RADARPEKANBARU. COM - Manusia sering kali bimbang dalam menyikapi suatu masalah, padahal manusia sendiri pun sangat lekat dengan beragam potensi kebaikan. Potensi kebaikan yang konstruktif hingga dapat membawa pada nilai-nilai kemuliaan.
Manusia dapat menjadikan setiap aktivitasnya sebagai solusi hingga perantara untuk meraih cinta Tuhan. Seperti halnya aktivitas dalam memperbaiki setiap kesalahan yang dilakukan di dalam kehidupan.
Kesalahan merupakan hal yang tidak dapat dilepaskan di dalam diri manusia. Namun, kemuliaan dan ketenteraman menjadi hadiah istimewa bagi manusia yang tulus untuk dapat mengakui kesalahannya dengan melantunkan kata maaf hingga berubah untuk memperbaikinya menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Memperbaiki setiap kesalahan dapat mengantarkan kita sebagai manusia untuk selalu tertaut pada nilai-nilai kebaikan. Dengan mengakui dan memperbaiki kesalahan, kita pun akan senantiasa dapat mengendalikan keadaan hati dan pikiran. Sehingga, memperbaiki suatu kesalahan dengan tepat pun dapat menjadi perantara untuk menggapai kasih sayang sesama dan cinta Tuhan.
Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Mani' telah menceritakan kepada kami Zaid bin Hubab telah menceritakan kepada kami Ali bin Mas'adah al-Bahili telah menceritakan kepada kami Qatadah dari Anas bahwa Nabi SAW bersabda: "Semua anak cucu Adam banyak salah dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang bertobat." (HR Tirmidzi).
Hadis ini menjelaskan tentang pentingnya memperbaiki kesalahan dengan bertobat. Upaya brilian dalam mengendalikan diri sehingga dapat mengolah setiap kesalahan hingga penyesalan menjadi nilai-nilai kebaikan. Pengakuan atas kesalahan pun menjadi tanda atas unggulnya keimanan dan ketakwaan manusia kepada Sang Pencipta.
Allah SWT berfirman, “Dan seandainya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu (niscaya kamu akan menemui kesulitan). Dan sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat, Mahabijaksana.” (QS an-Nur: 10).
Ketahuilah, Allah SWT menerangkan melalui firman-Nya yang mulia kepada kita untuk dapat bersedia mengakui dan memperbaiki setiap kesalahan dan menyegerakan diri untuk bertobat. Yakni, dengan menunjukkan penyesalan diri dan berjanji tidak akan mengulang kesalahan sebagai wujud kesungguhan kembali kepada-Nya.
Maka, pandai dalam mengakui dan memperbaiki kesalahan itu berbuah keberuntungan. Bahkan, hal tersebut merupakan kunci untuk mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di keabadian.
Lalu, Allah SWT berfirman, “Dan bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.” (QS an-Nur: 31).
Bagaikan bunga mawar yang bermekaran, pengakuan atas kesalahan adalah sumber keharuman. Hal istimewa yang harus dibiasakan. Mengabaikannya, menjadi sumber kehampaan. Lewat tobat, keberuntungan dari-Nya kita dapatkan. Wallahu a’lam.