prof. Dr. Syauqi 'Allam, berguru ketika BA 1992-1997, Fakultas Syari'ah al-Azhar Tanta, dan sempat hadiahkan beliau salah satu karya buku yang keenam yaitu نشأة الفرق وتفرق. (Irhamni Rofiun)

Apa motivasi Anda untuk menyelesaikan program doktoral di universitas tertua di dunia (Al-Azhar) yang terkenal sulit ditempuh itu?

Yang menjadi motivasi utama saya adalah rasa kagum saya terhadap kualitas para ulama yang telah dilahirkan oleh salah satu universitas tertua di dunia ini. Jadi, manakala saya telah mampu menyelesaikan S1 di sini, saya bertekad untuk meneruskan ke jenjang yang selanjutnya, jika kemampuan saya mengizinkan. Dan ternyata saya berhasil menyelesaikan S2 di universitas ini. Ketika syahadah S2 saya keluar, tanpa berfikir lagi saya pun segera mengajukan diri untuk mengambil program S3. Karena saya merasa alangkah ruginya jika saya tidak manfaatkan peluang yang telah diberikan oleh Allah kepada saya. Dan Alhamdulillah dengan ridha-Nya saya dapat juga menyelesaikan program S3. Sebenarnya anggapan bahwa Al-Azhar sangat sulit ditempuh itu menurut saya hanya sekadar stigma saja. Karena hingga sampai saat ini sudah banyak orang Indonesia yang berhasil melewati jenjang Master dan Doktor di Al-Azhar.

Apa keunggulan mengambil program doktoral di Universitas Al-Azhar?

Keunggulan program doktoral di Al-Azhar adalah ketatnya Al-Azhar menjaga kelestarian kitab-kitab turats sebagai sumber rujukan penulisan tesis dan disertasi. Sehingga semua yang kita tulis dalam tesis dan disertasi harus merujuk kepada kitab rujukan yang asal, tanpa boleh mengambil dari kitab yang bukan asal. Dan secara tidak langsung mendidik kita untuk selalu jujur mengungkapkan sumber ilmiah yang kita tulis. Sistem yang seperti ini, menjadikan kita terbiasa dan tidak asing berinteraksi dengan berbagai manuskrip turats yang terkadang memerlukan pemahaman yang mendalam.

Sebelum menempuh program doktoral, tentunya Anda menghadapi program magister di Al-Azhar. Bagaimana proses program magister  yang Anda jalani? Di mana kediaman Anda ketika proses dan penulisan tesis?

Ketika menempuh program master saya berada dalam kondisi awal perkawinan. Dan sepanjang program master tersebut saya memiliki banyak peran, sebagai istri, ibu, dan penerjemah buku. Semua peran ini masing-masing memerlukan komitmen yang penuh dari saya. Dan Alhamdulillah saya dapat menyeimbangkan semuanya dengan baik.  Dan sepanjang masa itu, saya tinggal di Hayy Asyir, Bawwabah Tsalitsah. Saya meninggalkan Mesir tahun 2006, setelah suami saya menyelesaikan program doktornya. Dan pada saat itu, saya juga telah terdaftar sebagai mahasiswi S3.
Dr. Fithriah Wardi bersama suami dan ketiga anaknya di Masjid Sultan Abdul Samad, KLIA Sepang, Malaysia. (Irhamni Rofiun)

Dr. Fithriah Wardi bersama suami dan ketiga anaknya di Masjid Sultan Abdul Samad, KLIA Sepang, Malaysia. (Irhamni Rofiun)

Realita yang ada pada saat ini, kebanyakan masisir (mahasiswa Indonesia di Mesir) lebih memilih untuk menyelesaikan program pasca sarjana di tanah air atau negara-negara lain. Adakah tips atau kiat-kiat khusus yang Anda jadikan pedoman untuk menyelesaikan program pasca sarjana bahkan sampai program doktoral ini?

Menurut saya, pilihan untuk melanjutkan studi kembali kepada masing-masing individu. Karena setiap individu lebih mengetahui apa yang dia inginkan untuk dirinya. Mungkin ada yang ingin mendapatkan pengalaman yang bervariasi, maka dia putuskan untuk melanjutkan studinya di tempat yang berbeda. Yang penting dia tahu apa yang dia inginkan dan tujuan yang dia ingin capai.

