RADARPEKANBARU.COM - Angka kecelakaan kerja di Provinsi Riau kembali menjadi sorotan. Insiden terbaru di Kilang Pertamina Internasional (KPI) Dumai yang menewaskan seorang pekerja saat melakukan pekerjaan di ketinggian, menambah panjang daftar korban jiwa akibat kecelakaan kerja di Bumi Lancang Kuning
Praktisi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) sekaligus Ketua Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Riau, Ir Ulul Azmi, ST, MSi, CST, IPM, ASEAN Eng, menyampaikan duka mendalam atas musibah tersebut.
"Innalillahi wa inna ilaihi rajiāun. Kami turut berbelasungkawa. Semoga almarhum diterima di sisi Allah SWT, dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan," ucapnya kepada GoRiau.com, Minggu (24/8/2025).
Ulul menegaskan, dengan adanya korban di Dumai, total angka *fatality* akibat kecelakaan kerja di Riau sejak Januari hingga Agustus 2025 telah mencapai 33 kasus. Jumlah ini tercatat sebagai yang tertinggi sepanjang sejarah.
"Baru kali ini dalam delapan bulan, angka meninggal dunia akibat kecelakaan kerja mencapai 33 orang. Ada apa dan mengapa ini bisa terjadi? Pertanyaan ini harus kita jawab dengan langkah nyata di lapangan," tegasnya.
Ia menjelaskan, kecelakaan kerja di ketinggian merupakan aktivitas berisiko tinggi dan telah diatur jelas dalam regulasi, mulai dari UU No 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja hingga Permenaker No 9 Tahun 2016 tentang K3 Pekerjaan di Ketinggian. Aturan tersebut mewajibkan pekerja memiliki pelatihan dan sertifikasi kompetensi, penggunaan alat pelindung diri (APD) standar, serta pengawasan oleh personel yang berkompeten.
Lebih jauh, ia menekankan bahwa pencegahan *fatality* tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Pemerintah melalui Dinas Tenaga Kerja harus memperkuat fungsi pengawasan, pembinaan, dan penegakan aturan. Perusahaan dituntut menjadikan K3 sebagai budaya kerja, bukan sekadar formalitas administratif.
"Sementara itu, serikat pekerja, asosiasi profesi, akademisi, dan masyarakat perlu membangun kesadaran kolektif agar keselamatan pekerja benar-benar terjamin," urainya.
Menurutnya, 33 nyawa yang hilang hanya dalam delapan bulan sudah lebih dari cukup.
"Jangan ada korban berikutnya. Keselamatan pekerja adalah tanggung jawab bersama. Setiap nyawa yang hilang adalah kehilangan besar bagi keluarga, bangsa, dan masa depan kita," tegasnya.
Ulul menutup dengan pesan penting bahwa Riau sebagai daerah industri migas dan manufaktur harus menjadi contoh nyata dalam mewujudkan *Zero Accident*(grc)