Kanal

Cahaya di Tengah Kegelapan

Oleh: Boy Jerry Even Sembiring 

(Calon Direktur Eksekutif Nasional WALHI periode 2025–2029)

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) sejak kelahirannya berdiri di garis depan perlawanan terhadap kapitalisme ekstraktif dan rezim otoriter yang merusak alam serta mempersempit ruang demokrasi. Organisasi ini menjadi rumah gerakan rakyat, tempat berbagai elemen sosial bertemu untuk memperjuangkan keadilan ekologis.

Oligarki politik dan bisnis bersekutu mengeksploitasi sumber daya alam secara masif, mengabaikan hak asasi manusia dan memperparah ketidakadilan. Inilah wajah nyata krisis ekologis yang kian menjerat Indonesia.

Konteks perjuangan WALHI tak bisa dilepaskan dari triple planetary crisis: perubahan iklim, polusi, dan hilangnya keanekaragaman hayati. Krisis ini bukan bencana alam semata, melainkan buah dari era capitalocene—logika kapitalisme yang menempatkan alam sebagai mesin keuntungan tanpa batas.

Dampaknya nyata di berbagai wilayah: hutan dan tambang Papua dirampok, Maluku dan Sulawesi rusak oleh hilirisasi nikel, Bali dan Nusa Tenggara dicekik industrialisasi pariwisata dan tambang, Jawa runtuh akibat industrialisasi masif, Sumatera dan Kalimantan porak-poranda oleh sawit dan industri kehutanan.

Lebih gawat lagi, hukum kerap dijadikan alat legitimasi eksploitasi. Perlindungan rakyat berubah menjadi penindasan. Di sinilah WALHI hadir, bukan hanya membela lingkungan, melainkan juga demokrasi dan hak-hak sipil.

Agenda ke depan, WALHI harus membawa strategi kolektif, terkoneksi, dan transformatif. Tujuh pilar menjadi pondasinya: memasukkan keadilan ekologis dalam kebijakan publik, memperkuat demokrasi, mengarusutamakan keadilan gender dan antargenerasi, melahirkan kader kritis, membangun narasi anti-kapitalisme, serta merajut blok politik kerakyatan.

Solidaritas internasional juga mutlak. Korporasi multinasional dan negara-negara Utara yang menyumbang jejak karbon terbesar tak boleh lolos dari tanggung jawab.

Ini bukan utopia. Roadmap sudah jelas: mentransformasi ekonomi-politik ekstraktif menuju kedaulatan rakyat dan tatanan sosial-ekologis yang adil. Dengan kerja kolektif, WALHI bisa menjadi cahaya di tengah kegelapan oligarki kapitalis—mengingatkan bahwa perubahan radikal selalu mungkin, asal kita bersatu.

 

 

Ikuti Terus Riaupower

BERITA TERKAIT

BERITA TERPOPULER