RADARPEKANBARU.COM - Bocah itu asyik menatap layar. Tangannya bergerak lincah. Di depannya, sebuah robot kecil bergerak mengikuti perintah yang ia rancang sendiri.
Ia santri. Ia tinggal di pesantren. Tapi matanya berbinar menatap masa depan.
Di Pondok Pesantren Baitul Arqom Al-Islami, Kabupaten Bandung, sesuatu yang dulu tampak mustahil kini menjadi keseharian. Para santri, yang lazim kita bayangkan sedang menunduk di atas kitab kuning, kini juga menunduk di atas papan sirkuit dan layar kode. Mereka merancang robot. Mereka mempelajari akal imitasi.
Ada robot yang mengalirkan air wudhu secara otomatis. Ada yang melangkah dengan dua kaki. Ada yang siap bertarung di arena sumo, atau mengejar bola dalam kompetisi.
ebuah perpaduan yang, pada mulanya, mungkin terasa janggal. Tapi sejatinya, tidak ada yang janggal di sini.
Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka hadir meninjau. Ia melihat langsung. Dan ia berkata dengan sederhana: santri yang akhlaknya baik, ngajinya baik, akan lebih baik lagi bila menguasai teknologi.
Kalimat itu ringkas. Tapi jejaknya dalam.
Sebab yang dimaksud bukan sekadar keterampilan teknis. Bukan tentang mencetak programmer dari balik bilik pesantren. Melainkan tentang sesuatu yang lebih mendasar: melatih cara berpikir. Merawat kejernihan nalar di tengah dunia yang makin riuh dan kompleks.
Coding, kata Gibran, melatih anak muda berpikir kritis dan komputasional. Dan itu bukan milik kampus teknik semata. Itu milik siapa saja yang mau berpikir dengan sungguh-sungguh.
Ustadz Najib Muhammad Yusuf, pengasuh pesantren, menyuarakannya dengan cara yang lebih kontemplatif. Teknologi, katanya, bisa diintegrasikan dengan nilai-nilai keislaman tanpa menghilangkan ruh pendidikan pesantren.
Kuncinya: jadikan teknologi sebagai alat. Bukan tuan. Bukan tujuan.
Alat untuk memperkuat ilmu. Untuk memperdalam akhlak. Untuk memperluas jangkauan dakwah.
Para santriwati pun sudah membuktikannya, membuat video muhadatsah bahasa Arab dalam animasi tiga dimensi. Ilmu agama bertemu kreativitas digital. Hasilnya bukan perusakan nilai, melainkan perluasan cara nilai itu disampaikan ke dunia.
Di sudut lain Jakarta, pada hari yang hampir bersamaan, sebuah pertemuan berbeda berlangsung dengan kekhidmatan tersendiri.
Badan Narkotika Nasional duduk semeja dengan Dewan Pimpinan Pusat Santri Pasundan. Tidak ada seremoni berlebihan. Hanya keprihatinan yang dibagi bersama, dan tekad yang dipertemukan.
Kepala BNN, Komjen Pol. Suyudi Ario Seto, menyampaikan sesuatu yang menyentuh nurani: generasi muda adalah kelompok paling rentan menjadi sasaran jaringan pengedar narkotika. Ancaman itu nyata. Ia merangsek masuk ke pedesaan, ke lingkungan pendidikan, ke tempat-tempat yang selama ini kita kira aman.
Maka pesantren, dengan tradisi pembinaan moral yang mengakar, dipandang sebagai benteng. Bukan sekadar lembaga pendidikan, melainkan komunitas yang memiliki daya tangkal spiritual dan sosial yang kuat.
Dua peristiwa. Dua lokasi berbeda. Satu benang merah.
Generasi muda sedang dipertaruhkan. Dan pesantren, dengan segala kesederhanaannya, diminta berdiri di garis terdepan. Bukan hanya untuk mendidik. Tapi untuk melindungi. Bukan hanya untuk mewariskan hikmah masa lalu, tapi untuk membekali generasi menghadapi masa depan yang belum pernah ada sebelumnya.
Sang ustadz bilang: teknologi adalah alat untuk dakwah.
Sang jenderal bilang: moral adalah tameng dari kehancuran.
Sang wakil presiden bilang: santri tidak boleh ketinggalan zaman.
Ketiganya, tanpa saling bertatap muka, sedang berbicara tentang hal yang sama, tentang manusia muda yang harus tumbuh utuh. Cerdas sekaligus berakhlak. Melek teknologi sekaligus kuat nurani.
Robot kecil itu masih bergerak di lantai pesantren.
Di sekelilingnya, anak-anak muda bersarung dan berkopiah menatapnya dengan serius.
Mereka tidak sedang meninggalkan pesantren. Mereka sedang membawa pesantren, ke masa depan.
Pertanyaannya bukan lagi: bolehkah santri menguasai teknologi? Pertanyaannya kini: sudahkah kita memberi mereka cukup ruang untuk melakukannya?(rep)