Sebenarnya perkara yang paling penting ketika kita tengah berada pada fase penulisan tesis dan disertasi adalah ketekunan dan komitmen. Karena pada fase ini sudah tidak ada lagi sistem muhadarah dan ujian tahunan, jadi kita bergantung 100% kepada komitmen pribadi kita. Siapa yang tekun dan fokus akan dapat cepat menyelesaikan studinya, dan siapa yang tidak tekun dan fokus akan lambat dan ada kemungkinan mengalami kegagalan.

Saran dan pesan untuk IKPMA-Mesir serta Pelajar dan Mahasiswa Indonesia di Mesir?

Buat adik-adik IKPMA-Mesir serta mahasiswa Indonesia yang saat ini masih dipenuhi dengan energi muda, maksimalkan energi muda Anda untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat. Jika Anda memiliki niat untuk menghabiskan studi Anda di Mesir, niatkan dalam hati dengan ikhlas dan bersungguh-sungguh. Karena sebuah niat jika dilakukan dengan ikhlas dan bersungguh-sungguh akan menemukan jalannya, walaupun terkadang bertemu dengan hambatan.

Sedangkan bagi orang yang mencintai dunia organisasi, barangkali bisa dievaluasi kembali kegiatannya. Bisa jadi selama ini dia lebih mengutamakan kegiatan organisasinya dibandingkan studinya. Karena yang diharapkan oleh orang tua ketika mengirim Anda belajar ke Mesir adalah Anda kembali dengan membawa ilmu yang bisa membanggakan orang tua, bukannya pengalaman berorganisasi.

Selagi Anda berada di Mesir, perkayalah diri Anda dengan khazanah keilmuan yang sangat luas. Jika Anda sudah selesai menyelesaikan studi minimal S1, maka Anda sudah memiliki berbagai pilihan di hadapan Anda, apakah ingin menjadi akademisi, ustadz/ustadzah, pengusaha travel, politisi, PNS, pendakwah dan sebagainya. Dan pada saat itulah masa untuk Anda mengeksplor segala potensi yang Anda miliki. Dan saya ucapkan selamat berjuang untuk Anda semua. Jangan cepat mengalah dengan keadaan dan tantangan, serta jangan lupa selalu berdoa kepada Allah Swt. minta ditunjukkan jalan yang terbaik untuk Anda.

Semoga dengan kisah beliau ini menambah semangat kita, para pelajar untuk terus mencari ilmu tanpa mengenal lelah, jarak dan waktu khususnya bagi kita, para mahasiswa Al-Azhar. Aamiin.

Curriculum Vitae

Nama: Dr. Fithriah Wardi

TTL: Bekasi, 23 September 1974 M

Alamat: Nilai, Negeri Sembilan, Malaysia

Nama Suami: Prof. Dr. Kamaluddin Nurdin

Profesi Suami: Guru Besar di Univeristi Sains Islam Malaysia (USIM)

Jumlah anak: 3 orang, Hebatalla Kamaluddin Nurdin (Putri), Wahba Kamaluddin Nurdin (Putra), Sharim Kamaluddin Nurdin (Putra).

Motto Hidup: Sekali melangkah jangan berhenti sebelum sampai ke tujuan.

Riwayat Pendidikan:

- Aliyah:  Attaqwa Putri alumni periode 1993

- S1: Universitas Al-Azhar selesai pada tahun 1997

- S2: Universitas Al-Azhar selesai pada tahun 2005

- S3: Universitas Al-Azhar selesai pada tahun 2012

Fakultas: Syari'ah Islamiyah

Jurusan: Fiqh Muqaran (Fiqih Perbandingan)

Sumber: dakwatuna


BERITA LAINNYA +INDEKS
Dakwatuna

Jangan Terlalu Memuji Orang , Lalu Harus Bagaimana? Ingat Selalu Pesan Rasulullah SAW Ini

Kamis, 24 September 2026 - 09:03:00 WIB

RADARPEKANBARU.COM - Seringkali kita mendengar seseo.

