RADARPEKANBARU.COM - Dalam berbagai nasihatnya, Nabi Isa AS mengajarkan pelajaran berharga tentang bagaimana menjalani kehidupan dengan bijaksana.
Manusia diingatkan agar tidak terpedaya oleh gemerlap dunia yang fana, tidak mudah menghakimi kesalahan orang lain, serta senantiasa menjaga hati dengan memperbanyak zikir kepada Allah SWT.
Nasihat-nasihat tersebut mengajak kita untuk lebih mawas diri, menyadari keterbatasan sebagai manusia, dan tidak membiarkan urusan dunia melalaikan kita dari mengingat Allah.
Sebab, kebahagiaan sejati tidak hanya diukur dari apa yang berhasil diraih di dunia, tetapi juga dari kejernihan hati, kerendahan diri, dan kedekatan kita kepada Allah SWT sebagai bekal menuju kehidupan akhirat.
Berikut ini tiga nasihat Nabi Isa AS yang diabadikan para ulama dalam sejumlah karya mereka:
Pertama, celakalah orang yang masih terikat dengan dunia, mengapa mereka tidak belajar dari orang-orang yang telah pergi?
Pada suatu hari, Nabi Isa AS sedang berjalan. Tiba-tiba, beliau melihat seorang perempuan tua yang ompong, tidak memiliki gigi, tetapi mengenakan berbagai macam perhiasan.
Nabi Isa AS pun bermaksud menutupi wajahnya agar tidak melihat perempuan tersebut. Namun, perempuan itu berkata, “Singkaplah wajahmu! Aku bukanlah seorang perempuan, melainkan dunia.”
Nabi Isa AS bertanya, “Apakah engkau memiliki suami?”
Perempuan itu menjawab, “Aku memiliki banyak suami.”
Beliau kembali bertanya, “Apakah mereka semua menceraikanmu?”
Perempuan itu menjawab, “Tidak. Aku justru telah membunuh mereka semua.”
“Apakah engkau bersedih atas kematian salah seorang dari mereka?” tanya Nabi Isa AS.
Perempuan itu menjawab, “Merekalah yang bersedih karena diriku, sedangkan aku tidak bersedih atas kepergian mereka. Mereka menangisiku, sementara aku tidak menangisi mereka.”
NIsa AS kemudian berkata:
“Celakalah para suamimu yang masih tersisa! Mengapa mereka tidak mengambil pelajaran dari orang-orang yang telah mendahului mereka? Bagaimana engkau membinasakan mereka satu demi satu, tetapi mereka tidak juga berhati-hati terhadapmu?”
Kisah ini dinukilkan Ibnu Abi Ad-Dunya dalam Al-Zuhd, Imam al-Ghazali dalam Ihya, dan Ibn al-Qayyim dalam Wa’dat ash-Shabirin wa Dzakhirat asy-Syakirin.
Perumpamaan tersebut menggambarkan dunia yang selama ini diperebutkan manusia. Demi dunia, kita bahkan berselisih, memutus tali silaturahim, dan mengabaikan kewajiban kepada Allah SWT.
Ketika melaksanakan sholat, sebagian dari kita tidak menunaikannya secara berjamaah. Ada pula yang menunda sholat hingga keluar dari waktunya.
Bahkan, saat sedang sholat pun, pikiran kita terkadang masih disibukkan oleh urusan dunia: memikirkan harta, menghitung kekayaan, dan memeriksa saldo rekening.
Kecintaan terhadap dunia juga dapat menyeret seseorang untuk mengambil hak waris anak perempuan, merampas hak saudara sendiri, memalsukan transaksi, bersumpah palsu atas nama Allah, berbuat curang dalam jual beli, hingga melanggar hak milik orang lain.
Padahal, Allah SWT telah mengingatkan dalam firman-Nya:
“Ketahuilah bahwa kehidupan dunia itu hanyalah permainan, kelengahan, perhiasan, dan saling bermegah-megahan di antara kamu serta berlomba-lomba dalam banyaknya harta dan anak keturunan. (Perumpamaannya adalah) seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani, kemudian (tanaman) itu menjadi kering dan engkau melihatnya menguning, kemudian hancur. Di akhirat ada azab yang keras serta ampunan dari Allah dan keridaan-Nya. Kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya.” (QS. Al-Hadid 5757: 20).
Nabi Isa AS, sebagaimana dinukilkan Imam al-Mawardi dalam Adab Ad-Dunya wa ad-Din juga pernah berkata:
“Dunia adalah sebuah jembatan. Maka, seberangilah ia dan jangan menjadikannya tempat untuk menetap.”
Sementara itu, dalam az-Zuhd karangan Imam Ahmad dan Qishash al-Anbiya, Nabi isa juga berkata:
“Sebagaimana salah seorang di antara kalian tidak mungkin membangun rumah di atas gelombang laut, jangan pula menjadikan dunia sebagai tempat tinggal yang tetap.”
Orang yang berbahagia adalah orang yang meninggalkan dunia sebelum dunia meninggalkannya, mempersiapkan kuburnya sebelum memasukinya, dan mencari keridaan Tuhannya sebelum bertemu dengan-Nya.
Kedua, jangan memandang dosa orang lain seolah-olah kalian adalah Tuhan
Nabi Isa AS berkata:
“Janganlah kalian memandang dosa orang lain seolah-olah kalian adalah Tuhan. Sebaliknya, pandanglah dosa kalian sendiri seolah-olah kalian adalah hamba. Sesungguhnya, manusia ada yang sedang diuji dan ada pula yang diberi keselamatan. Maka, kasihilah orang-orang yang sedang mendapat ujian dan bersyukurlah kepada Allah atas keselamatan yang diberikan kepada kalian.”
