Kanal

Rasulullah Tegaskan Safar Bukan Bulan Sial, Ini Penjelasan Hadits dan Pandangan Ulama

RADARPEKANBARU.COM - Anggapan bahwa bulan Safar merupakan bulan yang membawa kesialan, bencana, dan berbagai musibah masih hidup di tengah sebagian masyarakat. Karena keyakinan tersebut, tidak sedikit orang yang menghindari pernikahan, bepergian jauh, hingga memulai usaha pada bulan kedua dalam kalender Hijriyah itu.

Padahal, keyakinan tersebut tidak memiliki dasar dalam ajaran Islam. Rasulullah SAW justru secara tegas membantah anggapan bahwa Safar adalah bulan sial melalui sebuah hadits shahih.

Dalam hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Imam Muslim, Rasulullah SAW bersabda:

Artinya: “Tidak ada wabah (yang menyebar dengan sendirinya tanpa kehendak Allah), tidak pula tanda kesialan, tidak (pula) burung (tanda kesialan), dan juga tidak ada (kesialan) pada bulan Safar. Menghindarlah dari penyakit judzam sebagaimana engkau menghindar dari singa.”

Hadits tersebut menjadi penegasan Nabi Muhammad SAW untuk meluruskan keyakinan masyarakat Arab pada masa jahiliyah yang menganggap bulan Safar sebagai waktu yang membawa kesialan dan tidak layak digunakan untuk melakukan berbagai aktivitas penting.

Dalam sejarah Islam sendiri tidak ditemukan adanya larangan khusus melakukan aktivitas tertentu pada bulan Safar. Sebaliknya, sejumlah peristiwa penting justru berlangsung pada bulan ini.

Di antaranya, Nabi Muhammad SAW menikah dengan Sayyidah Khadijah pada bulan Safar. Rasulullah SAW juga menikahkan putrinya, Sayyidah Fatimah, dengan Ali bin Abi Thalib pada bulan yang sama.

Selain itu, dalam beberapa riwayat disebutkan Rasulullah SAW melakukan sejumlah perjalanan penting pada bulan Safar. Sejumlah peperangan dan peristiwa besar dalam sejarah Islam juga terjadi pada bulan ini tanpa disertai larangan ataupun anjuran untuk menghindarinya.

Dalam tafsirnya terhadap Surat at-Taubah ayat 36, Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa nama Safar berasal dari kata yang berarti "kosong". Penamaan tersebut berkaitan dengan kebiasaan masyarakat Arab pada masa lalu yang berbondong-bondong meninggalkan kampung halaman sehingga daerah menjadi kosong, baik untuk berperang maupun melakukan perjalanan.

Karena itu, penamaan Safar sama sekali tidak berkaitan dengan kesialan ataupun datangnya bencana.

Para ulama juga mengingatkan bahwa mempercayai bulan Safar sebagai bulan sial termasuk bentuk keyakinan yang bertentangan dengan tauhid. Sebab, seseorang telah menyandarkan untung dan rugi kepada waktu, bukan kepada kehendak Allah SWT. Keyakinan seperti ini bahkan dikategorikan sebagai syirik kecil.

Alih-alih menghindari berbagai kegiatan, umat Islam justru dianjurkan memperbanyak amal shalih pada bulan Safar sebagaimana pada bulan-bulan Hijriyah lainnya. Tidak ada larangan untuk menikah, memulai usaha, bekerja, ataupun bepergian selama tetap berada dalam koridor syariat.

Bulan Safar merupakan salah satu kesempatan yang Allah SWT berikan kepada hamba-Nya untuk meningkatkan ibadah dan amal kebajikan. Karena itu, mitos mengenai kesialan bulan Safar tidak sepatutnya dipercaya, sebab hanya akan menimbulkan ketakutan yang tidak berdasar dan bertentangan dengan ajaran Islam.(rep)


 

Ikuti Terus Riaupower

BERITA TERKAIT

BERITA TERPOPULER