RADARPEKANBARU.COM - Banyak perbincangan dan perdebatan intelektual mengenai kisah awal penciptaan, termasuk bagaimana Allah SWT menciptakan manusia pertama, Adam AS.
Alquran dan hadis sahih menjadi sumber utama untuk memahami kisah penciptaan tersebut secara benar.
Salah satu persoalan yang kerap menimbulkan perbedaan pandangan adalah riwayat tentang penciptaan Hawa dari tulang rusuk Adam AS.
Bahkan, ada anggapan bahwa karena diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok, perempuan memiliki kedudukan lebih rendah daripada laki-laki.
Klaim semacam ini kemudian digunakan untuk merendahkan Hawa AS dan kaum perempuan secara umum.
Lantas, benarkah anggapan tersebut? Apa saja dalil yang digunakan untuk mendukungnya?
Syekh Muhammad ash-Salabi, menjelaskan persoalan ini dalam laman resminya, dikutip Jumat (9/10/2026).
Allah SWT berfirman kepada Adam AS:
“Wahai Adam, tinggallah engkau bersama istrimu di surga.” (QS Al-Baqarah 22: 35).
Ayat tersebut menunjukkan bahwa Adam telah mengenal makhluk perempuan bernama Hawa sebagai istrinya. Pada saat itu, tidak ada perempuan lain di surga selain Hawa.
Adapun malaikat tidak digambarkan sebagai makhluk berjenis kelamin laki-laki atau perempuan, sedangkan Iblis termasuk golongan jin.
Dalam ayat tersebut, Allah SWT memasukkan Hawa ke dalam firman-Nya yang ditujukan kepada Adam. Hawa disebut demikian karena ia merupakan ibu seluruh manusia.
Allah SWT juga menjelaskan bahwa penciptaan makhluk-Nya berlangsung berpasang-pasangan. Dalam Alquran, Allah berfirman:
“Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam) dan Dia menciptakan darinya pasangannya (Hawa). Dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.” (QS An-Nisa’ 44: 1).
Syekh Muhammad Mutawalli asy-Sya‘rawi dalam Qishash al-Anbiy?’ menjelaskan bahwa seandainya Hawa merupakan bagian tubuh Adam, Alquran akan menggunakan ungkapan ja‘ala minha zawjaha (menjadikan pasangannya dari bagian dirinya).
Menurutnya, kata ja‘ala dapat menunjukkan tindakan mengambil sebagian dari suatu bahan, kemudian membentuknya sesuai kehendak. Allah SWT adalah pemilik dan penguasa seluruh alam semesta.
Asy-Sya‘rawi kemudian menjelaskan bahwa Hawa diciptakan sebagaimana Adam diciptakan. Sebagaimana Allah menjelaskan bahwa Adam diciptakan dari tanah liat, demikian pula Hawa diciptakan oleh Allah SWT.
Sementara itu, Dr Salah al-Khali di dalam Sirat ?dam ‘Alaihi as-Sal?m menjelaskan bahwa sebagian ulama tafsir berpendapat Hawa diciptakan dari diri Adam.
Mereka mendasarkan pandangan tersebut pada makna lahiriah firman Allah SWT, “wa khalaqa minha zawjaha” (dan Dia menciptakan darinya pasangannya).
Menurut mereka, kata min menunjukkan sebagian dari sesuatu. Dalam konteks ini, Hawa dipahami diciptakan dari sebagian tubuh Adam, yakni tulang rusuknya.
Namun, al-Khalidi tidak memandang ayat tersebut sebagai dalil yang menunjukkan bahwa Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam. Menurutnya, ayat itu berbicara tentang kemuliaan yang diberikan Allah kepada laki-laki dan perempuan sekaligus.
Allah menjelaskan bahwa seluruh manusia diciptakan dari nafsin wahidah (diri yang satu). Dari diri yang satu itu, Allah menciptakan pasangannya.
Yang dimaksud dengan nafsin wahidah dalam pandangan al-Khalidi bukanlah Adam secara khusus, melainkan hakikat kemanusiaan yang menjadi asal penciptaan laki-laki dan perempuan.
Hakikat manusia tersebut mencakup unsur materi dan ruh, serta keseluruhan aspek kemanusiaan: organ tubuh, perasaan, emosi, karakter, sifat, naluri, keinginan, harapan, cita-cita, hati, ruh, cara pandang, pemikiran, dan imajinasi.
Dari hakikat kemanusiaan yang satu itu, Allah menciptakan laki-laki terlebih dahulu, kemudian perempuan.(rep)