Pernyataan ini dinukilkan Ibn Abdil Barr dalam al-Istidzkar al-Jami’ li Madzahib Fuqaha’ al-Amshar dan al-Baji dalam Syarh al-Muwatha’.
Dikisahkan bahwa seorang perempuan dari kalangan Bani Israil melakukan perbuatan keji. Ketika kabar itu tersebar, orang-orang mendatangi rumahnya dan mencaci makinya dengan berbagai perkataan kasar. Mereka bahkan melontarkan sebutan-sebutan yang sangat hina kepadanya.
Setelah itu, perempuan tersebut dibawa kepada Nabi Isa AS agar beliau menjatuhkan hukuman rajam kepadanya.
Ketika melihat orang-orang yang telah bersiap melaksanakan hukuman dengan tatapan penuh kebencian dan penghinaan terhadap perempuan itu, Nabi Isa AS berkata kepada mereka:
???? ????? ???????? ????? ????????? ????????????? ???????? ???????
“Siapa di antara kalian yang tidak mempunyai dosa, hendaklah ia melemparkan batu kepadanya terlebih dahulu.”
Ketika mendengar perkataan tersebut, mereka pun pergi satu demi satu, dimulai dari orang-orang yang lebih tua. Akhirnya, tinggallah Nabi Isa AS dan perempuan itu di tempat tersebut.
Nabi Isa AS kemudian berkata kepadanya, “Wahai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang pun di antara mereka yang menghukummu?”
Perempuan itu menjawab, “Tidak ada seorang pun, wahai Tuan.”
Nabi Isa AS berkata, “Aku pun tidak akan menghukummu. Pergilah dan jangan mengulangi kesalahanmu lagi!”
Betapa agung sikap dan jawaban Nabi Isa AS: siapa di antara kalian yang tidak mempunyai dosa, hendaklah ia melemparkan batu terlebih dahulu!
Sungguh, ini adalah nasihat yang sangat mendalam. Siapakah di antara kita yang benar-benar terbebas dari dosa? Siapakah yang tidak pernah melakukan kesalahan?
Melalui nasihat tersebut, Nabi Isa AS mengajak orang-orang yang menghakimi perempuan itu untuk terlebih dahulu memeriksa diri mereka sendiri.
Sebelum menjatuhkan penilaian kepada orang lain, mereka seharusnya memastikan apakah diri mereka benar-benar bersih dari dosa.
Karena itu, marilah kita mengoreksi diri sebelum mengoreksi orang lain. Hitunglah dosa-dosa kita sebelum menghitung dosa orang lain.
Perbaikilah kesalahan diri sendiri sebelum sibuk memperbaiki kesalahan sesama.
Seandainya kita memperlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan, niscaya kita akan lebih berhati-hati dalam menghakimi mereka.
Jangan hanya melihat kekurangan orang lain, tetapi ingatlah pula kekurangan diri sendiri dan betapa Allah telah menutupi aib kita.
Seandainya Allah tidak menutupi aib-aib kita, mungkin kita akan merasa malu untuk saling menatap wajah satu sama lain.
Karena itu, Nabi Isa AS berkata:
“Berbahagialah orang yang menangis ketika mengingat dosanya, menjaga lisannya, dan merasa cukup berada di rumahnya. Berbahagialah mata yang terpejam dalam tidur tanpa membisikkan keinginan untuk berbuat maksiat, lalu terbangun tanpa membawa dosa.”
Orang yang benar-benar berbahagia adalah mereka yang sibuk memperbaiki kekurangan dirinya dan meninggalkan kekurangan orang lain sebagai bahan gunjingan.
Ketiga, jangan terlalu banyak berbicara tanpa mengingat Allah, karena hal Itu dapat mengeraskan hati
Nabi Isa AS berpesan kepada para pengikut setianya, kaum Hawariyyun:
“Janganlah kalian terlalu banyak berbicara tanpa mengingat Allah, karena hal itu akan membuat hati kalian menjadi keras. Sesungguhnya, hati yang keras jauh dari Allah, tetapi kalian tidak menyadarinya.”
Marilah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah kita termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, atau justru lebih sering membicarakan dunia dan manusia?
Rasulullah SAW bersabda:
“Perumpamaan orang yang mengingat Tuhannya dan orang yang tidak mengingat-Nya adalah seperti orang hidup dan orang mati.”
Sebagian ulama salaf berkata:
“Sungguh merugi orang-orang yang hidup di dunia. Mereka meninggalkannya tanpa pernah merasakan kenikmatan paling lezat yang ada di dalamnya.”
Ada yang bertanya, “Apakah kenikmatan paling lezat itu?”
Ia menjawab, “Mencintai Allah SWT, mengenal-Nya, dan mengingat-Nya.”
Lihatlah, betapa banyak orang pada zaman sekarang yang lisannya fasih membicarakan berbagai hal, tetapi hampir tidak pernah digunakan untuk mengingat Allah dan perkara-perkara yang mendekatkan diri kepada-Nya.
Betapa banyak hati yang masih berdetak, tetapi sejatinya telah kosong. Debu kelalaian menutupinya, sementara karat dan kekerasan hati memenuhi sudut-sudutnya.
Betapa banyak manusia berjalan di muka bumi, tetapi kehidupannya justru semakin menjauh dari Tuhannya. Mereka berusaha mendekat kepada setiap makhluk, tetapi menjauh dari Allah, Sang Pencipta. Mereka mengingat banyak makhluk, tetapi melupakan Sang Khalik,(rep)