RADARPEKANBARU.COM - Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru akhirnya menerbitkan Surat Edaran tentang penyesuaian kegiatan pembelajaran di Kota Pekanbaru, Kamis,(15/10), malam.
Dalam SE tersebut, dituliskan, memperhatikan kualitas udara Kamis,(15/10) kemarin, maka kegiatan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) kembali dilaksanakan selama dua hari Sejak Jumat- Sabtu,(16-17/10).
Kepada sekolah madrasah yang berada di bawah kewenangan Kementerian Agama dan kementerian lembaga lainnya di Kota Pekanbaru diimbau untuk dapat menyesuaikan pelaksanaan kegiatan pembelajaran, dengan tetap memperhatikan kondisi kualitas udara serta kesehatan dan keselamatan peserta didik.
Bagi sekolah yang terkendala akses listrik atau jaringan internet, pembelajaran dilaksanakan melalui modul pembelajaran penugasan berbasis rumah.
Plt Kepala Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru, Abdul Jamal, sebelumnya, siang hari mengatakan, terkait kebijakan pemberlakukan PJJ, masih mempertimbangkan kondisi kualitas udara dalam menentukan kebijakan pembelajaran selanjutnya
Hingga Kamis (15/10), siang, kualitas udara di Kota Pekanbaru memang masih berada pada kategori tidak sehat.
Kondisi itulah yang menjadi salah satu pertimbangan untuk menentukan, apakah peserta didik sudah bisa kembali mengikuti pembelajaran tatap muka atau harus tetap belajar dari rumah.
Menurutnya, PJJ yang dijadwalkan berakhir pada Kamis ini, berpotensi diperpanjang. Namun, keputusan tersebut tidak bisa diambil secara sepihak oleh Dinas Pendidikan karena harus mempertimbangkan masukan dari sejumlah instansi terkait.
"Karena memang melihat cuaca dan kualitas udara," kata Abdul Jamal.
Ia menjelaskan, penentuan skema pembelajaran melibatkan sejumlah instansi, di antaranya Dinas Kesehatan dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).
Dinas Pendidikanlah nantinya menjalankan keputusan yang dihasilkan melalui koordinasi bersama instansi terkait.
Abdul Jamal, menyebutkan, kondisi cuaca yang dapat berubah sewaktu-waktu juga menjadi pertimbangan. Hujan yang turun pada malam hari, misalnya, berpotensi memengaruhi kondisi udara pada keesokan harinya.
Karena itu, pemerintah perlu melakukan penilaian secara berkala sebelum menentukan apakah PJJ diperpanjang atau pembelajaran tatap muka kembali dilaksanakan.
"Kita juga tidak bisa sembarangan karena ini menyangkut bencana. Kita perlu rapat juga, sementara sekolah mulai pagi," jelasnya.
Dia, mengakui, kebijakan PJJ maupun pembelajaran tatap muka sama-sama memiliki konsekuensi. Jika PJJ diperpanjang, terdapat sejumlah hal yang harus dipertimbangkan, termasuk pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi siswa.
Sebaliknya, jika pembelajaran tatap muka kembali diterapkan ketika kualitas udara masih buruk, kesehatan siswa juga menjadi perhatian.
Meski demikian, ia memastikan pihaknya terus berkoordinasi dengan instansi terkait agar keputusan mengenai kegiatan belajar mengajar dapat diambil sesuai perkembangan kondisi udara.(rmc)