Stop Gonta-Ganti Skincare, Jerawat Bukan Arena Coba-Coba
Jerawat yang tak kunjung berhenti muncul meski sudah berpindah dari satu skincare ke skincare lain — sering kali bukan hanya soal “produk yang kurang cocok”. Bagi dr. Dessy Puspitalia, kondisi tersebut justru merupakan tanda bahwa kulit sedang memberi sinyal adanya masalah yang lebih dalam.
Jerawat bisa dipicu banyak hal: perubahan hormon, stres, pola tidur, pola makan, hingga penggunaan bahan aktif yang tidak sesuai kebutuhan kulit. Saat perawatan dilakukan secara trial-and-error — mengikuti tren, rekomendasi viral, atau racikan sembarangan kulit tidak hanya berisiko iritasi, tapi juga rentan meninggalkan bekas gelap bahkan scar.
Menurut dr. Dessy, jerawat seharusnya dipahami sebagai kondisi kulit yang perlu diagnosis, bukan sekadar alasan untuk menambah koleksi skincare.
“Kulit berjerawat membutuhkan perawatan yang tepat dan terukur. Pemilihan bahan aktif harus disesuaikan dengan jenis jerawat dan kondisi kulit, bukan hanya karena produk tersebut sedang tren,”
— jelas dr. Dessy Puspitalia.
Baginya, langkah pertama yang paling penting bukan memilih brand, melainkan memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi pada kulit.
Bagaimana Dokter Menilai Jerawat?
Dalam praktiknya, dr. Dessy tidak melihat jerawat sebagai masalah tunggal. Setiap pasien dinilai berdasarkan:
• jenis jerawat (komedo, papul, pustul, nodul, hormon)
• lokasi dan distribusi
• kondisi skin barrier
• riwayat penggunaan bahan aktif
• kebiasaan harian pasien
Pendekatan ini membuat perawatan menjadi personal, bukan generik.
Alih-alih langsung mengganti banyak produk, ia lebih dulu memetakan mana yang perlu dipertahankan, disederhanakan, atau dihentikan sementara agar kulit bisa pulih tanpa dipaksa bekerja terlalu keras.
Rangkaian Perawatan yang Biasanya Direkomendasikan Dokter
Bukan daftar “wajib beli”, melainkan gambaran prinsip bahan aktif yang umumnya digunakan pada kulit berjerawat dengan catatan tetap disesuaikan diagnosis:
1. Cleanser lembut & oil-control
Dipilih yang membantu membersihkan pori tanpa membuat kulit kering berlebihan. Kandungan yang sering digunakan antara lain:
Salicylic Acid (BHA), Tea Tree, Zinc PCA, Niacinamide.
2. Toner / eksfoliasi terukur
Digunakan sesuai interval, bukan setiap hari:
AHA/BHA, PHA untuk kulit sensitif, Centella untuk inflamasi.
3. Serum anti-acne berbasis bahan aktif
Umumnya mengacu pada:
Niacinamide, Azelaic Acid, Retinoid, Benzoyl Peroxide (spot).
4. Moisturizer ringan & non-comedogenic
Tujuan utamanya menjaga barrier:
Ceramide, Hyaluronic Acid, Panthenol, Squalane.
5. Spot treatment
Dipilih sesuai jenis jerawat:
Benzoyl Peroxide, Sulfur, Salicylic Acid, Retinoid dosis rendah.
6. Sunscreen
Menurut dr. Dessy, ini justru langkah krusial pada kulit berjerawat.
“Tanpa proteksi UV, peradangan lebih mudah meninggalkan bekas gelap dan proses pemulihannya jadi lebih lama,”
ujarnya.
Baginya, sunscreen bukan pelengkap — melainkan pelindung agar jerawat tidak meninggalkan jejak permanen.
Mengapa Pendampingan Dokter Penting?
Berdasarkan pengalamannya menangani berbagai tipe jerawat, dr. Dessy menekankan beberapa alasan medis:
• formula disesuaikan dengan jenis jerawat & kondisi kulit
• risiko iritasi lebih rendah karena pemakaian bahan aktif diawasi
• mencegah terbentuknya PIH (bekas hitam) dan scar
• perawatan bersifat bertahap & dipantau progresnya
• mudah dikombinasikan dengan tindakan klinis bila diperlukan
Ia menilai, tujuan utama perawatan bukan hanya membuat jerawat reda, tetapi menjaga kulit tetap sehat dalam jangka panjang.
Ketika Dibutuhkan, Perawatan Dapat Dikombinasikan dengan Tindakan Medis
Pada kasus tertentu, dr. Dessy dapat mempertimbangkan tindakan tambahan secara selektif, misalnya:
• peeling untuk membersihkan sumbatan pori & mempercepat regenerasi
• terapi cahaya / laser untuk jerawat aktif & minyak berlebih
• penanganan bekas jerawat dan scar
Namun semua tindakan dilakukan berdasarkan indikasi — bukan paket yang diberlakukan sama untuk semua orang.
Tentang dr. Dessy Puspitalia
Dr. Dessy Puspitalia — dikenal pasien sebagai dr. Lia — merupakan dokter dengan pengalaman lebih dari enam tahun menangani kasus jerawat, hiperpigmentasi, dan perawatan kulit berkelanjutan. Ia dikenal teliti dalam membaca pola jerawat pasien serta berhati-hati dalam merancang perawatan agar tetap realistis, aman, dan sesuai kebutuhan kulit.
Baginya, perawatan kulit tidak boleh menjadi proses coba-coba tanpa arah. Kulit berjerawat layak mendapatkan pendekatan yang ilmiah, manusiawi, dan berpijak pada diagnosis. (*)
PCR dan SPS Riau Sepakati Kerja Sama Pengembangan Kurikulum dan Magang Mahasiswa
PEKANBARU– Politeknik Caltex Riau (PCR) dan Serikat Perusahaan Pers (SPS) Riau.
HUT ke-80 SPS, Saidul Tombang: Pers Harus Tetap Menjadi Pilar Demokrasi
PEKANBARU – Serikat Perusahaan Pers (SPS) Provinsi Riau memperingati Hari Ulan.
AMA Riau Dorong Reformasi Sistem Pemilu, Minta Keterwakilan Daerah dan Masyarakat Adat Diperkuat
PEKANBARU – Aliansi Masyarakat Adat Melayu (AMA) Riau mengusulkan adanya refor.
PWI Riau Kurban 6 Sapi dan 1 Kambing pada Iduladha 1447 H
PEKANBARU – Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Riau menggelar kegiatan pemotongan hewan kurban .
Hari Ini KAHMI Riau Sembelih Hewan Qurban
PEKANBARU — Majelis Wilayah Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (MW KAHMI) Provinsi Riau meng.
Isu Anak Bupati Terlibat Narkoba Hoaks, Penyebar Fitnah di Medsos Bisa Dijerat Hukum
PEKANBARU – Aliansi Mahasiswa Riau (AMR) meminta masyarakat tidak menyebarkan informasi bohong .






.jpg)