Dakwatuna

Tanda Kiamat Kian Dekat, Umat Islam akan Hancur Bukan oleh Musuh tetapi Penyakit Wahn

Rabu, 23 September 2026 - 08:26:35 WIB

RADARPEKANBARU.COM - .

Dakwatuna

Mengapa Allah Menciptakan Kejahatan dan Dosa di Alam Semesta?

Selasa, 22 September 2026 - 10:20:15 WIB

RADARPEKANBARU.COM - Sesungguhnya hikmah Allah Yang .

Dakwatuna

Pendapat Nabi Muhammad soal Orang Beriman yang Berbohong

Senin, 21 September 2026 - 11:09:20 WIB

RADARPEKANBARU.COM - Dalam sebuah kesempatan, salah seorang sahabat bertanya ke .

Dakwatuna

Benarkah Para Khalifah Bani Umayyah Perintahkan Melaknat Ali Bin Abi Thalib dan Ahlul Bait?

Sabtu, 19 September 2026 - 08:59:30 WIB

RADARPEKANBARU.COM - Setiap kali terjadi suatu peris.

Dakwatuna

Doa Pilihan untuk Atasi Kegelisahan dan Kesusahan yang Diajarkan Rasulullah SAW

Jumat, 18 September 2026 - 08:36:53 WIB

RADARPEKANBARU.COM - Allah Ta’ala menjadikan dunia.

TULIS KOMENTAR +INDEKS


Terkini +INDEKS
Belanja Riau Naik Rp56,63 Miliar, Efisiensi Jadi Kunci APBD Perubahan 2026
24 September 2026
Hujan Diprakirakan Guyur Sebagian Besar Wilayah Riau Sore hingga Malam Hari
24 September 2026
Pemko Pekanbaru Siapkan Subsidi DP dan Bunga Kredit Rumah bagi Warga
24 September 2026
Jangan Terlalu Memuji Orang , Lalu Harus Bagaimana? Ingat Selalu Pesan Rasulullah SAW Ini
24 September 2026
KPU: Permohonan Denny Indrayana Cs Masuk Kategori Pemakzulan
24 September 2026
Trump Tekan ICC di Sidang PBB, Desak Seluruh Anggotanya Keluar
24 September 2026
Marahi Guru yang Viralkan Kondisi Sekolah Berdinding Triplek, Wabup Kampar Dikecam
23 September 2026
Sekdaprov dan Tiga Pejabat Pemprov Riau Bersaksi di Sidang Ajudan Abdul Wahid
23 September 2026
Tanda Kiamat Kian Dekat, Umat Islam akan Hancur Bukan oleh Musuh tetapi Penyakit Wahn
23 September 2026
APBD Perubahan Riau Ditetapkan Rp8,378 Triliun, Fokus Lunasi Tunda Bayar
23 September 2026
TERPOPULER +INDEKS
  • 1 Belanja Riau Naik Rp56,63 Miliar, Efisiensi Jadi Kunci APBD Perubahan 2026
  • 2 Hujan Diprakirakan Guyur Sebagian Besar Wilayah Riau Sore hingga Malam Hari
  • 3 Pemko Pekanbaru Siapkan Subsidi DP dan Bunga Kredit Rumah bagi Warga
  • 4 Jangan Terlalu Memuji Orang , Lalu Harus Bagaimana? Ingat Selalu Pesan Rasulullah SAW Ini
  • 5 KPU: Permohonan Denny Indrayana Cs Masuk Kategori Pemakzulan
  • 6 Trump Tekan ICC di Sidang PBB, Desak Seluruh Anggotanya Keluar
  • 7 Marahi Guru yang Viralkan Kondisi Sekolah Berdinding Triplek, Wabup Kampar Dikecam

PT. Radar Indomedia Pers
JL. Arifin Ahmad Blok B Nomor 08 ( Belakang Green Hotel ), Pekanbaru - Riau
Email: [email protected]

Tentang Kami
Redaksi
Pedoman Pemberitaan
Info Iklan
Kontak
Disclaimer

©2021 Radarpekanbaru.com