Kanal

Pelajaran dari Kekeringan Tujuh Tahun pada Masa Nabi Yusuf dalam Alquran

RADARPEKANBARU.COM - Jauh sebelum ilmu pengetahuan modern menjelaskan penyebab kekeringan, Alquran telah mengisahkan bencana kekeringan selama tujuh tahun berturut-turut pada masa Nabi Yusuf Alaihissalam. Peristiwa ini menjadi pelajaran penting tentang pentingnya perencanaan, pengelolaan pangan, ikhtiar menghadapi krisis, dan mencegah kerusakan lingkungan yang mempengaruhi iklim.

Salah satu peristiwa kekeringan yang diabadikan dalam Alquran adalah bencana paceklik yang terjadi pada masa Nabi Yusuf Alaihissalam di Mesir.

Sebelum bencana itu terjadi, Raja Mesir bermimpi melihat tujuh ekor sapi gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi kurus. Tidak seorang pun mampu menafsirkan mimpi tersebut selain Nabi Yusuf Alaihissalam.

Melalui takwil mimpinya, Nabi Yusuf menjelaskan bahwa Mesir akan mengalami tujuh tahun masa subur yang diikuti tujuh tahun kekeringan. Ia juga menawarkan strategi untuk menghadapi krisis tersebut, yakni menyimpan sebagian besar hasil panen selama masa subur sebagai cadangan pangan. Berkat kebijaksanaan itu, Nabi Yusuf kemudian dipercaya memegang jabatan penting sebagai bendahara atau perdana menteri Mesir.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

"Wahai Yusuf, orang yang sangat dipercaya, jelaskanlah kepada kami (takwil mimpiku) tentang tujuh ekor sapi gemuk yang dimakan oleh tujuh (ekor sapi) kurus dan tujuh tangkai (gandum) hijau yang (meliputi tujuh tangkai) lainnya yang kering agar aku kembali kepada orang-orang itu supaya mereka mengetahuinya.”

(Nabi Yusuf) berkata, "Bercocok tanamlah kamu tujuh tahun berturut-turut. Kemudian apa yang kamu tuai, biarkanlah di tangkainya, kecuali sedikit untuk kamu makan."

(Nabi Yusuf) berkata, "Kemudian, sesudah itu akan datang tujuh (tahun) yang sangat sulit (paceklik) yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya, kecuali sedikit dari (bibit gandum) yang kamu simpan. Setelah itu akan datang tahun, ketika manusia diberi hujan (dengan cukup) dan pada masa itu mereka memeras (anggur).” (QS Yusuf Ayat 46- 49)

Kekeringan yang terjadi pada era Nabi Yusuf bukanlah kejadian yang lazim terjadi, karena terjadi selama tujuh tahun berturut-turut. Bahkan kekeringan tersebut tidak saja melanda Mesir, tetapi sampai juga di Palestina, tempat ayah Nabi Yusuf yakni Nabi Yakub menetap sebelum akhirnya bermigrasi ke Mesir.

Sumber air Mesir berasal dari Sungai Nil yang mata airnya sangat jauh di selatan. Maka, berkurangnya air Sungai Nil tentu saja mengakibatkan kekeringan yang meliputi wilayah yang sangat luas, paling tidak hingga tempat mata air Sungai Nil berasal.

Di zaman sekarang, siklus kekeringan yang dipengaruhi oleh mekanisme iklim global, yaitu ENSO (El Nino South Oscillation) di Samudra Pasifik dan IOD di Samudera Hindia, memang terjadi dalam periode perulangan rata-rata selama 7 tahun. Pada periode perulangan tersebut lazimnya hanya terjadi satu kali tahun kering yang berat, dan umumnya disusul oleh satu tahun basah (La Nina), bukan 7 tahun kering secara terus-menerus.

Di dalam perspektif sains, kekeringan adalah suatu perioda panjang ketika suatu daerah kekurangan pasokan air. Umumnya kekeringan terjadi ketika suatu daerah tidak menerima curah hujan atau curah hujan kurang dari biasanya secara terus-menerus, dikutip dari buku Air Dalam Perspektif Alquran dan Sains yang disusun Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), 2011.

Kekeringan bisa berdampak terhadap lingkungan dan pertanian di daerah yang dipengaruhinya. Kekeringan yang berkepanjangan dapat merusak dan membahayakan ekonomi suatu daerah, walaupun hanya terjadi dalam setahun. Lebih bahaya lagi jika kekeringan terjadi dalam beberapa tahun terus-menerus.

Periode kekeringan yang panjang sejak zaman dahulu telah menyebabkan terjadinya migrasi penduduk, dan memegang peranan kunci pada peristiwa-peristiwa perpindahan manusia dan krisis-krisis kemanusiaan pada sejarah peradaban manusia. Seperti yang pernah terjadi di bagian tanduk Afrika Utara dan daerah Sahel.

Perspektif Sains

Pada umumnya, curah hujan di suatu tempat dipengaruhi oleh dua hal. Yakni jumlah uap air di udara dan daya dorong yang menyebabkan gerak naik kelembaban tersebut. Jika salah satu dari keduanya berkurang, terjadilah kekeringan.

Keadaan ini umumnya dipicu oleh berkurangnya perbedaan tekanan udara dan peredaran angin di darat. Sedangkan berkurangnya penguapan air di laut lebih jarang terjadi. Siklus interaksi kondisi atmosferik dan oseanik, seperti halnya El Nino (ENSO) menyebabkan kekeringan terjadi secara periodik, utamanya di daerah-daerah sekitar samudra pasifik.

Aktivitas manusia dapat secara langsung memicu kekeringan, seperti irigasi besar-besaran dan intensifikasi pertanian dalam skala luas, pembalakan hutan, dan erosi yang pada akhirnya menyebabkan penurunan kemampuan lahan untuk menangkap dan menahan air.

Sementara kegiatan-kegiatan tersebut cenderung berpengaruh secara lokal, tapi ada juga aktivitas-aktivitas lainnya yang dapat membawa pengaruh secara global, yang memicu perubahan iklim yang berdampak serius terhadap pertanian, terutama bagi masyarakat negara berkembang.

Secara umum, pemanasan global akan meningkatkan jumlah curah hujan, di mana peristiwa erosi dan banjir akan meningkat. Di saat yang sama, terdapat daerah- daerah yang akan menjadi lebih kering. Ketika kekeringan terjadi kondisi lingkungan di sekitarnya akan memburuk dan dampaknya terhadap penduduk setempat secara berangsur-angsur akan meningkat.

Kekeringan yang parah dapat memicu terjadinya kebakaran hutan dan lahan, seperti yang pernah sering terjadi di Indonesia.(rep)

 


 


 

Ikuti Terus Riaupower

BERITA TERKAIT

BERITA TERPOPULER