Meranti,- Tema Riau Bersatu yang dipilih sempena hari jadi Riau yang ke-66 Tahun, diduga berangkat dari perspektif sejarah perjalanan Riau yang merupakan bagian integral, tak terpisahkan dalam memaknai kembali nilai-nilai sejarah perjalanan Riau dalam konteks perubahan zaman yang berlangsung dinamis.
Langkah ini tentu merupakan langkah strategis sebagai upaya untuk menjawab tantangan zaman kekinian dalam aneka problematika ditengah usia 66 Tahun Riau sebagai sebuah negeri : Sebuah usia matang untuk tidak mengatakan sepuh, menjadi modal dasar yang kuat untuk melaksanakan proses pembangunan dalam mewujudkan Riau yang berdaya saing, sejahtera, bermartabat dan unggul. Akan tetapi, membangun sebuah negeri, meminjam Bung Karno, tak hanya sekedar pembangunan fisik semata yang sifatnya material, namun lebih dari pada itu, yang sesungguhnya adalah membangun jiwa bangsa. Dalam rumusan lain, Bung Karno seperti ingin mengatakan, modal utama membangun sebuah negeri adalah harus diawali dengan membangun jiwa bangsa.
Dengan demikian, maka bersempena memperingati hari jadi Riau yang ke-66 Tahun pada 09 Agustus 2023 ini, maka harus dipandang sebagai sebuah entry point dalam merangsang dan membangkitkan semangat dan jiwa kebudayaan melayu. Dalam salah satu tulisannya yang berjudul "Culural Values and Cultural Scripts of Malay (Bahasa Melayu)", Cliff Goddard (1996), mengatakan bahwa para peneliti Eropa menggambarkan budaya melayu dengan nilai-nilai kehalusan budi, ramah-tamah, dan sensitif. Selain itu, orang melayu digambarkan sebagai orang yang menarik dan sopan. Bahkan, melayu bukan hanya hadir sebagai sebuah identitas diri, tetapi juga jiwa dari kebudayaan melayu Riau dijadikan pandangan hidup dan sebagai pedoman dalam meningkatkan harkat dan martabat masyarakat Riau. Harkat dan martabat masyarakat Riau yang tinggi, sangat potensialitas menentukan 'cetak biru' masa depan provinsi Riau ini. Karena orang melayu menjunjung tinggi norma agama dan rasa malu merupakan bagian tak terpisahkan, bahkan menjadi bagian pertama dan utama dari agama. Maka orang melayu adalah orang yang menjadikan rasa malu sebagai parameter, tolok ukur di setiap langkah hidupnya, karena rasa malu dipandang melekat sebagai sebuah harga diri dalam memproduksi perilaku yang lebih 'awas', lebih 'terpelihara', lebih terjaga, sehingga merasa malu bila melakukan tindakan semena-mena, malu bila tidak komit dengan janji, malu bila melanggar hukum dan aneka tindakan destruktif lainnya. Ini menjelaskan, bahwa kebudayaan melayu berkorelasi tak terpisahkan dengan sifat, ciri-ciri dan penampilan orang melayu yang salah satunya sifat orang melayu Riau adalah pemalu. Tak pelak, malu merupakan identitas utama orang Melayu. Lebih jauh, malu juga sesuatu yang dibudayakan; sebuah prinsip hidup yang diturunkan dari generasi ke generasi.
Bahkan rasa malu, merupakan bagian dari prinsip utama keimanan. Dalam konteks ini, tak berlebihan, bila orang Melayu juga disebut sebagai manusia agamis, sebab agama (Islam) menjadi prasyarat utama yang tak bisa ditawar harus dimiliki oleh setiap diri anggota masyarakat. Karena agama (Islam) dan budaya melayu mempunyai pertalian yang jalin-berkelindan. Dengan kata lain, persebatian agama Islam dan budaya melayu Riau sudah menyatu dan senyawa dalam kehidupan.
Oleh karenanya, hari jadi provinsi Riau yang ke 66 Tahun dengan tema Riau Bersatu, bukanlah sesuatu yang normatif, bukan pula sekadar dijadikan slogan. Bahkan bukan pula hanya dipentas sosialkan dalam serangkaian acara seremonial. Namun, harus dapat secara nyata diwujudkan menuju Riau yang berdaya saing, sejahtera, bermartabat dan unggul. Karena indikator-indikator sosial-ekonomi inilah yang sejatinya menentukan makna dan tingkat pencapaian hari jadi Riau dalam konteks kekinian, sekaligus menandai adanya pergerakan kemajuan Riau dalam perjalanan sejarahnya.
Dengan demikian, melalui peringatan hari jadi Riau yang ke-66 tahun dapat kiranya dijadikan sebagai momentum untuk melakukan refleksi : Memaknai kembali nilai-nilai sejarah perjalanan Riau dalam semangat dan jiwa kebudayaan melayu dengan meletakkan rasa malu sebagai identitas utamanya yang terimplementasi dalam aktivitas pemerintahan, aktivitas politik, budaya dan aktivitas sosial kemasyarakatan, agar melayu tak hilang dibumi. Semoga!
Selamat Hari Jadi Provinsi Riau yang ke-66 Tahun.