Radarpekanbaru.com — Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga (Disparbudpora) Kabupaten Bengkalis resmi mengumumkan sekaligus menetapkan para pemenang Lomba Budaya Lampu Colok Tahun 2026, Rabu, 15 April 2026, dengan dukungan penuh dari sponsor utama.
Kegiatan tahunan yang menjadi ikon budaya masyarakat Bengkalis ini kembali menyedot perhatian publik. Tradisi lampu colok pada malam 27 Ramadhan 1447 H tidak hanya menghadirkan nuansa religius, tetapi juga menampilkan kreativitas tinggi dari masyarakat desa dalam merancang instalasi lampu yang indah dan bernilai seni.
Dalam pelaksanaannya, Disparbudpora Bengkalis menggandeng PT. Bank Riau Kepri Syariah (Perseroda) sebagai sponsor utama yang memberikan dukungan hadiah kepada para pemenang. Kolaborasi ini dinilai menjadi bentuk nyata sinergi antara pemerintah daerah dan dunia usaha dalam melestarikan budaya lokal.
Kepala Disparbudpora Bengkalis, Edi Sakura, menegaskan bahwa dukungan sponsor menjadi dorongan penting dalam meningkatkan kualitas dan semangat kompetisi.
“Dengan adanya dukungan dari pihak sponsor, tentu ini menjadi motivasi tambahan bagi masyarakat untuk terus berinovasi dan menjaga tradisi lampu colok agar tetap hidup dan berkembang,” ujarnya pada Jumat 17 April 2026.
Berdasarkan hasil penilaian dewan juri, berikut daftar pemenang beserta hadiah yang berhasil diraih:
Daftar Pemenang dan Hadiah:
* Juara I: Desa Pangkalan Batang Barat, Dusun Kampung Parit — Rp 15.000.000
* Juara II: Desa Pangkalan Batang, Dusun Pahlawan — Rp 13.000.000
* Juara III: Dusun Sukajadi, Jl. Utama Pangkalan Batang — Rp 11.000.000
* Juara IV: Desa Lubuk Muda, Dusun Melati — Rp 9.000.000
* Juara V: Desa Pangkalan Batang Barat, Dusun Karya Bhakti — Rp 8.000.000
* Juara VI: Desa Penampi, Jl. Utama — Rp 7.000.000
Total hadiah yang dikucurkan mencapai puluhan juta rupiah, menjadikan ajang ini tidak hanya sebagai pelestarian budaya, tetapi juga bentuk apresiasi nyata kepada masyarakat.
Edi Sakura Bengkalis berharap, ke depan kegiatan lampu colok dapat terus dikembangkan secara lebih profesional dan terkonsep, sehingga mampu menjadi daya tarik wisata religi unggulan yang berdampak langsung pada ekonomi masyarakat.
“Ini bukan hanya lomba, tapi bagian dari upaya membangun identitas daerah sekaligus peluang ekonomi berbasis budaya,” tutup.(DESI)