Konconya Diserang, AS Kirim Kapal dan Pesawat ke Israel
WASHINGTON -- Amerika Serikat (AS) tak menutup-nutupi keberpihakan tanpa syaratnya terhadap Israel. Menyusul serangan Operasi Badai Al-Aqsa oleh Hamas, negara dengan militer paling kuat itu langsung memutuskan mengirim beberapa kapal militer dan pesawat terbang lebih dekat ke Israel sebagai bentuk dukungan kepada Israel.
Menteri Pertahanan Lloyd Austin mengatakan bahwa bantuan keamanannya akan mulai bergerak pada Ahad (8/10/2023) ke wilayah Israel. "Pentagon juga akan menambahkan jet tempur ke wilayah tersebut," kata Austin dalam keterangan resmi Departemen Pertahanan AS alias Pentagon, kemarin.
Austin mengatakan bahwa dia memerintahkan untuk memindahkan kelompok pasukan kapal induk lebih dekat ke Israel termasuk kapal-kapal yang mendukungnya. "Saya telah mengarahkan pergerakan Gugus Tempur Kapal Induk USS Gerald R Ford ke Mediterania Timur," katanya.
Ia mengatakan, AS akan menambah skuadron pesawat tempur F-35, F-15, F-16, dan A-10 Angkatan Udara AS di wilayah tersebut. Washington juga akan memberikan bantuan amunisi kepada Israel.
Pentagon dalam pernyataan selanjutnya mengatakan, Austin telah berbicara dengan Menteri Pertahanan Israel Yoav Gallant untuk memberikan informasi terbaru kepadanya mengenai tanggapan AS. "Menyatakan dukungan bagi rakyat Israel dan untuk menerima informasi terkini mengenai operasi Israel untuk memulihkan keamanan dan keselamatan dari serangan teroris Hamas," ujarnya.
Menurut Pentagon, Austin menegaskan kembali dukungan kuat AS terhadap hak Israel untuk mempertahankan diri. Austin menggarisbawahi bahwa langkah-langkah AS diambil untuk memperkuat postur militernya di kawasan guna meningkatkan upaya pencegahan regional.
Presiden AS Joe Biden mengatakan kepada Perdana Menteri Benjamin Netanyahu pada Ahad (9/10/2023), bahwa bantuan tambahan untuk Pasukan Pertahanan Israel sedang dalam perjalanan ke Israel. Ia juga menjanjikan lebih banyak lagi yang akan menyusul dalam beberapa hari mendatang, kata Gedung Putih setelah telepon mereka.
Keputusan AS untuk mengirim kapal induk dan pesawat ke wilayah Konflik dinilai tersebut dan bisa mendorong eskalasi yang lebih besar. “Saya tidak mengerti secara strategis militer mengapa AS mengirim kapal induk – dengan sekitar 5.000 pelaut di dalamnya – dan pesawat paling canggih di dunia ketika Israel lebih dari mampu menghadapi Hamas di Jalur Gaza,” kata analis politik senior Aljazirah, Marwan Bishara. “Gagasan mengenai pengembangan senjata di Timur Tengah pada saat ini, sangatlah berbahaya,” ia menambahkan.
Serangan oleh Hamas yang diluncurkan pada Sabtu dini hari itu merupakan serangan terbesar dan paling mematikan ke Israel sejak Mesir dan Suriah melancarkan serangan mendadak dalam upaya merebut kembali wilayah yang hilang dalam perang Yom Kippur 50 tahun yang lalu. Serangan yang menewaskan sekitar 700 warga Israel termasuk puluhan tentara Israel itu adalah pukulan telak terhadap intelijen dan militer Israel yang merupakan salah satu yang tercanggih di dunia.
Amerika Serikat menilai, serangan Hamas juga menyasar rencana normalisasi Israel dengan negara-negara Arab, utamanya Arab Saudi. "Tidak mengherankan jika salah satu motivasinya adalah untuk mengganggu upaya-upaya untuk menyatukan Arab Saudi dan Israel, bersama dengan negara-negara lain yang mungkin tertarik untuk menormalkan hubungan dengan Israel," ujar Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken kepada CNN pada Ahad.
