Oleh: Ihsan Maulana Mukti Pamungkas, Mahasiswa Universitas Airlangga Surabaya
Sungai adalah nadi kehidupan. Dari sanalah air mengalir untuk kebutuhan sehari-hari, sumber ekonomi, hingga penyangga ekosistem. Namun, realitas hari ini sungai di banyak daerah justru berubah fungsi: dari sumber kehidupan menjadi sumber penyakit. Sungai Mulyorejo adalah contohnya. Pencemaran parah membuat sungai berbau, kotor, dan mengancam kesehatan masyarakat.
Masalah klasiknya sama: sampah rumah tangga, limbah industri, dan kebiasaan membuang sisa makanan atau plastik langsung ke aliran sungai. Akibatnya, air tidak lagi layak digunakan, lalat dan serangga mudah berkembang biak, bahkan pedagang kecil yang berjualan di tepi sungai pun kehilangan kepercayaan pembeli karena dagangannya dikerubungi lalat.
Lalu, siapa yang bisa jadi motor perubahan? Mahasiswa.
Sebagai agen perubahan, mahasiswa tidak cukup hanya berteriak di ruang kelas atau menulis di media sosial. Mereka harus turun langsung ke masyarakat. Kampanye sederhana dari rumah ke rumah, dialog di balai warga, hingga lomba mewarnai di sekolah tentang tema lingkungan bisa jadi awal menanamkan kesadaran. Edukasi tidak harus muluk-muluk, cukup dengan pesan sederhana: “Satu plastik di selokan bisa membuat banjir di rumah kita sendiri.”
Namun, edukasi saja tidak cukup. Dibutuhkan aksi nyata. Sungai Mulyorejo butuh revitalisasi, pembersihan rutin, dan sistem pengolahan limbah yang lebih baik. Pemerintah memang wajib hadir, tetapi peran masyarakat jauh lebih menentukan. Di sini mahasiswa bisa menjadi jembatan: mengorganisasi warga, membuat bank sampah, hingga menghadirkan teknologi sederhana seperti biofilter untuk mengurangi bau.
Di era digital, mahasiswa juga bisa menggerakkan opini publik lewat media sosial. Konten-konten kreatif tentang sungai bersih bisa lebih viral daripada sekadar imbauan formal. Spanduk di pasar atau video pendek di TikTok bisa lebih efektif menyentuh kesadaran masyarakat.
Kebersihan sungai bukan hanya soal lingkungan, tapi juga soal kesehatan dan ekonomi. Pedagang yang berjualan di tepi sungai butuh lingkungan bersih agar dagangan mereka dipercaya konsumen. Anak-anak butuh sungai sehat agar terhindar dari penyakit. Dan masyarakat butuh air bersih untuk keberlangsungan hidup.
Karena itu, mahasiswa harus berperan sebagai penggerak: memberi edukasi, melakukan aksi, sekaligus menawarkan solusi. Sungai yang bersih adalah aset bersama. Dan perubahan itu hanya mungkin terwujud jika mahasiswa, masyarakat, dan pemerintah bergerak bersama. (*)