RADARPEKANBARU.COM - Sesungguhnya Allah SWT menurunkan harta dengan tujuan yang luhur, jauh melampaui tujuan yang selama ini membuat manusia saling berlomba dan berebut untuk mengumpulkannya.
Tujuan diturunkannya harta telah dijelaskan oleh Allah SWT dalam sebuah hadis qudsi. Maka, renungkanlah hadis tersebut, wahai hamba-hamba Allah.
Dari Abu Waqid Al-Laitsi RA, ia berkata bahwa apabila wahyu Alquran turun kepada Rasulullah SAW dan beliau diperintahkan untuk melakukan sesuatu, kami pun mendatangi beliau untuk mempelajarinya. Suatu hari, kami datang kepada beliau, lalu beliau bersabda:
“Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman, ‘Kami menurunkan harta agar digunakan untuk menegakkan shalat dan menunaikan zakat. Seandainya anak Adam memiliki satu lembah harta, niscaya ia ingin memiliki lembah yang kedua. Jika ia telah memiliki lembah kedua, ia pun ingin memiliki lembah yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi mulut anak Adam selain tanah (kematian). Dan Allah menerima tobat orang yang bertobat.” (HR Ahmad)
Saat berada di Padang Mahsyar, manusia dibangkitkan dalam keadaan tidak beralas kaki dan tidak berpakaian, baik laki-laki maupun perempuan. Mereka bertebaran seperti anai-anai yang beterbangan.
Gunung-gunung beterbangan seperti bulu yang dihambur-hamburkan. Langit terbelah, berguncang, terpecah, terbuka, dilenyapkan, dan digulung. Gunung-gunung dijalankan, dihancurkan, dan diratakan. Bumi diguncangkan, dihamparkan, serta mengeluarkan segala isinya dan menjadi kosong.
Unta-unta yang bunting ditinggalkan, binatang-binatang liar dikumpulkan, lautan meluap dan menyala-nyala, sementara umat manusia berlutut. Setiap umat dipanggil untuk menerima catatan amalnya.
Leher-leher manusia terasa kering karena kehausan, panas matahari, dan dahsyatnya hembusan napas makhluk yang berkumpul. Keringat pun mengucur hingga mencapai pinggang, mata kaki, bahkan daun telinga.
Seperti inilah nasib para pemilik harta yang melupakan Allah Yang Mahabesar. Mereka harus menanggung kehinaan akibat harta yang dahulu mereka kumpulkan dan enggan mereka keluarkan untuk memenuhi hak orang lain.
Allah SWT berfirman:
“Adapun orang yang catatannya diberikan dari sebelah kirinya, dia berkata, ‘Alangkah baiknya jika catatanku tidak diberikan kepadaku. Sehingga aku tidak mengetahui bagaimana perhitunganku. Wahai, kiranya kematian itulah yang menyudahi segala sesuatu. Hartaku sama sekali tidak berguna bagiku. Kekuasaan telah hilang dariku.’ (Allah berfirman,) ‘Tangkaplah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya. Kemudian, masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala. Selanjutnya, belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta. Sesungguhnya dahulu dia tidak beriman kepada Allah Yang Mahaagung dan juga tidak mendorong (orang lain) untuk memberi makan orang miskin. Maka, pada hari ini di sini tidak ada seorang teman pun baginya.’”
Pertama, orang-orang berharta yang tidak menunaikan zakat
Di antara orang-orang yang dihinakan pada Hari Kiamat adalah mereka yang tidak menunaikan zakat hartanya.
Padahal, seandainya seluruh pemilik harta menunaikan zakat secara sempurna, niscaya tidak akan ada lagi orang fakir, miskin, atau orang yang membutuhkan di kalangan kaum Muslimin, dengan izin Allah SWT.
Allah SWT berfirman:
“Orang-orang yang menyimpan emas dan perak, tetapi tidak menginfakkannya di jalan Allah, berikanlah kabar gembira kepada mereka (bahwa mereka akan mendapat) azab yang pedih. Pada hari ketika (emas dan perak) itu dipanaskan dalam neraka Jahanam, lalu disetrikakan pada dahi, lambung, dan punggung mereka (seraya dikatakan), ‘Inilah apa (harta) yang dahulu kamu simpan untuk dirimu sendiri. Maka, rasakanlah (akibat dari) apa yang selama ini kamu simpan.’” (QS At-Taubah: 34–35).
Namun, sebagian pemilik harta lupa bahwa Allah-lah yang telah memberikan harta tersebut kepada mereka. Sesungguhnya, harta itu pada hakikatnya adalah milik Allah SWT.
Allah SWT berfirman:
“Adapun orang yang kikir dan merasa dirinya cukup (tidak perlu pertolongan Allah), serta mendustakan (pahala) yang terbaik, maka Kami akan memudahkan baginya jalan menuju kesukaran (kesengsaraan). Hartanya tidak bermanfaat baginya apabila dia telah binasa.” (QS Al-Lail: 8–11).
“Barang siapa diberi harta oleh Allah, tetapi tidak menunaikan zakatnya, pada Hari Kiamat hartanya akan menjelma menjadi ular jantan yang sangat berbisa, tidak berbulu di kepalanya, dan memiliki dua titik hitam di atas kedua matanya. Ular itu akan melilit lehernya dan menggigit kedua sisi rahangnya. Kemudian ular itu berkata, ‘Akulah hartamu, akulah simpananmu.’ Setelah itu, Nabi SAW membaca ayat: ‘Jangan sekali-kali orang-orang yang kikir dengan karunia yang diberikan Allah kepada mereka mengira bahwa (kekikiran) itu baik bagi mereka...’ hingga akhir ayat.” (HR Bukhari)
Perbedaan antara orang-orang yang menunaikan hak hartanya dan mereka yang enggan mengeluarkan zakat sangat jauh.
Pada Hari Kiamat, harta berupa emas dan perak milik orang yang enggan menunaikan zakat akan diubah menjadi lempengan-lempengan yang dipanaskan dalam api neraka. Dengannya, lambung, dahi, dan punggung mereka disetrika.
Allah SWT berfirman:
“ Inilah apa (harta) yang dahulu kamu simpan untuk dirimu sendiri. Maka, rasakanlah (akibat dari) apa yang selama ini kamu simpan.” (QS At-Taubah: 35).
Bahkan, harta yang mereka kumpulkan itu akan menjelma menjadi ular besar yang tidak berbulu di kepalanya karena banyaknya racun. Ular itu akan melilit leher pemiliknya, menggigit kedua sisi rahangnya, lalu berkata, “Akulah hartamu, akulah simpananmu.”
Nabi SAW kemudian membaca firman Allah:
“Jangan sekali-kali orang-orang yang kikir dengan karunia yang diberikan Allah kepada mereka mengira bahwa (kekikiran) itu baik bagi mereka. Sebaliknya, (kekikiran) itu buruk bagi mereka. Pada hari Kiamat, apa yang mereka kikirkan itu akan dikalungkan (di lehernya).” (QS Ali Imran: 180). (HR Bukhari).(rep)