RADARPEKANBARU.COM - Ketegangan di Timur Tengah kembali mengancam jalur pasokan minyak global setelah Arab Saudi menutup sementara jalur pipa minyak mentah Timur-Barat menyusul serangkaian serangan drone dari Irak.
Jalur pipa Timur-Barat menjadi salah satu infrastruktur penting Arab Saudi karena memungkinkan kerajaan mengalihkan pengiriman minyak mentah dari kawasan Teluk Persia menuju terminal ekspor di Laut Merah. Pipa tersebut memiliki kapasitas hingga 7 juta barel per hari.
Kementerian Energi Arab Saudi mengatakan pada Jumat, 11 September 2026, serangan drone pada Kamis pagi menargetkan jalur pipa di wilayah Riyadh dan Madinah. Serangan tersebut memicu kebakaran dan menyebabkan sejumlah kerusakan, sementara beberapa orang dilaporkan terluka.
Tim darurat kemudian dikerahkan untuk mengamankan jalur pipa dan memeriksa kondisinya.
"Perkembangan lebih lanjut akan diumumkan pada waktunya," kata Kementerian Energi Saudi, dikutip dari CNBC International.
Penutupan pipa terjadi ketika Arab Saudi menghadapi tekanan keamanan yang semakin besar. Riyadh untuk sementara memilih tidak melakukan pembalasan dan memberikan waktu kepada pemerintah Irak untuk mengambil langkah guna mencegah serangan yang berasal dari wilayahnya.
Gangguan terhadap jalur pipa ini menjadi perhatian pasar minyak karena terjadi ketika harga minyak dunia baru saja menembus 100 Dolar AS per barel untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan. Harga minyak bahkan mengakhiri pekan dengan kenaikan lebih dari 8 persen seiring meningkatnya konflik di Timur Tengah.
CEO Saudi Aramco Amin Nasser sebelumnya mengatakan jalur pipa Timur-Barat memiliki peran penting dalam mengurangi gangguan pasokan minyak akibat perang Iran. Menurutnya, peran jalur tersebut bahkan lebih besar dibandingkan pelepasan cadangan minyak mentah darurat.(rml)