RADARPEKANBARU.COM - Harta merupakan nikmat sekaligus amanah dari Allah SWT. Namun, kekayaan juga dapat menjadi pintu masuk bagi iblis untuk menyesatkan manusia apabila tidak dikelola sesuai tuntunan syariat. Para ulama menjelaskan sedikitnya ada empat cara yang kerap digunakan iblis untuk memperdaya orang-orang yang memiliki harta.
Jamaluddin Abul Faraj Abdurrahman bin Ali bin Muhammad bin Ali, Al Qurasyi, Al Baghdadi yang dikenal sebagai Ibnul Jauzi dalam karyanya kitab Talbis Iblis menjelaskan bahwa iblis memperdayai orang-orang yang mempunyai harta dari empat sisi.
Pertama, dari sisi mencari harta. Mereka tidak peduli dengan cara bagaimana mereka mendapatkan harta. Mereka banyak menggunakan cara ribawi dalam muamalah mereka. Dengan senang hati mereka melakukannya. Sehingga hampir semua muamalah mereka itu keluar dari aturan syariat yang telah disepakati.
Kedua, dari sisi kebakhilan. Di antara mereka ada yang sama sekali tidak mau mengeluarkan zakat karena bersandar kepada anggapan bahwa mereka tidak terbebani kewajiban mengeluarkan zakat. Di antara mereka ada pula yang mau mengeluarkan sebagiannya, namun tetap saja mereka dikuasai sifat bakhil.
Di antara mereka ada juga orang yang melakukan tipu daya (mencari akal) agar tidak terkena kewajiban mengeluarkan zakat, seperti menghibahkan harta itu sebelum genap satu tahun. Setelah genap satu tahun, dia memintanya kembali.
Di antara mereka ada yang memberikan pakaian yang seharga sepuluh dinar kepada orang fakir, tetapi orang fakir itu tetap harus membayar, sekalipun hanya dua dinar. Di antara mereka ada yang membayar dengan barang yang buruk. Di antara mereka ada yang membayarkan zakat kepada buruhnya sendiri, padahal sebenarnya itu adalah gaji buruh tersebut.
Di antara mereka ada yang mau membayar zakat sesuai dengan ketentuan, tetapi iblis membisikinya, "Hartamu bisa habis nanti." Karena itu, dia tidak mau mengeluarkan sedekah karena didorong kecintaan kepada harta dan kekhawatiran jika harta itu habis.
Ketiga, dari sisi penumpukan harta. Orang yang kaya melihat dirinya lebih baik daripada orang miskin. Ini adalah kebodohan, karena keutamaan itu tergantung kepada keutamaan jiwa, bukan karena menumpuk harta, sebagaimana yang dikatakan seorang penyair, "Orang berakal yang memiliki kekayaan jiwa lebih baik daripada orang yang memiliki kekayaan harta benda. Keutamaan jiwa di antara manusia, bukan karena keutamaan keadaannya."
Kempat, dari sisi pembelanjaannya. Di antara mereka ada yang membelanjakan harta secara boros dan berlebih-lebihan. Terkadang dibelanjakan untuk hal-hal yang sebenarnya tidak diperlukan, untuk menghiasi tembok, mempercantik rumah, dan membeli berbagai macam gambar. Terkadang harta dibelanjakan untuk pakaian yang membuatnya takabur. Terkadang untuk membeli makanan secara foya-foya.
Semua perbuatan tersebut akan membuat pelakunya tidak bisa selamat dari perbuatan yang haram atau makruh. Padahal, dia harus bertanggung jawab terhadap semuanya.
Diriwayatkan dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu dia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Wahai anak Adam, kedua kakimu tidak akan berpindah (bergeser) pada Hari Kiamat di hadapan Allah SWT sehingga engkau ditanya tentang empat perkara; tentang umurmu, untuk apa engkau menghabiskanya? Tentang jasadmu, untuk apa engkau melusuhkannyan? Tentang hartamu, dari mana engkau mencarinya dan ke mana engkau membelanjakannya? Tentang ilmumu, apa yang engkau amalkan?" (HR Imam Muslim)
Di antara orang kaya ada yang membelanjakan harta untuk membangun masjid dan jembatan. Akan tetapi dia melakukannya karena riya dan mencari ketenaran, agar dirinya tetap dikenang dan namanya ditulis pada bangunan itu. Kalaupun perbuatannya ifu karena Allah, cukuplah Allah yang mengetahuinya.(rep)