Akademisi: Program Bantuan Perikanan Dinilai Tidak Efektif
RADARPEKANBARU.COM- Program-program bantuan perikanan pemerintah pusat dan daerah berupa kapal, alat tangkap, dan subsidi kepada nelayan dinilai tidak efektif dan terbukti gagal karena yang dibantu tetap saja miskin dan tidak bertumbuh menjadi semakin sejahtera.
"Sampai sekarang program itu masih dilakukan dalam pelbagai bentuk antara lain hibah bergulir, Kredit Usaha Tani, maupun sarana produksi. Namun hampir tidak ada penilaian efektivitas dan efisiensi kebijakan itu," kata Guru Besar Universitas Islam Riau, Prof. Muchtar Achmad di Pekanbaru, Rabu.
Dia menceritakan hal itu tak pernah berubah mulai sejak pengalamannya sebagai mahasiswa Fakultas Perikanan Universitas Riau. Saat itu tahun awal tahun 1965 dia pernah turun ke Selat Panjang, Kabupaten Kepulauan Meranti.
Pada waktu itu ada program operasi harapan yang bertujuan meningkatkan produksi usaha perikanan nelayan. Usaha skala kecil itudiberi seperangkat kapal ukuran 3-5GT untuk sekelompok 3-5 orang dengan alat tangkap jaring insang.
Diharapkan setelah itu nelayan mampu mengembalikan modal usaha itu dari hasil penangkapannya. Lalu diberi pendamping para mahasiswa atau sarjana muda dari perguruan tinggi.
"Malangnya hasilnya amat tidak menggembirakan. Tak ada satupun kelompok itu berhasil. Banyak saja penyebab hal itu terjadi. Diantaranya adalah sasaran pemberian kapal dan alat tangkap itu ialah aparat di pesisir bahkan keluarga camat, kepala desa, dan dinas perikanan," ungkapnya.
Alasan gagalnya sering bahwa nelayan yang pendidikannya tidak tamat SD tidak mampu mengelola usaha. Padahal sarjana muda juga tidak mempunyai kompetensi manajerial yang lebih baik karena ketiadaan pengalaman.
"Sementara penyuluhan teknis tidak berarti sama sekali karena banyak para nelayan yang lebih kompeten daripada penyuluh. Itu terbukti sebelum ada program itu nelayan berhasil menangkap ikan," ulasnya.
Kemudian pada tahun 1974, ketika Prof. Muchtar pulang dari Jepang, program itu masih ada. Bahkan ada peningkatan didampingi oleh sarjana muda yang digaji pemerintah sampai sekarang.
Oleh karena itu, perlu dilaukan pengembangan agrobisnis yang sampai sekarang belum berhasil. Menurutnya ini adalah masa depan yang tak pernah selesai dan tidak ada ujungnya.(Ant)
Be Happy: Era Digital Pajak Indonesia Menuju Masa Depan yang Cemerlang
Oleh Ahmad ZayyadiMahasiswa Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial UIN Suska.
RUU Perampasan Aset: Menanti Pedang Keluar dari Sarung
Oleh: Azmi bin RozaliDi tengah kian merosotnya kepercayaan publik terhada.
Maraknya Hoaks dan Framing Informasi di Era Keuangan Digital
Maraknya Hoaks dan Framing Informasi di Era Keuangan DigitalOl.
Tantangan dan Peluang Menerapkan Pembelajaran Berdiferensiasi di Kelas
Pendidikan merupakan kunci kemajuan bangsa. Kualitas pendidikan yan.
Model pembelajaran diferensiasi dalam konteks kurikulum merdeka menawarkan pendidikan yang lebih adaptif, Inklusif, dan berdaya saing.
KURIKULUM MERDEKA HADIR DENGAN PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI, MENDORONG PENDIDIKAN YANG LEBIH INKL.








.jpg)