PEKANBARU – Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Riau, Raja Isyam Azwar, mengingatkan pentingnya peran jurnalis di tengah derasnya arus digitalisasi. Hal itu ia sampaikan saat menjadi pemateri Kuliah Umum di Universitas Hang Tuah Pekanbaru, Senin (8/9).
Raja Isyam menegaskan, jurnalis bukan hanya sekadar penyampai informasi, tetapi juga harus bisa mendengarkan aspirasi masyarakat untuk disuarakan ke pemerintah. “Jurnalistik itu pekerjaan yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan. Jurnalis harus adaptif, mampu memverifikasi fakta di tengah banjir hoaks, dan tetap berpegang pada kode etik,” ujarnya.
Menurutnya, jurnalis kini dituntut lebih dari sekadar cepat menyajikan berita. Akurasi, objektivitas, dan integritas menjadi kunci agar media tidak kehilangan kepercayaan publik. “Jurnalis juga pilar demokrasi, yang harus mengawasi jalannya pemerintahan dan kebijakan sesuai amanat Undang-Undang Pers,” katanya.
Meski begitu, ia tidak menutup mata terhadap tantangan yang dihadapi dunia pers saat ini. Mulai dari maraknya hoaks, tekanan industri media, hingga persaingan konten di era konvergensi. “Sepanjang 2024, Kominfo mencatat ada 1.923 hoaks dengan tema politik dan keamanan. Ini pekerjaan rumah besar bagi jurnalis untuk meluruskan informasi,” tegasnya.
Selain itu, ia mengingatkan bahaya tekanan komersial yang bisa menurunkan kualitas pemberitaan. “Kejar klik dan iklan memang nyata, tapi jangan sampai mengorbankan kedalaman dan kredibilitas berita,” pungkasnya. (rls)