RADARPEKANBARU.COM - Dasar beragama adalah iman. Ketika seseorang meyakini Allah adalah Tuhannya, malaikat itu ada, kitab Allah adalah benar, nabi dan rasul itu membawa risalah tauhid, hari kiamat adalah nyata, dan takdir baik dan buruk adalah keniscayaan, maka bibit iman sudah tertanam di dalam hatinya.
Allah berfirman dalam Alquran surah al-Mujadilah ayat ke-22. Artinya, "Mereka itulah orang-orang yang dalam hatinya telah ditanamkan Allah keimanan dan Allah telah menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang dari Dia."
Ulama ahlus sunnah wal jamaah (aswaja) menjelaskan, orang beriman adalah mereka yang membenarkan rukun iman dalam hatinya. Lisan mereka menuturkan keyakinan tersebut, yaitu mereka berhujjah untuk menyebarluaskan, menguatkan, dan membela iman, saat 'diserang' golongan anti-iman. Kemudian orang beriman itu, seluruh organ tubuhnya mengamalkan keyakinan tersebut (al-'amal bil jawarih).
Hati tersentuh dan menggerakkan anggota badan untuk menjauhi perbuatan-perbuatan yang diharamkan Allah. Orang yang beriman tidak mempermasalahkan, mengkritik, apalagi sampai menghujat larangan tersebut.
Orang beriman yakin bahwa yang gaib, sebagaimana dijelaskan dalam enam rukun iman, adalah benar ada, mendirikan shalat, dan menginfakkan harta (QS al-Baqarah: 3). Ini berarti pandangan orang beriman itu tidak mudah dibohongi oleh apa yang sekadar kasat mata, karena ada inspirasi batin yang menguatkan gerak langkahnya.
Ada banyak ayat Alquran yang menyebut kata iman. Jumlah kata tersebut diulang hingga 877 kali, dari total ada 77.449 kata dalam Alquran.
Sejumlah hadis juga menjelaskan tentang orang beriman. Ada hadis yang menjelaskan, "Barang siapa mengimani Allah dan hari akhir maka harus memuliakan tamu" (HR Bukhari).
Di antara cara memuliakan tamu adalah menyambut mereka dengan busana yang rapi. Kemudian menyuguhkan minuman, meski sekadar air putih, dan makanan, meski hanya sepotong roti.
Ada juga hadis yang menjelaskan, "Tidaklah seseorang beriman hingga dia mencintai orang lain seperti mencintai dirinya sendiri." (HR Bukhari dan Muslim).
Dalam hal ini Rasulullah SAW menekankan umatnya untuk tidak egois, bahwa orang beriman harus mencintai orang lain seperti dia mencintai diri sendiri. Jika membagi beras, maka bagilah beras yang dimakan sehari-hari, bukan yang kualitasnya lebih rendah.
Kalau memberikan pakaian, maka sedekahkanlah pakaian yang kualitasnya sama dengan yang dipakai sehari-hari, bukan yang lebih buruk, apalagi yang sudah rusak.
Ada banyak lagi hadis yang menjelaskan tentang iman. Ini belum termasuk perkataan sahabat dan ibrah orang-orang saleh tentang iman yang berlimpah. Ini menandakan iman adalah permasalahan serius dan harus menjadi perhatian. Kalau beriman harus sungguh-sungguh.
Hati-hati dalam beriman. Jangan bermain-main dengan iman. Jaga iman. Jangan sampai iman rusak. Begitulah pesan yang tersirat di balik penyebutan dan penjelasan tentang iman.
Iman itu, kalau sudah tertanam di hati, dan diamalkan atau ditirakatkan dengan ibadah, termasuk zikir, akan mengakar kuat di hati. Iman semacam itu akan menghapus prasangka buruk terhadap Allah, meski hidup sedang dilanda musibah dan keterpurukan.
Hidup dalam keadaan serba terbatas pun, kalau di hati sudah ada iman, maka akan dijalani dengan syukur, bukan merasa kurang, akan dijalani dengan memuji Allah, bukan dengan menyalahkan orang lain, akan dijalani dengan optimisme, yakin sepenuhnya kepada Allah, tanpa sedikit pun meragukan-Nya.
Meski dibakar, para korban ashabul ukhdud tetap dalam tauhid (QS al-Buruj: 4-8). Meski disiksa habis-habisan oleh Abu Jahal, Sumayyah binti Khayyat tak berpaling dari Allah, dia keukeuh menjadi Mukmin.
man tak tergantikan, meski dengan seberat-beratnya emas dan segala perhiasan mewah. Bahkan seandainya seluruh alam semesta ini adalah permata, tetap tak bisa menggantikan kenikmatan iman di dalam hati.
Imam Hasan al-Bashri menjelaskan, dua hadiah dari Allah untuk orang beriman. Pertama, hal yang sudah diketahui banyak orang, yaitu surga, tempat penuh kenikmatan, yang di dalamnya mengalir sungai indah.
Hadiah yang kedua, hal yang sederhana tapi maknanya mendalam, adalah ketenangan hidup. Orang beriman akan santai menjalani hidup. Meski ada orang yang berlomba-lomba melakukan suap (risywah), mencuri uang rakyat demi kepuasan lahiriah, memakan saudara sendiri, menzalimi orang lain demi harta dunia, dan mencaci maki agama dengan sekularisme dan liberalisme, orang beriman tak akan goyah.
Hidupnya tenang dalam ketaatan kepada Allah dan Rasulullah. Bahkan ketenangannya memancarkan cahaya yang juga menenangkan orang-orang sekitarnya, sehingga banyak orang terlindungi dari keburukan.
Di tengah kehidupan yang serba materialistis ini, mari bersama-sama meningkatkan ibadah. Tambah lagi kekhusyuan shalat, tambah lagi keikhlasan bersedekah, seringkan lagi puasa, giatkan lagi berzikir sepenuh hati.
Luangkan waktu, khususnya sepertiga malam untuk beribadah shalat dan zikir. Ini akan membuat diri kita semakin mengingat Allah. Dengan mengingat Allah, maka Allah akan mengingat kita, sehingga diri ini selalu dalam perlindungan-Nya dari segala macam keburukan hidup.(rep)