Apakah karena kita tidak paham bahasa Arab? Tentu, itu adalah salah satu faktornya, karena bahasa Arab adalah salah satu kunci untuk memahami Al-Qur’an. Namun, faktanya, banyak orang Arab pun merasakan hal yang sama. Meskipun mereka memahami bahasa Arab, hal itu tidak serta merta membuat hati mereka tergerak karena Al-Qur’an. Jika begitu, Al-Qur’an menjadi sekadar ritual yang secara simbolis dibacakan pada momen-momen tertentu dan bukan lagi dianggap sebagai sumber hidayah dan ilmu.
Lantas, bagaimanakah para sahabat dahulu menerima Al-Qur’an dari Nabi ? sehingga Al-Qur’an benar-benar menjadi pedoman hidup mereka?
Namun, sebelum itu, kita perlu mengetahui mengapa Al-Qur’an diturunkan Allah kepada umat manusia. Dengan begitu, kita dapat mengatur ulang skala prioritas kita dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an.
Pada banyak ayat di dalam Al-Qur’an, dijelaskan bahwa Al-Qur’an disebut sebagai huda atau petunjuk. Coba renungkan baik-baik apa artinya jika sesuatu disebut sebagai petunjuk. Jika kita tidak tahu cara mengoperasikan gawai dan membaca buku petunjuk, maka kita bisa tahu cara menggunakannya. Atau, ketika kita tersesat di jalan dan melihat plang yang memberi arah, kita pun bisa tahu jalan yang harus diambil untuk sampai ke tujuan. Itulah fungsi petunjuk, yaitu memberikan arahan apa yang seharusnya kita lakukan.
Begitu juga dengan kehidupan ini, dengan segala kompleksitasnya, tentu kita sangat membutuhkan petunjuk. Di sinilah, Al-Qur’an berperan sebagai petunjuk yang mengarahkan kita pada sikap dan perilaku yang benar. Allah Ta’ala berfirman,
“Bulan Ramadan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil).” (QS. Al-Baqarah: 185)
Manusia diciptakan dengan fitrah berupa kemampuan mengenali Allah dan mengenali kebaikan dan keburukan sedari lahir. Namun, apabila fitrah tersebut tidak dijaga dan dibimbing dengan baik selama tumbuh kembang seseorang, ia dapat tertutupi awan syubhat dan syahwat. Oleh karenanya, Al-Qur’an -salah satunya- diturunkan Allah untuk menyingkap kembali awan tersebut, agar manusia kembali ingat tujuan ia diciptakan.
Allah Ta‘ala berfirman,
“Ini adalah kitab penuh berkah yang kami turunkan kepadamu, ‘Wahai Nabi’, agar mereka merenungi ayat-ayatnya dan orang-orang yang berakal menjadi ingat.” (QS. Shad: 29)
Allah Ta’ala juga berfirman sebanyak empat kali di dalam surah Al-Qamar sebagai bentuk penegasan,
“Sungguh Kami telah membuat Al-Qur’an mudah untuk diingat. Adakah orang yang akan mengambilnya sebagai pelajaran?”
Sebab selanjutnya diturunkannya Al-Qur’an adalah untuk mengokohkan iman kaum muslimin. Al-Qur’an bukan hanya ditujukan untuk orang yang belum beriman, tetapi orang yang sudah beriman pun merupakan sasaran bicara Al-Qur’an agar semakin kuat keimanannya. Allah Ta‘ala berfirman,
“Orang-orang mukmin sejati adalah mereka yang hatinya bergetar saat mengingat Allah, mereka yang imannya bertambah saat ayat-ayat-Nya dibacakan kepada mereka, dan mereka hanya berserah diri kepada Allah.” (QS. Al-Anfal: 2)
Berdasarkan penjelasan di atas, maka fokus interaksi kita dengan Al-Qur’an haruslah sejalan dengan tujuan-tujuan tersebut. Artinya, jika cara interaksi kita dengan Al-Qur’an belum menghasilkan tujuan di atas (yaitu, belum menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup, sebagai sumber perenungan, dan penambah iman) mungkin ada yang perlu diperbaiki. Namun, bukan berarti interaksi lainnya tidak menghasilkan pahala, hanya saja mendahulukan tujuan utama lebih afdal dibandingkan tujuan-tujuan sekunder lainnya.(mlc))