RADARPEKANBARU.COM - Manusia terus mencari kebahagiaan. Namun, banyak di antara mereka yang tersesat dari jalan menuju kebahagiaan yang sejati. Mereka berlari mengejar fatamorgana yang tidak memiliki hakikat.
Mereka mengira bahwa kebahagiaan terletak pada harta dan kedudukan, pada pemuasan hawa nafsu dan kemewahan, atau pada popularitas serta kenikmatan dunia yang fana. Padahal semua itu hanyalah kebahagiaan semu yang menipu hati dan melalaikan akal
Banyak orang yang memiliki harta melimpah dan kekayaan berlimpah, tetapi tidak menunaikan hak-hak yang ada pada hartanya.
Mereka justru menjalani kehidupan yang penuh kesengsaraan dan kegelisahan, bahkan sebelum datangnya kehidupan akhirat.
Mengapa demikian? Karena seluruh hidup mereka dihabiskan untuk menjaga, mengembangkan, dan mempertahankan kekayaannya. Mereka terus dihantui rasa cemas dan takut kehilangan harta yang dimiliki.
Betapa banyak orang yang memiliki kekayaan hingga miliaran, tetapi hidupnya dipenuhi kecemasan. Mengapa mereka begitu takut?
Mengapa hati mereka tidak pernah tenang? Karena mereka selalu khawatir hartanya lenyap, dirampas oleh musibah, krisis ekonomi, peperangan, atau berbagai peristiwa yang dapat menghilangkan seluruh kekayaannya.
Berapa banyak orang kaya yang menjadi korban penculikan atau pembunuhan karena kekayaannya. Bahkan, tidak sedikit orang yang justru kehilangan kebebasan akibat hartanya. Mereka tidak dapat berjalan dengan leluasa, tidak bisa bepergian sesuka hati, bahkan tidak dapat tidur dengan tenang.
Semua itu terjadi karena kekayaan yang mereka miliki. Lebih dari itu, tidak sedikit orang yang suatu ketika memiliki harta berlimpah, namun kemudian seluruh kekayaannya lenyap karena berbagai sebab, sehingga sisa hidupnya dijalani dalam penderitaan dan kesedihan.
Karena itu, harta semata tidak cukup untuk menghadirkan kebahagiaan. Kekayaan saja tidak mampu memberikan ketenangan hidup.
Salah satu ilusi terbesar tentang kebahagiaan adalah anggapan bahwa kebahagiaan pasti diperoleh melalui kekayaan dan kesuksesan dalam berdagang.
Padahal, seseorang baru benar-benar dapat merasakan kebahagiaan melalui hartanya apabila harta itu diperoleh dengan cara yang halal dan tidak membuatnya lalai dari mengingat Allah SWT.
Sebaik-baik harta adalah harta yang berada di tangan hamba yang saleh. Sebaliknya, apabila harta diperoleh dari jalan yang haram, maka ia justru menjadi sumber azab. Rasulullah SAW bahkan berdoa
"Aku berlindung kepada-Mu dari harta yang menjadi sebab azab bagiku."
Betapa banyak orang yang justru disiksa oleh hartanya sendiri.
Di antara ilusi lainnya adalah anggapan bahwa kebahagiaan dapat diraih melalui ketenaran, baik di dunia olahraga, seni, maupun hiburan.
Padahal ketenaran yang tidak dibangun di atas ketakwaan kepada Allah bukanlah kebahagiaan, melainkan sumber kesengsaraan.
Popularitas sejatinya tidak memiliki nilai yang hakiki apabila tidak diiringi ketakwaan. Bahkan orang yang benar-benar bertakwa tidak menjadikan popularitas sebagai tujuan hidupnya.
Sebab, ketenaran yang tidak dibangun di atas landasan yang benar akan cepat sirna. Ketika ketenaran itu hilang, pemiliknya sering kali terjerumus dalam kesedihan dan penderitaan.
Banyak orang mengira bahwa para atlet adalah orang-orang yang paling bahagia. Padahal kenyataannya, sebagian besar dari mereka menjalani hidup yang penuh tekanan.
Mereka berpindah dari satu pertandingan ke pertandingan lain, dari satu perjalanan ke perjalanan berikutnya. Waktu bersama diri sendiri dan keluarga sangat sedikit.
Belum lagi tekanan mental menjelang setiap pertandingan, kesedihan setiap kali mengalami kekalahan, serta cedera yang selalu mengintai dari berbagai arah. Ditambah lagi rasa takut terhadap penilaian publik ketika performa mereka menurun.
Semua itu membuat mereka hidup dalam tekanan yang berkepanjangan. Setelah pensiun, masyarakat perlahan melupakan mereka, sehingga rasa kehilangan dan kesedihan pun semakin bertambah.
Karena itu, kebahagiaan tidak terletak pada dunia olahraga, meskipun banyak orang mengiranya demikian. Demikian pula kebahagiaan tidak terdapat pada dunia tarik suara, hiburan, maupun seni peran.
Tidak sedikit pelaku dunia hiburan yang justru menjalani kehidupan yang penuh kegagalan, keretakan rumah tangga, terjerumus ke dalam narkoba, kerusakan moral, hilangnya rasa malu, dan pudarnya nilai-nilai kebajikan.
Sebagian orang juga mengira bahwa kebahagiaan terletak pada banyaknya anak dan pengikut yang akan membela, menguatkan, serta meneruskan nama baik seseorang.
Namun kenyataannya, tidak sedikit anak yang justru membangkang kepada orang tuanya, bahkan berubah menjadi musuh terbesar bagi mereka dan menjadi penyebab penderitaan hidupnya.(rep)