AS, sebuah negara dengan jumlah komunitas Yahudi yang signifikan adalah pendukung Israel sejak negara itu berdiri pada 1948. Selain itu, Israel dipandang oleh AS sebagai sekutu penting di Timur Tengah, juga sebagai basis petualangan militer AS di kawasan tersebut.
Hak veto AS di Dewan Keamanan PBB adalah salah satu alasan kandasnya demikian banyak resolusi PBB yang ditujukan untuk menghukum penjajahan dan kesewenang-wenangan Israel. Lobi-lobi Yahudi di AS yang menggelontorkan dana untuk kedua partai utama di AS selalu berhasil mengamankan dukungan terlepas siapapun yang terpilih sebagai presiden.
BBC melansir, pada 2020, AS memberikan bantuan sebesar 3,8 miliar dolar AS kepada Israel. Dana itu diberikan sebagai bagian dari perjanjian yang ditandatangani oleh mantan presiden Barack Obama pada 2016 untuk paket bantuan militer keseluruhan sebesar 38 miliar dolar AS selama dekade 2017-2028.
Jumlah ini menunjukkan peningkatan sekitar 6 persen dibandingkan komitmen belanja pada dekade sebelumnya. Hampir seluruh bantuan ini untuk bantuan militer. Selama bertahun-tahun, bantuan AS telah menyokong Israel mengembangkan salah satu militer paling canggih di dunia, dengan dana yang memungkinkan mereka membeli peralatan militer canggih dari AS.
Misalnya, Israel telah membeli 50 pesawat tempur F-35 dengan biaya masing-masing sekitar 100 juta dolar AS. Pada 2020, Israel juga membeli delapan pesawat Boeing 'Pegasus' KC-46A dengan harga sekitar 2,4 miliar dolar AS. Sistem pertahanan udara Iron Dome milik Israel juga dikembangkan dengan dana dari AS.
Kendati demikian, belakangan suara-suara pembelaan terhadap Palestina mulai mengemuka di spektrum kiri perpolitikan di Amerika Serikat. Saat Israel membombardir Gaza pada 2021, aksi-aksi unjuk rasa besar-besaran mendukung Palestina dilakukan di berbagai kota di AS.
Kemarin, Puluhan pengunjuk rasa pro-Palestina berkumpul di Times Square di New York City dan dekat Gedung Putih di Washington. Mereka menyatakan penolakan terhadap dukungan AS untuk Israel. Beberapa pengunjuk rasa membawa spanduk bertuliskan “Hentikan bantuan AS” dan “perlawanan bukanlah terorisme.” Gubernur New York Kathy Hochul sebelumnya telah mengecam rencana demonstrasi semacam itu.
Alasan Hamas
Hamas sebelumnya mengatakan bahwa serangan pada Sabtu didorong oleh apa yang disebutnya sebagai peningkatan serangan Israel terhadap warga Palestina di Tepi Barat, Yerusalem, dan terhadap warga Palestina di penjara-penjara Israel. Pemimpin Hamas Ismail Haniyeh telah menyoroti ancaman terhadap Masjid Al-Aqsa di Yerusalem, kelanjutan blokade Israel di Gaza dan normalisasi Israel dengan negara-negara di wilayah tersebut.
Netanyahu bulan lalu mengatakan bahwa ia yakin negaranya berada di puncak perdamaian dengan Arab Saudi, dan memprediksi bahwa langkah tersebut dapat membentuk kembali Timur Tengah.
Arab Saudi, rumah dari dua tempat suci umat Islam, telah lama bersikeras bahwa Palestina harus memiliki hak untuk menjadi negara sebagai syarat untuk mengakui Israel - sesuatu yang telah lama ditentang oleh banyak anggota koalisi religius nasionalis Netanyahu.
Amerika Serikat pada hari Ahad, mengatakan bahwa upaya normalisasi Saudi-Israel harus terus berlanjut meskipun ada serangan. "Kami pikir akan menjadi kepentingan kedua negara untuk terus mengupayakan kemungkinan ini," kata Deputi Penasihat Keamanan Nasional AS Jon Finer kepada Fox News Sunday.(rep)
Iran Siap Lanjutkan Kesepakatan dengan AS, Asal Israel Hentikan Serangan di Lebanon
RADARPEKANBARU.COM - .
Industri Pelayaran Internasional Ragukan Keamanan Selat Hormuz Meski Dijamin Trump
RADARPEKANBARU.COM - .








