Kanal

Cara Nabi Ibrahim Meraih Derajat Sebagai Kekasih Allah SWT

RADARPEKANBARU.COM - Syekh Muhammad Nawawi bin Umar al-Banteni dalam kitab Nashaihul Ibad mengungkapkan riwayat yang sarat hikmah tentang bagaimana Nabi Ibrahim Alaihissalam meraih derajat sebagai kekasih Allah SWT. Riwayat tersebut sekaligus menjelaskan amalan-amalan utama yang mengundang cinta dan pertolongan Allah SWT, baik di dunia maupun pada hari kiamat.

Syekh Nawawi al-Banteni meriwayatkan bahwa Nabi Ibrahim Alaihissalam pernah ditanya seperti ini

Seseorang bertanya kepada Nabi Ibrahim, "Apakah yang menyebabkan kamu dijadikan kekasih Allah?"

Nabi Ibrahim menjawab, "Yang menyebabkan demikian ada tiga perkara, yaitu saya lebih mengutamakan kepentingan Allah daripada yang lainnya. Saya tidak pernah khawatir terhadap yang telah ditentukan Allah. Saya tidak pernah makan malam atau siang kecuali bersama tamu."

Diterangkan juga bahwa Nabi Ibrahim Alaihissalam sering mengadakan perjalanan sejauh 1,5 kilometer sampai 3 kilometer. Tujuannya hanya untuk mencari orang yang bisa diajak makan bersama di rumahnya.

Dalam kitab Nashaihul Ibad karya Syekh Nawawi al-Banteni juga dijelaskan orang-orang yang mendapat pertolongan Allah SWT pada hari kiamat.

Nabi Muhammad SAW bersabda, "Tiga golongan berada dalam naungan Allah di bawah Arsy-Nya pada hari tidak ada lagi naungan, kecuali naungan-Nya, yaitu orang yang tetap berwudhu meskipun dalam keadaan dingin, orang yang tetap pergi ke masjid meskipun dalam keadaan gelap, dan orang yang memberi makan kepada orang yang lapar."

Untuk diketahui, yang dimaksud dengan hari tidak ada lagi naungan kecuali naungan Allah SAW adalah hari kiamat. 

Dua Jenis Cinta kepada Allah

Syekh Nawawi al-Banteni dalam Nashaihul Ibad menukil penjelasan para ulama besar tentang hakikat mahabbah atau cinta kepada Allah SWT. Riwayat dari Sufyan bin ‘Uyainah dan Ibnu Hajar al-Asqalani menggambarkan bahwa cinta sejati kepada Allah tercermin dari kecintaan kepada kekasih-Nya, mengikuti amal perbuatannya, dan menjaga ketulusan dalam beribadah. 

Para ulama juga membagi mahabbah kepada Allah dalam dua tingkatan: mahabbah fardhu dan mahabbah sunnah, yang menjadi tolok ukur kedekatan seorang hamba dengan Tuhannya.

Sufyan bin 'Uyainah seorang ahli hadis di Tanah Haram atau Tanah Suci Makkah mengatakan, "Siapapun yang cinta kepada Allah, maka ia akan cinta kepada orang yang dicintai Allah. Siapapun yang cinta kepada orang yang dicintai Allah, maka ia akan cinta kepada perbuatan yang dilakukan karena cinta kepada Allah. Siapapun yang cinta kepada perbuatan yang dilakukan karena cinta kepada Allah, maka ia akan cinta melakukan perbuatan itu tanpa diketahui manusia."

Ibnu Hajar al-Asqalani seorang ahli hadits dari mazhab Syafi'i yang terkemuka menjelaskan bahwa mahabbah atau cinta kepada Allah itu dapat dibedakan menjadi dua macam.

Pertama, mahabbah fardhu yaitu mahabbah (cinta) yang mendorong untuk melakukan perintah-perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.

Kedua, mahabbah sunnah yaitu mahabbah (cinta) yang mendorong untuk membiasakan ibadah-ibadah sunnah dan menjauhi perkara-perkara yang syubhat.

Abu Bakar As-Siddiq pernah berkata "Barangsiapa yang telah merasakan mahabbah Allah atau cinta kepada Allah secara murni, maka apa yang dirasakan itu akan dapat melupakannya dari keinginan dunia dan membuatnya merasa asing dari perkumpulan manusia."

Nabi Muhammad SAW bersabda, "Kebenaran atau bukti cinta itu tergantung pada tiga perkara. Yaitu lebih memilih ucapan kekasih daripada ucapan orang lain, lebih memilih duduk bersanding kekasih daripada bersama orang lain, dan lebih memilih kerelaan kekasih daripada kerelaan orang lain."

Yahya bin Mu'adz ar-Razi pernah berkata, "Sekecil apapun cintaku kepada Allah itu lebih aku sukai daripada beribadah selama 70 tahun." (rep)

 

Ikuti Terus Riaupower

BERITA TERKAIT

BERITA TERPOPULER